pernah lebih kaya dari korsel dan taiwan inilah penyebab meredupnya filipina - News | Good News From Indonesia 2026

Pernah Lebih Kaya dari Korsel dan Taiwan, Inilah Penyebab Meredupnya Filipina

Pernah Lebih Kaya dari Korsel dan Taiwan, Inilah Penyebab Meredupnya Filipina
images info

Ilustrasi filipina tahun 60an | Dibuat dengan AI dan diedit ulang dengan canva


Tahun 1960. Orang Korea Selatan masih miskin. Pendapatan per kepala mereka sekitar 159 dolar AS setahun. Taiwan kurang lebih sama, 154 dolar.

Filipina? 269 dolar.

Hampir dua kali lipat.

Itu angka Bank Dunia. Khusus Taiwan, angkanya dari statistik resmi Taiwan sendiri, karena Bank Dunia tidak mencatatnya.

Angka itu cocok dengan foto-foto lama. Coba sering sekali lihat foto Manila tahun 1950-an dan 1960-an. Banyak bersliweran di sosmed orang-orang Filipina. Mungkin mereka rindu masa itu. Entahlah. Di foto-foto itu, jalannya lebar, mobil-mobil Amerika berseliweran, bioskopnya bergaya art deco. Sekilas mirip Los Angeles. Tidak heran Manila dijuluki Mutiara dari Timur.

Manila Bay tahun 1960an
info gambar

Manila Bay tahun 1960an


Manila juga jadi tempat belajar. Tidak sedikit mahasiswa dari negara tetangga, termasuk dari Indonesia, kuliah di sana.

Tahun 1960 berdiri International Rice Research Institute (IRRI) di Los Baños, tidak jauh dari Manila. Ilmuwan padi dari berbagai negara Asia belajar di sana. Varietas padi berkode IR yang kemudian akrab di telinga petani kita juga lahir dari lembaga itu.

Tahun 1966, ketika Bank Pembangunan Asia (ADB) didirikan, Manila dipilih sebagai markasnya. Tokyo kalah.

Lalu satu per satu menyalip.

Taiwan duluan, di awal 1960-an. Korea menyusul tahun 1970. Thailand tahun 1983, ketika Filipina sedang menuju krisis di akhir era Marcos. Malaysia sebenarnya sudah di atas Filipina sejak 1962, tapi dulu selisihnya tipis. Sekarang jaraknya jauh.

Yang paling menarik bagi kita: Indonesia.

Tahun 1970, pendapatan per kapita Indonesia hanya 79 dolar. Filipina 201 dolar, dua setengah kali lipat kita. Butuh lebih dari tiga puluh tahun untuk mengejarnya. Baru tahun 2003 Indonesia menyalip.

Lihat angka tahun lalu. Korea sekitar 36.000 dolar. Taiwan sekitar 34.000 dolar (angka 2024). Malaysia 13.100 dolar. Thailand 8.000 dolar. Indonesia 5.000 dolar.

Filipina 4.200 dolar.

Negara yang dulu paling kaya di antara mereka kini berada di urutan paling bawah.

Filipina sebenarnya pernah bangkit. Selama 2010 sampai 2019 ekonominya tumbuh rata-rata 6,4 persen setahun. Itu hebat. Para analis mulai menyebutnya calon macan Asia berikutnya. Julukan lamanya, sick man of Asia, rupanya pelan-pelan dilupakan orang. Julukan itu lahir di pertengahan 1980-an, ketika ekonomi Filipina ambruk di akhir kekuasaan Ferdinand Marcos.

Sayangnya, julukan itu muncul lagi sekarang. Di koran-koran Manila sendiri.

Gara-garanya angka ini: 2,3 persen. Itulah pertumbuhan ekonomi Filipina di kuartal kedua 2026. Terendah sejak akhir 2009, kalau masa Covid tidak dihitung.

Di kuartal yang sama Vietnam tumbuh 8,39 persen. Indonesia 5,29 persen. Singapura, yang sudah kaya raya, masih bisa 5,7 persen.

Yang membuat cerita ini agak getir: presiden Filipina sekarang juga bernama Ferdinand Marcos. Junior. Anak sang ayah.

Apa yang salah?

Awalnya justru dari niat baik. Juli 2025, dalam pidato kenegaraan, Presiden Marcos Jr. memarahi anggota parlemennya soal proyek pengendalian banjir. “Mahiya naman kayo!” katanya. Malulah kalian.

Dari situ semua terbongkar. Banyak anggota parlemen menyisipkan proyek banjir ke dalam anggaran negara. Nilainya digelembungkan. Mereka main mata dengan pejabat Departemen Pekerjaan Umum dan para kontraktor.

Rakyat marah. Puluhan ribu orang turun ke jalan.

Pemerintah lalu bersih-bersih. Proyek diaudit. Pencairan anggaran diperketat.

Langkah itu benar, tapi ada harga yang harus dibayar.

Proyek-proyek berhenti. Kontraktor menunggu. Belanja konstruksi pemerintah di kuartal kedua 2026 anjlok 32,4 persen. Hampir sepertiganya hilang.

Joey Salceda, ekonom yang juga mantan anggota parlemen, punya istilah yang pas. Pipa fiskal Filipina, katanya, tidak sekadar melambat. Membeku.

Investor asing ikut menahan diri. Investasi langsung asing turun 24,5 persen selama Januari sampai Oktober 2025.

Tahun 2025 pun ditutup dengan pertumbuhan 4,4 persen. Padahal targetnya minimal 5,5 persen.

Lalu datang pukulan kedua. Dari tempat yang jauh.

Tanggal 28 Februari 2026 perang meletus di Timur Tengah. Selat Hormuz ditutup. Harga minyak terbang.

Filipina mengimpor sekitar 98 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah. Sembilan puluh delapan persen. Bisa dibayangkan akibatnya.

Inflasi melonjak ke 7,2 persen di bulan April. Sempat reda, lalu naik lagi ke 7,2 persen di bulan September. Bank sentral Filipina sudah tiga kali menaikkan suku bunga tahun ini, kini di 5 persen. Peso jatuh ke rekor terlemahnya: 63,06 per dolar.

Rakyat pun mengerem belanja. Konsumsi rumah tangga, mesin utama ekonomi Filipina, hanya tumbuh 2,8 persen. Setahun sebelumnya masih 5,2 persen.

Masih ada lagi. Sekitar 2,4 juta orang Filipina bekerja di Timur Tengah. Kiriman uang mereka ke kampung ikut terganggu.

Jadi, benarkah Filipina sudah sakit?

Saya belum mau menyimpulkan sejauh itu.

Krisis 1980-an jauh lebih parah. Waktu itu ekonomi Filipina menyusut dua tahun berturut-turut, 1984 dan 1985. Utang luar negeri menggunung. Kepercayaan pada rezim habis.

Sekarang ekonominya masih tumbuh. Pelan, tapi tumbuh.

Pemerintahnya juga yakin ini hanya sementara. Menteri Perencanaan Ekonomi Arsenio Balisacan bilang begitu. Anggaran sudah mulai dicairkan lagi. Kontrak-kontrak baru diteken bulan Juni dan Juli. Target tahun ini diturunkan menjadi 3,5 sampai 4,5 persen.

Contohnya pun ada. Tahun 2011, ketika Presiden Benigno Aquino III mulai memberantas korupsi, pertumbuhan Filipina juga turun ke sekitar 3,9 persen. Setelah aturan pengadaan dibenahi, ekonominya justru ngebut beberapa tahun.

Artinya, sakit di awal bersih-bersih bukan hal baru bagi Filipina.

Yang lebih mengkhawatirkan justru hal-hal yang tidak kelihatan di angka kuartalan.

JC Punongbayan, ekonom Filipina, menulis kajian untuk ISEAS di Singapura. Istilah yang ia pakai menarik: low-energy growth equilibrium, atau kurang lebih artinyakeseimbangan pertumbuhan berenergi rendah. Ekonominya tetap tumbuh, tapi tidak pernah benar-benar melaju.

Sebabnya, Filipina hidup dari konsumsi dan dari kiriman uang para pekerja migran. Pabrik dan investasinya lemah.

Ketika gelombang pabrik pindah dari Tiongkok, yang menangkapnya Vietnam. Filipina hanya menonton.

Andalan Filipina sekarang adalah industri call center dan outsourcing. Itu pun mulai banyak digerogoti kecerdasan buatan (AI).

Lalu soal sekolah. Menurut kajian yang sama, sembilan dari sepuluh anak usia SD di Filipina belum bisa memahami bacaan sederhana. Seperempat balitanya stunting.

Masalah seperti itu tidak bisa diselesaikan dengan mencairkan anggaran proyek.

Di sinilah Filipina berbeda dengan Korea dan Taiwan. Dua negara yang dulu lebih miskin itu membangun pabrik dan sekolah selama puluhan tahun. Filipina sempat tumbuh tinggi sepuluh tahun. Ternyata sepuluh tahun belum cukup untuk mengejar fondasi yang mereka bangun

Indonesia sebaiknya melihat Filipina seperti melihat cermin. Karena penyakit Filipina itu kita kenal betul. Di sini

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.