dari rak kain sampai mesin cetak industri tekstil lokal pelan pelan bangkit - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Rak Kain sampai Mesin Cetak, Industri Tekstil Lokal Pelan-Pelan Bangkit

Dari Rak Kain sampai Mesin Cetak, Industri Tekstil Lokal Pelan-Pelan Bangkit
images info

rak toko kain


Angka sering terasa membosankan. Namun satu angka dari dunia tekstil kuartal kedua tahun ini (2026) pantas dilirik, sebab sektor yang April lalu masih ramai dikeluhkan sepi pesanan itu ternyata melaju lebih cepat dari ekonomi nasional.

Ternyata Melaju Lebih Kencang daripada Ekonomi Nasional

Kuartal II 2026 ditutup dengan angka 6,36 persen untuk industri tekstil dan pakaian jadi, secara tahunan, menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Ekonomi nasional pada periode itu naik 5,29 persen. Setahun sebelumnya, sektor ini baru tumbuh 4,35 persen.

Penanaman modal ikut bergerak. Rp11,40 triliun masuk selama semester pertama 2026, dan bagian tekstilnya naik dari Rp6,05 triliun ke Rp6,78 triliun. Bagi sekitar 3,86 juta orang yang bekerja di sektor ini, kenaikan pesanan biasanya berarti jam kerja yang terisi penuh.

Pameran Besar dengan Wajah Lokal

Di Indo Intertex dan Inatex 2026, yang dibuka pertengahan April, 428 perusahaan tekstil dan produk tekstil ikut serta. Mayoritasnya perusahaan lokal, tepatnya 65 persen. Pengunjung lebih sering berhadapan dengan produsen dalam negeri daripada wakil merek luar.

Soal mesin, 60 persen peserta di segmen permesinan datang dari dalam negeri. Rantai kerja dari mesin sampai kain jadi tampak makin dikuasai pelaku lokal, setidaknya di ruang pamer itu, dan itu memberi pembeli lebih banyak tempat bertanya.

Dari Medan, Wastra Lokal Naik Panggung

Kabar baik lain datang dari Medan. Pada 23 sampai 26 Juli 2026, Bank Indonesia Sumatera Utara bersama Indonesia Fashion Chamber Chapter Medan menggelar Medan Fashion Trend 2026 di Delipark Mall.

Kegiatan itu melibatkan 163 desainer UMKM yang menampilkan 521 karya busana. Panitia berharap produk berbasis wastra Sumatera Utara makin sanggup bersaing di pasar nasional maupun global.

Bandung dan Peluang bagi Usaha Kecil

Di Bandung, pameran Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026 digelar awal September lalu. Pelaku usaha di sana menyebut permintaan cetak sesuai pesanan masih tinggi, terutama dari komunitas dan kegiatan olahraga yang memerlukan pakaian khusus.

Penyelenggara berharap pemilik distro, merek lokal, dan UMKM tak perlu lagi jauh-jauh ke Jakarta untuk memenuhi kebutuhan produksi. Soal bahan, tersedia pulaย  yang melayani pembelian grosir maupun eceran, sehingga pesanan puluhan potong pun masih bisa dikerjakan.

Tekanan Belum Sepenuhnya Hilang

Gambarannya belum merata. Akhir April lalu, Ketua Ikatan Pengusaha Konveksi Bandung, Nandi Herdiaman, bercerita bahwa pelanggan yang biasa memesan 100 potong kini kadang hanya 50 sampai 60. Harga produk impor yang lebih murah disebut ikut menggerus daya saing barang lokal.

Di hulu, pemasok serat dan benang masih berhadapan dengan rupiah yang lemah dan ketergantungan pada bahan baku impor. Pakaian jadi tumbuh karena pesanan naik, sedangkan hulunya belum mendapat dorongan setara, dan mungkin butuh beberapa kuartal sebelum pemulihan terasa menyeluruh, itu pun kalau rupiah dan harga bahan baku impor tidak kembali menekan seperti dalam beberapa bulan terakhir.

Membaca Angka 20s, 24s, dan 30s pada Kain Kaos

Bagi usaha kaos, pilihan bahan menentukan hasil akhir. Cotton combed dibuat dari serat kapas yang disisir sehingga benangnya lebih halus dan rata, dan angka 20s, 24s, atau 30s menunjukkan ukuran benang tersebut. Makin besar angkanya, makin halus serta tipis kainnya.

Kaos harian untuk cuaca panas biasanya memakai benang yang lebih halus. Kaos sablon yang butuh bentuk stabil sering memilih kain lebih tebal, walau selera tiap pemilik merek bisa berbeda. Karena itu, mencoba beberapa contoh kain lebih aman daripada mengandalkan angka di katalog saja.

Sisa Kain pun Bisa Menembus Paris

Dara Baro, UMKM fesyen berkelanjutan binaan Pertamina, memakai limbah perca sebagai bahan produk. Merek ini baru saja menerima undangan kurasi dari L'adresse Paris, platform fesyen Prancis yang dikenal ketat memilih merek.

Potongan kain yang biasanya menumpuk di sudut konveksi ternyata bisa punya nilai, asal diolah dengan ide yang jelas. Cara pandang itu juga relevan bagi usaha rumahan yang baru merintis.

Mulai dari Pesanan Kecil

Pemilik usaha baru sering bingung harus mulai dari mana. Datanglah keย , lihat dan raba langsung kainnya, lalu bandingkan beberapa ukuran ketebalan sebelum memutuskan membeli satu gulung untuk produksi pertama. Cara ini memakan waktu lebih lama, tetapi kesalahan pilih bahan di awal biasanya lebih mahal.

Ada hitungan sederhana yang jarang dibahas. Kain yang dibeli sesuai kebutuhan berarti sisa potongan lebih sedikit, dan sisa yang sedikit membuat usaha kecil lebih hemat tanpa harus menunggu harga bahan turun.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Sholeh lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Sholeh.

MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.