Oleh: Ari J. Palawi
Praktisi, Etnomusikolog & Akademisi Seni Universitas Syiah Kuala
Artikel sebelumnya telah menyoroti momentum penting bagi Universitas Syiah Kuala untuk menata kembali posisi seni dalam ekosistem akademik. Gagasan tersebut lahir dari kesadaran bahwa seni bukan sekadar ekspresi estetika atau aktivitas kebudayaan, melainkan bagian dari cara masyarakat menyimpan, menafsirkan, dan mentransmisikan pengalaman sosialnya.
Dalam banyak masyarakat, praktik seni menjadi media penting untuk memahami hubungan antara nilai, sejarah, dan kehidupan kolektif. Melalui musik, tari, syair, dan berbagai bentuk ekspresi artistik lainnya, masyarakat tidak hanya mengekspresikan perasaan, tetapi juga merumuskan pengetahuan tentang dunia yang mereka alami.
Karena itu, jika momentum tersebut ingin berkembang menjadi proses yang berkelanjutan, perhatian perlu diarahkan pada pembangunan ekosistem pengetahuan seni yang memungkinkan hubungan yang lebih erat antara universitas, komunitas seni, lembaga kebudayaan, serta masyarakat luas.
Ekosistem semacam ini tidak dapat dibangun hanya melalui kegiatan sporadis atau program jangka pendek. Ia memerlukan fondasi akademik yang kuat, infrastruktur kolaborasi yang terbuka, serta kapasitas institusional yang memungkinkan berbagai inisiatif berkembang secara berkelanjutan.
Baca Selengkapnya

