Ada banyak tradisi kiai kuno yang kini terbukti bermanfaat bagi kesehatan masyarakat digital. Satu di antaranya laku Mlampah Lillah yang pernah didawamkan Kiai Sanusi Mbarangan beserta para saudaranya.
Kiai Sanusi Mbarangan merupakan kiai dari Dusun Mbarangan, Kuncen Padangan, Bojonegoro — sebuah dusun yang dikenal sebagai pemukiman di dalam pemakaman. Serupa banyak tokoh-tokoh kiai Padangan pada umumnya, Kiai Sanusi lebih banyak diceritakan dari sisi keramat.
Di antara kisah yang kerap diceritakan, adalah metode nekuk bumi (teleportasi), berjalan di atas sungai, atau kisah tentang musala yang dia bangun di atas jurang sungai, yang saat terjadi longsor bisa bergeser sendiri. Banyaknya kisah hiperbolis, justru menutup banyak informasi yang punya relevansi metodologis hingga kini.
Kiai Sanusi Mbarangan bernama asli Sanusi bin Syahid bin Syihabuddin. Kiai Sanusi putra Kiai Syahid Kembangan, dan cucu Kiai Syihabuddin Betet. Sejak kecil Kiai Sanusi belajar agama pada ayahnya, Kiai Syahid Kembangan. Ia juga belajar pada Kiai Syamsuddin Betet dan Kiai Murtadhlo Kuncen yang tak lain adalah pamannya sendiri.
Kiai Sanusi diperintah ayahnya mendirikan peguron di Dusun Mbarangan, sebuah dusun terpencil berpagar pemakaman yang menjorok kedalam, berada di sudut songapan, pertautan antara sungai Bengawan dan Kali Bluduk — sebuah lokasi tersembunyi, yang kala itu sangat sulit diakses manusia. Sejak saat itu dia dikenal Kiai Mbarangan.
Kawasan Dusun Mbarangan pada peta 1893 M.
Meski didirikan sebagai tempat pendidikan dan pengajaran Islam, kelak Peguron Mbarangan lebih dikenal sebagai tempat ajaran kanuragan. Sama seperti Peguron Kembangan yang didirikan ayahnya, Peguron Mbarangan masyhur sebagai ruang penempaan kejadugan yang berafiliasi pada tradisi Rifaiyyah dan Syattariyah.
Dusun Mbarangan dikenal sebagai tempat para penyintas perbudakan Koeli Ordonanti (1881) yang kerap menebar perlawanan. Sepeninggal Kiai Sanusi, Peguron Mbarangan masih mengembangkan suwuk perlawanan hingga masa Romusha Jepang (1943), khususnya pada era putra-putra Kiai Sanusi, yakni Kiai Khosman Sanusi dan Kiai Warosyi Sanusi.
Sayangnya, selepas masa penjajahan Jepang, riwayat Peguron Mbarangan seperti tenggelam ditelan waktu. Hanya tersisa kisah dari ingatan orang-orang tua, serpihan suwuk mujarobat, serta musala kecil di tepi jurang — satu-satunya peninggalan fisik bekas peguron yang sampai kini masih bertahan, namun sudah direnovasi.
Laku Mlampah Lillah
Di balik cerita-cerita ajaib mengenai Kiai Sanusi, terdapat satu metode menarik tentang jalan kaki. Masyhur Kiai Sanusi dikenal sebagai Kiai yang memiliki lelaku kluyuran jalan kaki. Dalam konteks Peguron Mbarangan, jalan kaki bukan sekadar keluyuran tanpa tujuan, namun sebuah metode yang juga dikenal dengan Mlampah Lillah.


