Oleh: Mukhlisuddin Ilyas
Founder Sagoetv dan Bandar Publishing
Mudik sejatinya bukan soal jarak. Ia bukan sekadar perjalanan 275 kilometer dari satu Kota Banda Aceh ke kota Lhokseumawe, bukan pula tentang berapa lama waktu yang kita tempuh di jalan atau berapa banyak energi yang terkuras. Mudik adalah perjalanan batin, kembali ke asal, kembali ke akar, kembali kepada nilai-nilai yang membentuk siapa kita hari ini. Terlalu banyak romantisme di kampung.
Setiap tahun, jutaan orang melakukan perjalanan yang sama, dengan cerita yang berbeda. Namun satu hal yang menyatukan semuanya adalah kerinduan, dan merajut silaturrahmi. Rindu pada suasana rumah, merenung drama-drama kecil setiap pagi menjelang sekolah, rindu lampung halaman, rindu orang tua, rindu masa kecil yang pernah mengisi hari-hari tanpa beban. Mudik adalah cara manusia menjaga hubungan dengan masa lalunya, sekaligus merawat identitasnya di tengah perubahan zaman.
Bagi kita yang masih memiliki orang tua, mudik adalah keberuntungan yang tak ternilai. Ia bukan hanya kesempatan untuk bertemu, tetapi juga untuk mencintai secara nyata, dengan hadir, dengan duduk bersama, dengan makan sepiring nasi yang mungkin sederhana namun penuh makna. Waktu bersama orang tua tidak pernah benar-benar cukup, dan mudik menjadi ruang untuk memperpanjang kebersamaan itu, walau hanya beberapa hari.
Namun bagi yang orang tuanya telah tiada, mudik tidak kehilangan maknanya. Justru, ia menjadi lebih dalam. Mudik menjadi perjalanan sunyi yang penuh refleksi, kembali ke rumah asal, rumah yang pernah menjadi saksi tangis pertama, tawa masa kecil, dan langkah awal kehidupan.
Baca Selengkapnya

