Berkunjung ke Purworejo, Jawa Tengah, rasanya kurang lengkap kalau belum mencicipi kuliner khas daerah selatan kabupaten ini. Salah satunya sego penek, sarapan sederhana yang kini makin jarang ditemui.
Melansir catatan dari kbrpurworejo.com, isi sego penek berupa nasi hangat dengan sayur lodeh Nangka, telur, dan daging atau jeroan ayam. Hidangan ini diperkirakan sudah ada sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang, meski tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali muncul.
Sebagian masyarakat bahkan meyakini sego penek dulu jadi sumber tenaga bagi tentara Republik yang berjuang di wilayah selatan Purworejo. Karena itulah, sego penek punya tempat tersendiri bagi warga setempat.
Sego Penek, Sarapan Hangat dari Jenar
Sego penek berasal dari Pedukuhan Ngandul, Desa Jenar Wetan, Kecamatan Purwodadi. Seorang warga setempat menyebut hidangan ini pertama kali dibuat di sana. Konon, sego penek paling enak cuma lahir dari tangan perempuan Ngandul atau keturunannya.
Isinya nasi yang disiram sayur lodeh nangka muda berkuah santan kental. Sebagai teman, biasanya ada suwiran ayam kampung, atau pilihan lain seperti telur, tahu, dan tempe. Lauknya bebas memilih.
Rasanya gurih dan lumayan sedikit manis, mirip opor ayam. Bedanya, aroma bumbu sego penek lebih khas dan kuah santannya lebih kental. Warga dari luar Purworejo pun banyak yang memburunya.
Karena kuahnya hangat dan mengenyangkan, sego penek cocok disantap saat sarapan, terlebih ketika udara pagi sedang dingin. Harganya pun ramah di kantong, mulai dari Rp5.000 per porsi. Berdasarkan informasi yang beredar, saat libur pembeli harus datang pukul 05.00 WIB ke Pasar Jenar supaya kebagian.

Sego Penek khas Purworejo | Foto: Instagram @sego_penek
Kuliner Purworejo yang Dimasak Pakai Tungku
Bumbu sego penek sebenarnya tidak istimewa. Menurut informasi dari Suara Merdeka, bahan yang dipakai sama seperti opor ayam pada umumnya, yaitu kemiri, jahe, lengkuas, daun salam, bawang, dan garam. Tidak ada bumbu rahasia di dalamnya.
Yang membedakan ada di cara masaknya. Sego penek dibuat tanpa penyedap rasa, memakai kayu bakar khusus di atas tungku. Dari situlah muncul aroma harum yang berbeda dari masakan yang memakai kompor gas.
Penyajiannya pun sederhana. Nasi dan lauknya disajikan di atas daun pisang, cara lama yang masih dipertahankan sampai sekarang. Masyarakat Purworejo terus merawat tradisi ini agar kuliner khas mereka tidak diklaim daerah lain.
Salah satu penjual yang cukup dikenal adalah Sego penek Ngandul Bu Bekel di Jenar. Soal nama, warga sendiri belum tahu pasti kenapa hidangan ini disebut sego penek. Yang jelas, resepnya diwariskan turun-temurun dari para leluhur.

Sego Penek khas Purworejo | Foto: Instagram @sego_penek_ngandul_bu_bekel
Langka tapi Diperjuangkan Jadi Warisan Budaya
Di balik popularitasnya, sekarang penjual sego penek tinggal sedikit. Menurut seorang pedagang di Jenar Wetan, sego penek termasuk hidangan langka. Saat ini hanya tersisa kurang dari lima pedagang yang menjajakannya di pasar tradisional Kecamatan Purwodadi dan Ngombol.
Menukil laman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purworejo, sego penek dan dawet ireng, minuman segar bersantan dengan dawet berwarna hitam, kini diproses untuk diusulkan menjadi warisan budaya tak benda (WBTB).
Bidang Kebudayaan Dindikbud menelusuri informasinya bersama Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. Sekarang, Purworejo sudah memiliki empat warisan budaya tak benda, yakni tari Cingpoling, tradisi Jolenan Somongari, tari Dolalak, dan wayang kulit gagak Kaligesingan.
Dalam diskusi kelompok terarah yang digelar Selasa (10/12), Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Purworejo, Dyah Woro Setyaningsih, berharap sego penek dan dawet ireng menjadi warisan budaya tak benda pada 2025.
“Kami sangat berharap, di 2025 kedua kuliner khas Purworejo tersebut bisa lolos menjadi warisan budaya tak benda,” ujarnya.
Kepala Desa Jenar Wetan, Aris Karmo, menyebut sego penek berasal dari Dusun Ngandul dan kini bisa dijumpai di Pasar Jenar, Pasar Krendetan, dan beberapa pasar lain. Ia menjelaskan bahwa regenerasi pembuat sego penek masih terus berjalan hingga kini.
“Sekarang pembuatnya juga masih ada yang merupakan anak turun dari pembuat awalnya,” tutur Aris.


