Federasi Manufaktur Singapura (SMF) mendorong perusahaan-perusahaan di sektor alat kesehatan dan elektronik untuk memperluas ekspansi bisnis mereka ke kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).
Langkah ini merupakan bagian dari upaya penguatan konektivitas industri dan pelabuhan antara Singapura dan Indonesia.
Singapura sendiri telah mengukuhkan posisinya sebagai investor asing terbesar di Batam dengan nilai investasi mencapai S$ 617,3 juta atau setara Rp8,08 triliun pada semester pertama tahun lalu.
Kawasan BBK saat ini memiliki lima Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menawarkan berbagai insentif pajak serta kemudahan perizinan bagi investor asing.
Dalam kemitraan ini, pelaku usaha menerapkan strategi "twinning" di mana kantor pusat serta fasilitas riset tetap berada di Singapura, sementara proses manufaktur skala besar dialihkan ke Batam dan sekitarnya.
Hal ini dilakukan guna mendapatkan efisiensi biaya lahan, tenaga kerja, serta utilitas yang lebih kompetitif dibandingkan di Singapura.
Kerja sama ekonomi dalam konsep segitiga pertumbuhan Singapura-Johor-Riau yang diinisiasi sejak 1989 dinilai masih sangat relevan hingga saat ini.
Keunggulan manajemen dan teknologi Singapura dipadukan dengan ketersediaan sumber daya serta lahan di Kepulauan Riau menciptakan ekosistem industri yang tangguh.
Selain manufaktur, sektor lain seperti logistik, teknologi informasi, hingga pusat data juga terus menunjukkan pertumbuhan positif di kawasan strategis tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


