tiga terobosan fisika kuantum pekan ini dari magic state google hingga molekul tunggal yang stabil - News | Good News From Indonesia 2026

Tiga Terobosan Fisika Kuantum Pekan Ini: Dari “Magic State” Google hingga Molekul Tunggal yang Stabil

Tiga Terobosan Fisika Kuantum Pekan Ini: Dari “Magic State” Google hingga Molekul Tunggal yang Stabil
images info

Fisika Kuantum | Foto: AI (Artificial Intelligence)


Kawan, komputer kuantum sering terdengar seperti teknologi masa depan yang tak kunjung tiba. Namun, pekan ini tiga kelompok peneliti melaporkan kemajuan yang membuat gambaran itu terasa sedikit lebih dekat. Ketiganya berbeda cara dan skala, tetapi sama-sama menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana menjaga dunia kuantum yang rapuh agar bisa dimanfaatkan.

1. Google dan Masalah “Magic State”

Komputer kuantum bekerja dengan qubit yang sangat mudah terganggu. Karena itu, perhitungan harus dilindungi dengan koreksi galat. Persoalannya, untuk menjalankan operasi tertentu, komputer membutuhkan sumber daya khusus bernama magic state (disebut juga T-state).

Sumber daya ini habis setiap kali dipakai, sehingga komputer terus-menerus harus memproduksinya. Sejumlah perkiraan menyebut sebanyak 95 persen kapasitas mesin bisa terserap hanya untuk membuat magic state.

Pada 15 Oktober 2026, tim Google Quantum AI yang dipimpin Emma Rosenfeld dan Craig Gidney menerbitkan hasil eksperimen di jurnal Science. Mereka menguji teknik magic state cultivation, yang diusulkan pada 2024, di prosesor Willow dengan 105 qubit superkonduktor. Teknik ini bekerja seperti saringan: “menumbuhkan” state berkualitas tinggi di area kecil pada chip, lalu membuang percobaan yang cacat.

baca juga

Hasilnya, galat pada persiapan state turun sekitar 40 kali lipat dibanding state yang disiapkan tanpa teknik tersebut, dengan fidelitas logis 99,99 persen. Tim juga memindahkan state hasil “budidaya” dari satu kode koreksi galat ke kode lain, sebuah langkah penting agar state itu benar-benar bisa dipakai.

Namun, Kawan perlu membaca hasil ini secara proporsional. Angka 40 kali lipat berlaku untuk tugas persiapan state, bukan peningkatan kinerja seluruh prosesor. Fidelitas 99,99 persen hanya berlaku untuk percobaan yang lolos seleksi.

Dalam uji penyimpanan, tingkat galat logis juga sekitar tujuh kali lebih tinggi dari prediksi simulasi. Para penulis sendiri menyatakan teknik ini masih harus ditunjukkan pada skala yang lebih besar. Media The Quantum Insider menyebutnya sebagai kemajuan inkremental yang penting menuju komputasi kuantum yang praktis.

2. Molekul Tunggal yang Menjaga Sifat Kuantumnya

Temuan kedua datang dari Max Planck Institute for the Science of Light di Jerman. Tim yang dipimpin Prof. Vahid Sandoghdar melaporkan di jurnal Science bahwa untuk pertama kalinya satu molekul yang menempel pada permukaan mencapai Fourier limit, yaitu batas koherensi optik teoretis. Sederhananya, molekul itu mempertahankan sifat kuantumnya selama yang diizinkan hukum fisika.

baca juga

Selama ini, gangguan dari lingkungan bisa membuat koherensi hilang ratusan hingga ribuan kali lebih cepat dari batas tersebut. Para peneliti mengatasinya dengan membersihkan kristal organik melalui sublimasi di dalam kriostat, yakni ruang vakum bersuhu sangat rendah. Setelah itu, kristal didinginkan hingga beberapa derajat Kelvin di atas nol mutlak, lalu molekul diuapkan dari oven kecil dan menempel di permukaannya.

Mengapa ini penting? Pemancar kuantum yang stabil di permukaan berpotensi dipakai untuk komputasi dan komunikasi kuantum yang aman. Permukaan juga memungkinkan molekul individu diatur dengan sonde ujung tajam seperti STM dan AFM. Tim berencana menggabungkan metode ini dengan kedua alat tersebut agar kontrol bisa mencapai skala nanometer.

3. “Fractional Fermi Sea”: Keadaan Kuantum yang Teratur di Tengah Kekacauan

Temuan ketiga lebih bersifat fundamental. Tim Universitas Innsbruck yang dipimpin Hanns-Christoph Nägerl, bersama fisikawan teoretis Alvise Bastianello dari CNRS dan Université Paris-Dauphine, mempelajari atom sesium ultradingin dalam sistem satu dimensi. Dengan mengubah interaksi antaratom secara bergantian antara tolakan dan tarikan yang kuat, mereka menunjukkan lewat perhitungan bahwa sistem dapat didorong ke keadaan sangat tereksitasi tanpa kehilangan keteraturan internalnya.

Keadaan ini dinamai fractional Fermi sea. Pola korelasinya berbeda dari prediksi teori standar Tomonaga-Luttinger liquid, sehingga mengisyaratkan perilaku kuantum yang belum banyak dijelaskan. Kerangka teoretisnya terbit di Physical Review Letters, sedangkan studi eksperimen pendampingnya masih menjalani tinjauan sejawat. Artinya, kesimpulannya perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

baca juga

Temuan ini memang belum punya aplikasi langsung. Namun, ia menunjukkan bahwa simulasi kuantum bisa dipakai untuk menciptakan dan mempelajari keadaan materi baru, bukan hanya meniru model yang sudah ada.

Apa Artinya bagi Kita?

Ketiga penelitian ini mengisi bagian berbeda dari satu teka-teki: menjaga qubit agar akurat (Google), menemukan pemancar kuantum yang stabil (Max Planck), dan memahami materi kuantum itu sendiri (Innsbruck). Tidak satu pun dari mereka membuat komputer kuantum yang berguna esok hari. Meski begitu, kemajuan beruntun seperti ini menunjukkan bahwa hambatan teknis perlahan dipecahkan satu per satu.

Bagi Indonesia, perkembangan ini patut diikuti, terutama bagi mahasiswa dan peneliti fisika, rekayasa, serta keamanan siber. Teknologi kuantum akan memengaruhi cara kita menghitung, berkomunikasi, dan melindungi data. Mulai belajar dasarnya sekarang jauh lebih murah daripada mengejar ketertinggalan nanti.

Jadi, Kawan, mana dari ketiga temuan ini yang paling menarik perhatianmu?

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.