cerita agus affianto dosen ugm yang rehabilitasi lahan bekas tambang rumput saja butuh 20 tahun tak bisa instan - News | Good News From Indonesia 2026

Cerita Agus Affianto, Dosen UGM yang Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang: Rumput Saja Butuh 20 Tahun, Tak Bisa Instan

Cerita Agus Affianto, Dosen UGM yang Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang: Rumput Saja Butuh 20 Tahun, Tak Bisa Instan
images info

Cerita Agus Affianto, Dosen UGM yang Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang: Rumput Saja Butuh 20 Tahun, Tak Bisa Instan


“Rumput saja membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk dapat tumbuh secara alami,” kata Agus Affianto, dosen Fakultas Kehutanan UGM, Rabu (8/4).

Kementerian ESDM mencatat hingga Juni 2025, realisasi reklamasi sudah mencapai 5.739,39 hektare. Angka itu setara 80,43% dari target tahunan 7.135 hektare. Sekilas terlihat seperti progres yang meyakinkan, seolah-olah lahan yang rusak bisa dipulihkan dengan mudah.

Padahal, fakta di lapangan, ceritanya tidak sesederhana itu.

Di salah satu kawasan bekas tambang timah di Belitung Timur, tanahnya bahkan belum bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Bukan sekadar tandus, tapi hampir kehilangan kemampuan dasar untuk menopang kehidupan.

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa rumput saja membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk bisa tumbuh secara alami di sana. Informasi ini yang kemudian juga dikutip oleh Agus Affianto atau yang kerap disapa Picoez, dosen Fakultas Kehutanan UGM, saat menceritakan pengalamannya mendampingi proses rehabilitasi di wilayah tersebut.

Masalahnya bukan hanya soal waktu. Struktur tanah di area tailing—yaitu sisa pasir hasil tambang—tidak mampu menyerap air dengan baik. Akibatnya, setiap kali hujan turun, tanah justru menjadi lebih asam. Kondisi ini membuat tanaman semakin sulit bertahan.

Di sisi lain, suhu permukaan pasir bisa mencapai 62,4 derajat Celcius bahkan sebelum tengah hari. Kombinasi panas ekstrem dan minimnya kemampuan tanah menyimpan air membuat upaya penanaman langsung hampir mustahil dilakukan secara efektif.

Oleh karenanya, pendekatan konvensional jelas tidak cukup. Menanam tanpa mengubah kondisi dasar tanah hanya akan berakhir pada kegagalan berulang.

Karena itu, tim Agus saat mendampingi proses rehabilitasi tidak memulai dari tanahnya, melainkan dari media tanamnya.

baca juga

Mereka mengembangkan metode kompos blok, yaitu bahan organik seperti kotoran hewan yang telah difermentasi, lalu dipadatkan menjadi media tanam awal.

Fungsi kompos blok ini adalah membantu menyimpan kelembapan dan menyediakan nutrisi yang sebelumnya tidak dimiliki oleh tanah di lokasi tersebut. Agus menjelaskan bahwa kompos ini digunakan sebagai pijakan awal agar tanaman setidaknya memiliki peluang untuk hidup.

Dari situ, tanaman mulai diperkenalkan secara bertahap. Jenis yang dipilih bukan tanaman yang manja. Buah naga, kelengkeng, cemara, dan jambu menjadi pilihan karena relatif lebih tahan terhadap kondisi ekstrem. Namun target awalnya bukan panen atau hasil ekonomi. Fokus utamanya adalah untuk memastikan tanaman tidak mati.

baca juga

Tahapan Rehabilitasi Tanah Bekas Tambang

Proses rehabilitasi tanah bekas aktivitas tambang ini berjalan dalam beberapa tahap yang tidak bisa dilompati.

Tahap pertama adalah memastikan tanaman bisa bertahan hidup dengan bantuan kompos blok. Setelah itu, dilakukan pemantauan intensif untuk menjaga kelembapan dan kondisi tanaman, termasuk dengan cara-cara sederhana seperti membungkus batang menggunakan potongan batang pisang saat musim kemarau.

Tahap berikutnya baru masuk ke peningkatan kualitas tanaman melalui pemupukan yang tepat. Dan pada tahap terakhir, tanaman diharapkan mulai memberikan manfaat, baik dalam bentuk hasil panen maupun kontribusi terhadap ekosistem.

Agus menegaskan bahwa seluruh proses ini tidak bisa dipercepat secara instan. Kondisi ekstrem menuntut pendekatan yang juga tidak biasa, sekaligus kesabaran dalam jangka panjang. Dalam banyak kasus, kegagalan justru menjadi bagian dari proses belajar yang tidak terhindarkan.

baca juga

Di luar aspek teknis, ada hal lain yang tidak kalah penting dan sering terlewat, yaitu kondisi masyarakat di sekitar lokasi. Di Belitung Timur, sebagian besar warga terbiasa bekerja di sektor tambang timah. Mengajak mereka beralih ke kegiatan rehabilitasi bukan perkara mudah. Ada perubahan cara pandang dan juga pertimbangan ekonomi yang harus dijawab.

Secara alami, kawasan bekas tambang sebenarnya memiliki peluang untuk pulih kembali menjadi hutan. Namun proses tersebut bisa memakan waktu puluhan tahun. Intervensi manusia dalam konteks ini bukan untuk menggantikan peran alam, melainkan untuk mempercepat proses pemulihan tersebut melalui pendekatan yang lebih terencana.

Agus menyebut bahwa apa yang mereka lakukan pada dasarnya adalah membantu alam untuk memperbaiki dirinya sendiri dengan waktu yang lebih singkat.

Model rehabilitasi ini bahkan mulai diadaptasi di wilayah lain dengan kondisi serupa. Meski tidak selalu berjalan dengan intensitas yang sama, pendekatan ini membuktikan bahwa lahan ekstrem tetap memiliki peluang untuk dipulihkan, selama metode yang digunakan sesuai dan prosesnya dijalankan dengan konsisten.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.