Bagi Timnas Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno bagaikan rumah. Di sana, skuad Garuda biasa menggelar pertandingan-pertandingan penting dengan disaksikan puluhan ribu suporternya. Namun, SUGBK bukan rumah pertama Garuda. Timnas Indonesia sebelumnya menempati Lapangan Ikada.
Meski namanya menyematkan kata "Lapangan" dan bukan "Stadion", Lapangan Ikada sejatinya adalah stadion. Selain lapangan tempat para pemain berlaga, di sekelilingnya terdapat tribun tempat para suporter menyaksikan pertandingan sembari bersorak.
Berlokasi di tempat yang kini menjadi area Monumen Nasional (Monas), Lapangan Ikada sudah ada sejak era kolonial Belanda. Dari lapangan sederhana, Lapangan Ikada bertransformasi menjadi stadion megah pada 1951. Kebetulan, pada tahun tersebut pemerintah juga ingin menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jakarta.
Banyak cerita menarik dari pembangunan Lapangan Ikada. Mulai dari siapa arsiteknya, hingga dari mana uang untuk membiayainya didapat. Yang menegangkan, pernah pula Lapangan Ikada disatroni perampok.
Ingin lebih tahu tentang Lapangan Ikada? Simak ceritanya hanya dalam buku Para Pionir: Sepak Terjang Tim Nasional Indonesia 1951-1960.







