Kisah Syekh Subakir yang lekat dengan cerita rakyat dan kepercayaan masyarakat di Gunung Tidar diangkat ke layar lebar melalui film berjudul Perjanjian: The Journey of Syekh Subakir. Film produksi Pandora Film tersebut memadukan unsur budaya dan religi dengan sentuhan cerita fantasi perjalanan waktu serta teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Film berdurasi sekitar satu jam ini mengisahkan seorang anak muda di era modern yang secara misterius terlempar ke masa lalu. Peristiwa tersebut membuatnya menjadi saksi perjalanan Syekh Subakir, tokoh Islam yang dalam cerita masyarakat dipercaya memiliki kaitan dengan Gunung Tidar.
Sutradara film, Andika John Manggala, mengatakan film ini berangkat dari cerita yang berkembang dan diyakini masyarakat secara turun-temurun. Gunung Tidar dipilih sebagai latar utama karena memiliki keterikatan kuat dengan kisah Syekh Subakir sekaligus dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi di Kota Magelang.
โIni tokoh Islam. Kita membalutnya di film dengan masa lalu, tetapi juga ada modernnya. Jadi, ceritanya tentang anak muda di era modern yang terlempar ke masa lalu dan menjadi saksi perjalanan Syekh Subakir,โ ujar Andika.
Menurutnya, film tersebut tidak semata-mata mengangkat unsur misteri, melainkan lebih menitikberatkan pada budaya dan religi. Hal itu berkaitan dengan keberadaan petilasan Syekh Subakir di Gunung Tidar yang hingga kini banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.
Andika juga menegaskan bahwa Gunung Tidar dalam film tersebut lebih berfungsi sebagai lokasi yang memiliki keterkaitan dengan cerita masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kisah Syekh Subakir yang diangkat dalam film belum dapat dipastikan sebagai fakta sejarah karena tidak ditemukan bukti historis yang kuat.
โKalau bicara secara historis, bukti sejarahnya tidak ada. Jadi, ini lebih kepada cerita yang berkembang di masyarakat dan diyakini oleh masyarakat,โ jelasnya.
Riset Empat hingga Lima Bulan, Syuting di Gunung Tidar
Produksi Perjanjian: The Journey of Syekh Subakir merupakan hasil kolaborasi Pandora Film dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang. Menurut Andika, pihaknya mendapat kepercayaan untuk menggarap film yang mengangkat kisah Syekh Subakir tersebut.
Proses pengerjaan film diawali dengan riset untuk menghimpun informasi mengenai cerita Syekh Subakir dan Gunung Tidar. Tim produksi juga mendatangi lokasi serta bertemu dengan juru kunci guna menggali informasi yang berkembang di masyarakat.
Setelah tahap riset, tim mulai menyusun naskah cerita. Keseluruhan proses praproduksi membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima bulan sebelum akhirnya memasuki tahap pengambilan gambar.
Proses syuting berlangsung selama kurang lebih satu minggu pada akhir 2025. Pengambilan gambar dilakukan di Gunung Tidar dan salah satu rumah di Kota Magelang.
Gunung Tidar dipilih untuk menghadirkan suasana yang sesuai dengan latar cerita masa lalu. Tim produksi juga harus memperhatikan berbagai detail visual agar unsur modern tidak muncul dalam adegan yang menggambarkan periode sejarah tersebut.
Sementara itu, adegan yang menggambarkan kehidupan anak muda di era modern mengambil lokasi di salah satu rumah di Kota Magelang.
Setelah proses produksi selesai, film memasuki tahap pascaproduksi yang berlangsung sekitar enam bulan. Salah satu tantangan sekaligus eksperimen dalam pengerjaan film ini adalah menggabungkan pengambilan gambar secara langsung dengan visual effect berbasis AI.
Andika menyebut penggunaan teknologi tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi tim produksi. Mereka ingin menguji sejauh mana teknologi AI dapat dikolaborasikan dengan proses pembuatan film konvensional.
โDi sini kami juga baru bereksperimen untuk kolaborasi hybrid antara film real dengan visual effect AI. Kami ingin melihat bagaimana kalau film dikolaborasikan dengan AI, apakah bisa atau tidak. Nyatanya, bisa-bisa saja,โ ungkapnya.
Angkat Edukasi Budaya dan Promosikan Wisata Religi
Melalui film ini, tim produksi berharap masyarakat dapat mengenal lebih jauh cerita rakyat yang berkembang di Gunung Tidar. Andika menilai edukasi budaya tidak selalu harus bersumber dari peristiwa sejarah yang memiliki bukti tertulis, tetapi juga dapat berasal dari cerita rakyat yang dipercaya dan diwariskan antargenerasi.
Menurutnya, cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat yang perlu diperkenalkan kepada generasi muda.
โBudaya itu tidak selalu sejarah yang benar-benar tercatat, tetapi juga cerita-cerita rakyat yang diyakini masyarakat sampai hari ini, turun-temurun. Itu juga perlu kita ceritakan kepada anak-anak,โ tuturnya.
Selain mengangkat kisah Syekh Subakir, film ini diharapkan dapat ikut memperkenalkan Gunung Tidar sebagai destinasi wisata religi di Kota Magelang.
Gunung Tidar selama ini dikenal masyarakat dengan julukan Pakuning Tanah Jawa atau Pakunya Pulau Jawa. Julukan tersebut menjadi salah satu identitas yang melekat pada kawasan tersebut dan menambah daya tariknya bagi wisatawan maupun peziarah.
Untuk memperkenalkan film kepada masyarakat, trailer Perjanjian: The Journey of Syekh Subakir dijadwalkan diluncurkan pada 6 November 2026 di Alun-Alun Kota Magelang, bertepatan dengan acara pengajian Gus Kalsan.
Sementara itu, pemutaran perdana film secara penuh dijadwalkan berlangsung pada 14 November 2026 di Magelang.
Andika menjelaskan film tersebut tidak dipersiapkan untuk masuk ke jaringan bioskop komersial. Hal ini karena produksinya merupakan film lokal yang tidak melalui proses pembuatan Digital Cinema Package (DCP) untuk distribusi bioskop.
Sebagai gantinya, pemutaran perdana akan digelar melalui screening lokal dengan mengundang masyarakat serta sejumlah pemangku kepentingan pemerintahan dan pihak terkait di Kota Magelang.
Melalui pendekatan cerita modern, budaya, religi, dan teknologi AI, Perjanjian: The Journey of Syekh Subakir diharapkan menjadi salah satu cara kreatif untuk memperkenalkan kekayaan cerita rakyat Magelang kepada masyarakat yang lebih luas.


