Hegemoni Barat mulai lemah karena dikoyak para pemikir Barat sendiri. Ironisnya, banyak kalangan di bekas negeri jajahan yang menyembahnya.
Seorang kawan bertanya: sejak kapan metode antek aseng Barat menjadi tolok ukur dalam membaca sejarah global? Mendengar pertanyaan epistemik semacam ini, saya pun tergoda untuk menjawabnya. Saya sengaja menjawab pakai teori Barat biar ilmiah, untuk kemudian saya kunci pakai teori Selatan, biar lebih ilmiah lagi.
Kenapa Barat menjadi tolok ukur membaca sejarah global? Jawabannya jelas, kolonialisme dan dominasi akademik selama berabad-abad, menjadikan metode historiografi-modern Barat sebagai standar global. Bukan karena satu-satunya yang benar, tapi karena didukung FIFA kekuatan politik, ekonomi, pendidikan, dan tentu: publikasi penerbitan.
Terkait pertanyaan kawan saya tadi. Ada dua hal yang ingin saya jelaskan. Pertama soal monopoli prinsip ilmiah. Kedua soal filsafat sejarah. Dua hal ini adalah pondasi penting yang harus diketahui, sebelum melangkah lebih jauh memahami dekolonisasi historiografi.
Pertama soal prinsip ilmiah. Selama ini kritik sumber dan argumentasi logis seolah hanya milik Barat. Padahal, prinsip ini tidak eksklusif Barat. Semua peradaban punya cara ilmiah-empiris memeriksa keabsahan informasi. Tradisi ilmu hadis, misalnya, mengembangkan kritik sanad dan verifikasi matan, jauh sebelum historiografi-modern Barat lahir di dunia.
Baca Selengkapnya

