Bangunan weir (bendung) pada PLTM Sako-1 yang berlokasi di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, foto: Bisnis.
Sobat EBT Heroes! Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau dengan karakteristik geografis yang beragam. Kondisi ini membuat penyediaan listrik tidak bisa mengandalkan satu jenis pembangkit saja. Di banyak wilayah terpencil dan pulau kecil, akses listrik masih bergantung pada pembangkit berbahan bakar diesel yang biaya operasionalnya relatif tinggi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan tiga inovasi pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) yang dirancang khusus untuk wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Inovasi ini diharapkan mampu memanfaatkan potensi energi lokal sekaligus mendukung transisi menuju sistem kelistrikan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Dalam Stakeholder Consultation Regional Maluku untuk Rancangan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2026–2035, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, memperkenalkan tiga teknologi pembangkit yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan listrik di wilayah kepulauan.
Teknologi ini dirancang untuk memanfaatkan aliran sungai atau saluran air dengan tinggi jatuh air (head) yang rendah. Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga air skala besar, PLT Pikohidro tidak memerlukan pembangunan bendungan sehingga lebih ramah lingkungan, biaya investasinya lebih rendah, dan lebih mudah diterapkan di desa-desa terpencil.
Baca Selengkapnya

