Jamak diketahui jika Artotel merupakan hotel dengan bangunan yang memiliki nuansa seni yang kuat. Di Artotel Wanasaba, nuansa itu hadir di antaranya lewat karya-karya Indo B. Satria.
Jika Kawan menyambangi Artotel Wanasaba yang berlokasi di Wonosobo, Jawa Tengah, di beberapa sudut gedung akan terlihat sejumlah lukisan yang terpajang di dinding. Nah, di antara lukisan-lukisan tersebut, terdapat karya dari Indo B. Satria.
Sebagai seorang seniman lukis dan perupa kontemporer, Indo mempersembahkan karyanya untuk dinikmati para pengunjung Artotel Wanasaba lantaran ia bekerja sama dengan hotel bintang 4 pertama di Wonosobo tersebut. Salah satu karyanya adalah lukisan berjudul "The Window of Serene Absurdity" yang terpasang di lantai mezzanine, tepatnya diΒ Artspace, tempat yang memang disediakan Artotel Wanasaba sebagai ruang berkesenian.
Kepada awak media termasukΒ GNFI pada Rabu, 14 Oktober 2026, Indo berbagi cerita tentang karya tersebut. Ia menjelaskan jika "The Window of Serene Absurdity" pada dasarnya adalah lukisan yang menggambarkan realitas hari ini yang sedemikian absurd.
"Lalu dari realitas yang absurd itu bagaimana saya membacanya dan cara melewatinya dengan cara menganggap itu sebagai potongan-potongan komposisi penyusun kehidupan saja," ujarnya.
Untuk menghasilkan "The Window of Serene Absurdity", Indo mengaku membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Dengan telaten, tangan terampilnya menggoreskan kuas di atas linen hingga terciptalah sebuah lukisan yang memperkuat jiwa artistik di Artotel Wanasaba itu.
"Proses melukisnya itu mungkin sekitar kurang lebih satu bulan kurang. Untuk medianya saya memakai linen, Mbak. Linen diΒ acrylic on linen. Jadi pakai cat akrilik lalu saya tuangkan ke media linen," paparnya.
Lebih lanjut lagi, Indo menjelaskan jika ia ingin membawa pengunjung Artotel Wanasaba merasakan apa yang disebut dengan "pengalaman estetis formalis" lewat "The Window of Serene Absurdity". Adapun estetis formalis pada dasarnya adalah pendekatan dalam seni yang menilai keindahan suatu karya berdasarkan bentuk fisiknya, bukan pada makna, pesan, atau sejarah di baliknya.
Indo mempersilakan pengunjung untuk memaknai karyanya secara bebas. Baginya, setiap orang bisa datang dan melihat karyanya dengan membawa perasaan yang berbeda-beda, seperti rasa sedih atau senang. Nah, di sini Indo mempersilakan orang memaknai karyanya sesuai dengan perasaan tersebut.
"Rasanya sebagai seniman saya lebih menyenangkan dibaca oleh audiens seperti itu," paparnya.
Selain di lantai mezzanine, ada pula karya Indo yang juga terpampang di sudut lain Artotel Wanasaba. Bahkan, salah satunya terdapat di kamar tipeΒ Grand Suite. Kebetulan, wawancara GNFI dengan Indo dilakukan di kamar tersebut sehingga ia pun berkesempatan untuk menunjukkan langsung karyanya.

Berkarya di Artotel Wanasaba dengan Kebebasan
Ada satu kesamaan antara Artotel dengan Indo: keduanya sama-sama punya jiwa artistik yang kuat.
Saat Artotel meluapkan jiwa artistiknya lewat hotel-hotel yang dikelolanya, Indo membawa jiwa artistik dalam dirinya dalam jalan hidupnya. Bermula dari hobi menggambar, pria asal Yogyakarta itu mengasah bakatnya di Sekolah Menengah Seni Rupa dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat Indo sudah mantap berkiprah sebagai seniman, tawaran untuk berkolaborasi dengan Artotel pun datang.
Artotel Wanasaba memberi pengalaman baru bagi dirinya yang selama ini terbiasa memamerkan karya di galeri maupun acara pameran. Bagi Indo, ini adalah kali pertama ia bekerja sama dengan hotel meski sebelumnya ia juga pernah menerima tawaran serupa.
"Pernah diajak di hotel, tapi kan kadang karena hotelnya kurang sesuai jadi tidak tertarik. Tapi untuk Artotel ini memang namanya sudah lama, populer, jadi saya tertarik," kata Indo.
Semua bermula saat Indo diberi tawaran oleh direktur dan konsultan seni Artotel, Windi Salomo. Singkat cerita, antara Artotel dan karya-karya Indo dinilai punya keselarasan. Sang seniman pun diberi keleluasaan berekspresi sehingga ia sepakat untuk menjalin kerja sama.
"Karena aku juga berhubungan baik dengan Ibu Windy. Lalu tidak ada intervensi 'visualmu harus seperti ini'. Ibu Windi membebaskan, Artotel membebaskan. Jadi saya seru-seru saja dan dengan senang hati menjalani proyek ini," pungkas Indo.
Β
Β


