Balai Yasa Lahat adalah sebuah bengkel perawatan sarana kereta api yang berlokasi di Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Bengkel ini bertugas merawat lokomotif, kereta penumpang, hingga gerbong barang yang beroperasi di wilayah Sumatra bagian selatan.
Fasilitas ini memegang peranan penting dalam menjaga kelancaran angkutan penumpang dan komoditas batu bara. Tanpa perawatan rutin di sini, ribuan perjalanan kereta api setiap tahunnya di Pulau Sumatra tidak akan berjalan optimal.
Berusia lebih dari seabad, bengkel khusus sepur ini mulai dibangun pada masa kolonial Belanda. Keberadaannya menjadi saksi bisu perkembangan dan sejarah panjang transportasi kereta api di Indonesia, khususnya wilayah Sumatra Selatan.
Sejarah Balai Yasa Lahat
Merangkum dari situs resmi PT Kereta Api Indonesia (Persero), pembangunan jalur kereta api di Sumatra Selatan dimulai oleh perusahaan kereta api kolonial, Zuid Staatsspoorwegen (ZSS), pada tahun 1911. Seiring bertambahnya rute yang mencapai 500 kilometer, ZSS mengoperasikan puluhan lokomotif uap dan ratusan gerbong.
Dua bengkel lama yang berlokasi di Tanjung Karang dan Kertapati mulai kewalahan menangani perawatan armada tersebut. Kapasitas tempat dan peralatan di kedua bengkel lama itu dinilai tak mampu lagi menampung beban kerja yang makin berat.
ZSS kemudian memutuskan untuk membangun satu bengkel terpusat berukuran besar yang lebih modern. Pembangunan bengkel terpusat ini bertujuan agar proses pemeliharaan armada dapat berjalan efisien dengan biaya yang lebih hemat.
Kabupaten Lahat dipilih sebagai lokasi pembangunan karena berada di posisi strategis di tengah-tengah jaringan rel. Selain strategis, Lahat memiliki kondisi udara yang sejuk serta pasokan air melimpah dari Sungai Lematang.
Fasilitas Pendukung Bengkel KA

Teknisi di Balai Yasa Lahat | PT KAI (Persero)
Proyek pembangunan bengkel Lahat mulai dikerjakan pada akhir tahun 1929 di atas lahan seluas 250 x 375 meter. Area bengkel ini dilengkapi dua bangunan utama, yakni los khusus lokomotif dan los untuk perbaikan kereta serta gerbong.
Struktur bangunan los memanfaatkan material bekas pabrik Rhein Elbe Union Cirebon yang diperkuat untuk menopang derek berat. Perakitan mesin dan instalasi derek selesai pada Desember 1930 dengan pasokan listrik dari Tanjung Enim.
Untuk menampung para pekerja, ZSS membangun kawasan perumahan dinas yang terdiri dari 51 rumah pengawas dan 343 rumah pegawai. Uniknya permukiman khusus pegawai ini dirancang tahan gempa serta dilengkapi fasilitas air bersih, penerangan listrik, dan sanitasi yang baik.
Kebutuhan air operasional bengkel dan perumahan dialirkan melalui menara air setinggi 158,6 meter dengan stasiun pompa dari Sungai Lematang. Menara air itu dilengkapi sistem pengolahan kimiawi agar air sungai aman digunakan untuk boiler maupun konsumsi harian.
Seluruh peralatan dan pekerja dari bengkel Tanjung Karang dan Kertapati resmi dipindahkan ke Lahat pada pertengahan tahun 1931. Bengkel Kereta Api Lahat kemudian diresmikan dan mulai beroperasi penuh pada 1 Oktober 1931.
Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan bengkel ini diambil alih oleh pemerintah di bawah Djawatan Kereta Api (DKA). Sebutan bengkel kereta api sempat berganti menjadi Balai Karya sebelum akhirnya dikenal dengan Balai Yasa.
Pemerintah melakukan modernisasi mesin-mesin bengkel pada kurun tahun 1952 hingga 1955 melalui bantuan dana Exim Bank. Langkah rehabilitasi ini berhasil meningkatkan kapasitas bengkel dalam merawat lokomotif uap, kereta penumpang, serta gerbong barang.
Saat ini, Balai Yasa Lahat merawat lebih dari 3.500 unit sarana kereta api tiap tahunnya. Bengkel ini juga menjadi kunci utama kelancaran angkutan kereta api batu bara rangkaian panjang di Sumatra.
Selain fokus pada perawatan armada, Balai Yasa Lahat kini aktif menerapkan berbagai inovasi ramah lingkungan berbasis ESG. Bengkel ini menggunakan panel surya serta sistem penampungan air hujan untuk efisiensi energi listrik dan pemakaian air operasional.


