Di balik peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober, terdapat kisah perjuangan dari sejumlah organisasi pencetus Sumpah Pemuda yang dengan cerdik berusaha merealisasikan persatuan Nusantara.
Jauh sebelum Ikrar Pemuda bergaung di Batavia, pergerakan kaum muda sendiri sempat terkotak-kotak dalam batasan daerah. Meski begitu, berkat peran organisasi pemuda dalam Sumpah Pemuda, sekat-sekat perbedaan tersebut berhasil dilebur dalam satu tekad persatuan.
Kawan GNFI tentu tidak asing lagi dengan nama-nama besar seperti Jong Java atau Jong Sumatranen Bond, bukan? Namun, tahukah Kawan GNFI bahwa kesuksesan Kongres Pemuda II ini juga melibatkan organisasi pemuda dari latar belakang budaya dan agama? Mari kita telusuri jejak sejarah organisasi pencetus Sumpah Pemuda yang melahirkan ikrar bagi bangsa Indonesia.
1. PPPI dan Gagasan Mempertemukan Pemuda dalam Satu Cita-Cita
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) memegang posisi sentral sebagai penggagas Kongres Pemuda II sekaligus penghubung organisasi yang sebelumnya bergerak secara mandiri.
Berdasarkan buku Soegondo Djojopoespito: Hasil Karya dan Pengabdiannya yang dikeluarkan Kemendikdasmen (1999), bisa dibilang pergerakan ini bermula ketika majalah terlarang Indonesia Merdeka milik Perhimpunan Indonesia diselundupkan oleh seorang pegawai pos dan diberikan kepada Soegondo Djojopoespito. Bacaan tersebut kemudian dibagi kepada teman-teman Soegondo. Dari situ wawasan politik Soegondo serta rekan-rekannya semakin terbuka.
Pada tahun 1926, Soegondo bersama Soewiryo, Sigit (mahasiswa RHS), Gularso, dan Darwis (mahasiswa STOVIA) mendirikan perkumpulan bernama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dengan Sigit sebagai ketua pertama.
Anggota inti ini memiliki tugas khusus menghubungi mahasiswa baru dan pemimpin pemuda guna menumbuhkan kesadaran akan pentingnya persatuan Indonesia. Kepemimpinan PPPI kemudian dilanjutkan oleh Soegondo Djojopoespito pada tahun 1927 pasca Sigit ditunjuk untuk menjadi ketua Indonesische Clubgebouw (I.C.).
Dari situ inisiasi Kongres Pemuda 2 dimulai. Mereka dengan teguh ingin melanjutkan Kongres Pemuda I. Mereka pun aktif mengadakan rapat-rapat, misalnya untuk menyusun panitia kongres. Perjuangan mereka bersama para pemuda lain berbuah manis dengan dibacakannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
2. Jong Java, Organisasi Pemuda yang Melangkah dari Kebudayaan Menuju Persatuan
Jong Java berawal dari perkumpulan pelajar sekolah kedokteran yang didirikan oleh Satiman bersama Kadarman dan Sunardi pada 7 Maret 1915 dengan nama Tri Koro Dharmo yang berarti Tiga Tujuan Mulia: Sakti, Budi, Bhakti.
Dikutip dari Sutjiatiningsih (1999), organisasi pemuda ini memiliki cita-cita untuk "menimbulkan pertalian-pertalian antara murid-murid bumiputera pada sekolah menengah dan kursus pengetahuan kejuruan, menambah pengetahuan bagi anggota-anggotanya, dan membangkitkan serta mempertajam perasaan untuk segala bahasa dan kebudayaan."
Dalam kongres pertamanya di Solo tahun 1918, nama organisasi Tri Koro Dharmo diubah menjadi Jong Java agar pelajar dari wilayah Sunda, Madura, dan Bali dapat turut bergabung menjadi anggota organisasi.
Tujuan organisasi ini kemudian berkembang untuk menyebarkan dan memperkuat paham Indonesia bersatu. Mereka juga ingin mendorong rasa persatuan anggota dengan semua golongan serta bekerja sama dengan organisasi pemuda lain.
Kawan GNFI dapat melihat peran penting Jong Java dari sosok R.M. Djoko Marsaid yang dipercaya sebagai Wakil Ketua dalam kepengurusan Kongres Pemuda II.
3. Jong Sumatranen Bond dan Upaya Menghimpun Pemuda Sumatra
Didirikan pada 9 Desember 1917, Jong Sumatranen Bond bertujuan mempererat hubungan antar-pelajar asal Sumatra, menanamkan kesadaran akan tugas pemuda untuk menjadi pemimpin dan pendidik bangsa di masa depan, serta menjunjung tinggi kepribadian Sumatra. Organisasi ini sendiri didirikan oleh para pelajar Sumatera yang kala itu berada di Jakarta.
Meski begitu, menurut Sutjiatiningsih (1999), organisasi ini memiliki cabang di berbagai kota, tepatnya enam tempat di Pulau Jawa dan dua di Sumatra (Padang dan Bukittinggi). Jong Sumatranen Bond mengadakan kongres pertama kali di Padang pada bulan Juli 1919, meski begitu pengurus besar organisasi ini tetap berada di Jakarta.
Tokoh-tokoh besar yang lahir dari organisasi ini antara lain Moh. Hatta, A.K. Gani, serta Muhammad Yamin yang kala itu bertindak sebagai sekretaris sekaligus perumus draf Sumpah Pemuda sejak Kongres Pemuda I.
4. Jong Bataks Bond dan Solidaritas Pemuda dari Tanah Batak
Jong Bataks Bond merupakan salah satu organisasi pencetus Sumpah Pemuda yang konsisten mengawal gagasan persatuan sejak Kongres Pemuda I. Selain itu, Kongres Pemuda I juga dihadiri oleh sejumlah wakil organisasi pemuda, antara lain Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Studerende Minahasers, dan Pemuda Kaum Theosotie.
Menurut laman resmi KPU Yalimo, organisasi Jong Bataks Bond ini didirikan oleh pemuda dari Tapanuli dan sekitarnya untuk mempererat solidaritas serta memajukan sektor pendidikan. Kontribusi nyata organisasi ini tampak jelas ketika Amir Sjarifudin dari Jong Bataks Bond diamanahkan sebagai bendahara dalam susunan panitia Kongres Pemuda II.
5. Jong Islamieten Bond (JIB), Ruang Pergerakan Pemuda Muslim
Berdiri pada tahun 1926, Jong Islamieten Bond (JIB) hadir sebagai wadah pergerakan pemuda yang memadukan aktivitas sosial-keagamaan dengan semangat kebangsaan. JIB dipimpin oleh R. Sam yang merupakan mantan ketua Jong Java, dengan H. Agus Salim sebagai penasihat.
Berbeda dari perkumpulan pelajar umumnya, JIB juga membuka keanggotaan bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya. Di samping itu, mereka pun memiliki tujuan yang spesifik yakni fokus untuk memajukan pengetahuan Islam, hidup secara Islam, dan memperkuat persatuan dalam Islam (Sutjiatiningsih, 1999).
6. Jong Ambon, Membawa Aspirasi Pemuda dari Maluku
Jong Ambon menghimpun para pemuda berlatar belakang Maluku untuk memperluas semangat persatuan lintas etnis dan agama. Di tengah gelombang pergerakan nasional, organisasi ini turut mengirimkan delegasinya dengan tekad bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan bersama seluruh rakyat nusantara.
Tokoh terkemuka dari Jong Ambon yang berperan aktif dalam pergerakan pemuda salah satunya adalah Johannes Leimena. Sosoknya juga yang didapuk sebagai Pembantu IV dalam panitia Kongres Pemuda II.
7. Jong Celebes, Organisasi Pemuda dari Sulawesi
Jong Celebes menjadi wadah pemersatu pemuda asal Sulawesi dalam kancah pergerakan nasional. Organisasi ini aktif menyuarakan gagasannya melalui publikasi majalah Suara Celebes.
Jong Celebes memiliki sejumlah tokoh-tokoh penting seperti Arnold Mononutu, Waworuntu, Magdalena Mokoginta yang sempat menjadi sekretaris dan anggota delegasi Kongres Indonesia Muda di Solo. Ada juga sosok R.C.L. Sendoek yang duduk sebagai Pembantu III dalam panitia Kongres Pemuda II.
8. Pemuda Kaum Betawi, Aspirasi Pemuda dari Batavia
Sebagai representasi masyarakat tuan rumah di Batavia, Pemuda Kaum Betawi memiliki peran dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan Kongres Pemuda II. Kehadiran organisasi ini mencerminkan semangat keterbukaan, keramahtamahan, serta solidaritas tinggi antarsuku dengan para delegasi pemuda dari berbagai penjuru Nusantara.
Sosok Mohammad Rochjani Su’ud tercatat sebagai tokoh dari Pemuda Kaum Betawi yang berperan sebagai Pembantu V dalam susunan panitia Kongres Pemuda II.
Dari Organisasi yang Beragam Menuju Ikrar yang Satu
Ketujuh organisasi pemuda di atas membuktikan bahwa keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, dan agama bukanlah penghalang untuk bersatu. Melalui gelaran Kongres Pemuda II, perbedaan tersebut dilebur melalui ikrar suci Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa, yaitu Indonesia.
Semangat persatuan dan kerja sama ini menjadi tonggak sejarah yang perlu terus dirawat oleh kita sebagai wakil dari generasi masa kini dan contoh bagi generasi mendatang.
Kawan GNFI, mari terus suarakan semangat kebangsaan dan temukan berbagai wawasan menarik lainnya seputar sejarah serta tokoh-tokoh inspiratif Nusantara di Good News From Indonesia!


