Jika suatu hari anak-anak Indonesia makan ikan tanpa kelaparan, jangan ingat nama saya. Ingat saja bahwa alam selalu memberi jalan bagi orang yang mau belajar darinya.
Sore itu angin dari selatan berhembus pelan. Langit mendung tipis menggantung di atas kolam sederhana di pinggir kampung. Airnya tenang, hanya sesekali beriak oleh gerakan ikan-ikan kecil yang muncul ke permukaan.
Di pematang kolam, saya duduk bersama Mbah Moedjair. Sarungnya dilipat sampai lutut. Tangannya kasar seperti akar pohon yang lama hidup menghadapi musim. Beliau memandangi air cukup lama sebelum bicara.
“Dulu orang-orang tidak percaya ikan itu bisa hidup di kolam begini,” katanya pelan. Saya menatap wajahnya yang teduh. “Waktu pertama kali menemukan ikan mujair itu bagaimana, Mbah?” Beliau tersenyum kecil.
“Awalnya saya cuma nelayan biasa. Melihat ikan kecil di perairan payau dekat pantai selatan. Saya perhatikan ikan itu kuat sekali. Cepat berkembang biak. Saya lalu berpikir… bagaimana kalau dibawa ke air tawar?”
Baca Selengkapnya

