Transformasi dari BRANI, BKI, BPI, KIN, BAKIN, hingga BIN bukan sekadar perubahan nama. Namun bukti bahwa watak intelijen memang kerap mengalami metamorfosa.
Sejarah republik Indonesia tidak hanya ditulis oleh presiden, jenderal, atau pidato-pidato besar di podium politik. Ada sejarah lain yang bergerak lebih sunyi; sejarah tentang orang-orang yang bekerja di balik layar, para pembaca ancaman sebelum ancaman itu menjadi ledakan.
Itulah dunia intelijen. Ia hidup dalam ruang samar: antara informasi dan manipulasi, antara keamanan dan kekuasaan, antara negara dan ketakutannya sendiri. Di Indonesia, evolusi intelijen dapat dibaca melalui perubahan nama lembaganya: BRANI, BKI, BPI, KIN, BAKIN, dan paling bontot bernama BIN.
1. BRANI
Fase paling awal intelijen Republik Indonesia dimulai dari Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI) yang dibentuk pada 1945. Lembaga ini lahir dalam suasana revolusi kemerdekaan. Indonesia masih berada dalam ancaman. Belanda masih melancarkan agresi militer dan infiltrasi. Karena itu, republik butuh jaringan rahasia untuk bertahan hidup.
Gerilya, bawah tanah, dan penuh operasi penyusupan adalah karakter utama BRANI. Zulkifli Lubis, yang kelak dikenal sebagai Bapak Intelijen Republik, menjadi figur penting pada masa ini. Ia memahami perang modern bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal informasi. Di tangannya, embrio intelijen Indonesia mulai dibentuk.
Baca Selengkapnya

