usk pecah telur rina oktari disebut jadi perempuan pertama yang duduk di kursi wakil rektor - News | Good News From Indonesia 2026

USK Pecah Telur: Rina Oktari Disebut Jadi Perempuan Pertama yang Duduk di Kursi Wakil Rektor

USK Pecah Telur: Rina Oktari Disebut Jadi Perempuan Pertama yang Duduk di Kursi Wakil Rektor
images info

USK Pecah Telur: Rina Oktari Disebut Jadi Perempuan Pertama yang Duduk di Kursi Wakil Rektor


“Saya memilih Ibu Rina karena perhatian beliau terhadap edukasi, kelulusan mahasiswa, dan prestasi mahasiswa sangat besar. Seorang ibu pasti mampu menjaga anak-anaknya, meskipun jumlahnya sangat banyak,” kata Rektor USK Prof. Mirza Tabrani saat pelantikan.

Dr. Rina Suryani Oktari adalah satu dari empat wakil rektor yang dilantik pada Selasa, 13 Mei 2026. Ia dinilai sangat berdedikasi sehingga disebut pantas jadi wakil rektor. Rina dilantik sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan untuk periode 2026–2031.

Yang menarik, kehadiran Rina di kursi jajaran rektorat menempatkannya sebagai perempuan pertama yang jadi wakil rektor di Universitas Syiah Kuala.

“Menurutnya, kehadiran Dr. Rina Suryani Oktari menjadi catatan sejarah baru bagi USK sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan Wakil Rektor,” demikian pernyataan resmi kampus saat pelantikan.

baca juga

Tumbuh Bersama Trauma Besar Aceh

Rina tumbuh dengan menyimpan pengalaman saat bencana Aceh 2024. Kariernya dibentuk dari lapangan, terutama setelah tsunami 2004 silam.

Dalam profil profesionalnya, disebutkan bahwa ia mulai akrab dengan dunia manajemen bencana ketika terlibat dalam respons dan pemulihan tsunami Aceh.

Pengalaman itu kemudian membawanya bekerja di berbagai lembaga kemanusiaan dan internasional. Ia pernah menjadi Health Officer di Islamic Relief Worldwide pada 2005–2008. Setelah itu, ia menjadi Research Assistant di United Nations Office of the Recovery Coordinator (UNORC), lalu terlibat di UNESCO.

Karier tersebut memperlihatkan bahwa jalur profesional Rina tidak sepenuhnya bertumbuh dari bidang akademik. Malahan ia banyak ditempa dari pengalaman menghadapi krisis kemanusiaan.

Hal itu pula yang membuat bidang risetnya berkembang ke isu pendidikan kebencanaan, kesehatan bencana, sistem peringatan dini, perubahan iklim, hingga ketahanan masyarakat.

baca juga

Latar Pendidikan: dari Keperawatan hingga Diakui Dunia

Latar pendidikan Rina juga menunjukkan perjalanan yang tidak pendek.

Rina menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan di Universitas Indonesia pada 2005. Ia kemudian mengambil Sarjana Keperawatan di Universitas Syiah Kuala pada 2006 lalu melanjutkan studi Magister Disaster Management di kampus yang sama pada 2011. Rina menyelesaikan pendidikan di USK hingga meraih gelar doktor bidang Disaster Science pada 2021.

Disaster Science atau ilmu kebencanaan adalah bidang yang mempelajari cara memahami, mengurangi, dan menangani dampak bencana. Bidang ini menggabungkan ilmu kesehatan, sosial, lingkungan, teknologi, hingga kebijakan publik.

Rina juga pernah menjadi alumnus Pan Asia Risk Reduction Fellowship Program di Kyoto University, Jepang. Program itu dikenal fokus pada pengurangan risiko bencana di kawasan Asia.

Pada 2019, ia mendapat pengakuan internasional sebagai Young Scientist of the Integrated Research on Disaster Risk (IRDR). Penghargaan itu diberikan kepada ilmuwan muda yang dinilai berkontribusi dalam pengembangan riset risiko bencana dunia.

Tidak banyak akademisi Indonesia yang mendapat pengakuan tersebut.

baca juga

Perempuan Aceh di Jaringan Riset Global

Nama Rina juga cukup dikenal di jaringan internasional bidang kebencanaan.

Saat ini ia tercatat sebagai Associate Editor International Journal of Disaster Risk Reduction (IJDRR) milik Elsevier sejak 2023. IJDRR merupakan jurnal internasional bereputasi yang banyak menjadi rujukan penelitian kebencanaan dunia.

Selain itu, ia juga aktif di berbagai organisasi dan jejaring internasional seperti Inter-agency Network for Education in Emergencies (INEE) serta Indonesian Association of Disaster Experts (IABI).

Rina juga terlibat dalam berbagai riset internasional bersama kampus dunia seperti University of Pittsburgh, University College London, Griffith University, Colorado University, hingga Copenhagen University.

Beberapa proyek riset yang pernah dan sedang ia kerjakan berasal dari lembaga internasional seperti WHO Kobe Jepang, Newton Fund Inggris, hingga USAID Amerika Serikat.

Posisi Rina sebagai perempuan cukup menarik dan strategis saat bidang sains dan kebencanaan didominasi oleh akademisi laki-laki. Ia bukan hanya aktif sebagai peneliti, tetapi juga membangun jejaring global dari Aceh.

baca juga

Sosok Dosen yang Dekat dengan Mahasiswa

Meski punya aktivitas internasional yang panjang, citra Rina di lingkungan kampus banyak muncul lewat kedekatannya dengan mahasiswa.

Salah satu rekomendasi mahasiswa bernama Zaid Zafril Alif menggambarkan hal itu.

“Ibu Okta sangat senang dengan mahasiswa. Pada saat itu beliau sedang memberikan motivasi dan semangat kepada mahasiswa FMIPA USK untuk ikut serta dalam program PKM,” tulis Zaid dalam rekomendasinya di LinkedIn.

PKM atau Program Kreativitas Mahasiswa adalah program kompetisi nasional Kemendikbud yang menjadi salah satu tolok ukur prestasi mahasiswa Indonesia.

Di level kampus, dosen yang aktif mendorong mahasiswa ikut PKM biasanya dianggap penting. Sebab, kompetisi itu tidak mudah dan membutuhkan pendampingan intensif.

Jejak pembimbingan Rina juga cukup panjang. Dalam data akademiknya, ia tercatat telah membimbing puluhan mahasiswa sarjana, magister, hingga doktoral.

baca juga

Jabatan Baru, Tantangan Baru

Kini tantangan Rina jauh lebih besar.

Sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan, ia bukan hanya mengurus kegiatan mahasiswa. Ia akan berhadapan dengan isu kesehatan mental mahasiswa, kesiapan kerja lulusan, angka putus kuliah, kewirausahaan muda, hingga daya saing mahasiswa di tingkat nasional dan internasional.

USK sendiri sedang menargetkan peningkatan internasionalisasi kampus. Rektor Prof. Mirza menegaskan bahwa jumlah mahasiswa asing ditargetkan meningkat menjadi 300 orang.

“Kita ingin jumlah mahasiswa asing meningkat menjadi 300 orang. Ini penting untuk memperkuat IKU dan meningkatkan kualitas akademik USK,” kata Prof. Mirza.

IKU yang dimaksud adalah Indikator Kinerja Utama, yakni ukuran capaian perguruan tinggi yang digunakan pemerintah untuk menilai kualitas kampus. Salah satu indikatornya berkaitan dengan kualitas lulusan, kolaborasi internasional, dan aktivitas mahasiswa.

Dalam konteks itu, posisi Rina menjadi strategis.

Apalagi selama ini ia banyak bekerja di isu ketahanan masyarakat dan pendidikan berbasis krisis. Pengalaman tersebut bisa relevan untuk menghadapi tantangan mahasiswa masa kini yang semakin kompleks.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.