Enam murid sekolah luar biasa (SLB) dari 6 provinsi berhasil raih empat medali perak dan dua medali perunggu di ajang kuliner internasional Battle of the Chefs (BOTC) 2026. Kompetisi berlangsung pada 21-24 Oktober 2026 di Penang, Malaysia, yang hasilnya diumumkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kabar itu disampaikan lewat siaran pers dan unggahan resmi Pusat Prestasi Nasional.
Enam Medali dari Panggung Battle of the Chefs 2026
Berdasarkan unggahan resmi Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), empat medali perak diraih Roainun dari SLB Negeri Pangeran Cakrabuana, Jawa Barat, Charisya Apta Maydian Aglind dari SLB Negeri Semarang, Jawa Tengah, Andi Ismira Aulia dari SLB Negeri Tanjung Selor, Kalimantan Utara, dan Hepi Vania Zendrato dari SLB Negeri 1 Padang, Sumatra Barat.
Dua medali perunggu diraih oleh Dinda Aprillia dari SLB Negeri Pembina Palembang, Sumatra Selatan, dan Keylla Almayra dari SLB Negeri 1 Bantul, DIY. Keenamnya mewakili SLB negeri dari Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Penilaian lomba memakai standar poin, sehingga beberapa peserta bisa meraih medali yang sama.
Para murid bertanding di Setia SPICE Arena, Penang, dengan tantangan menghias kue dua tingkat. Kompetisi tahun ini merupakan edisi ke-20 BOTC.
https://www.instagram.com/p/De-4wBSmQMq/
(Preview akan muncul di halaman artikel)Kepala Pusat Pengembangan Prestasi dan Pembinaan Karakter (Puspreka), Rusprita Putri Utami, menyebut ajang ini memberi ruang bagi murid berkebutuhan khusus untuk menunjukkan kompetensi dan mengembangkan kemandirian.
โPrestasi ini menjadi wujud komitmen untuk menghadirkan ruang yang inklusif bagi murid berkebutuhan khusus,โ ujarnya, Minggu (25/10).
Kreasi Kue dari Palembang hingga Tanjung Selor
Andi Ismira Aulia dan Hepi Vania Zendrato tampil satu tim dengan kue dua tingkat bertema bunga. Menurut siaran pers Kemendikdasmen, hiasan berbentuk keranjang dan ornamen bunga mempercantik karya mereka. Karyanya jadi salah satu kreasi yang dinilai dalam tantangan kue dua tingkat. Keduanya meraih medali perak.
Bagi Mira, ini kali pertama ia mewakili Indonesia di kompetisi internasional. Mira didampingi guru pendamping dari SLB Negeri Tanjung Selor, Siti Aisa. Ia menyebut pengalaman itu menjadi bekal untuk terus berkembang.
โPencapaian ini sekaligus menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan dan berani menghadapi tantangan baru,โ katanya.
Dinda Aprillia berlatih saat kabut asap menyelimuti Palembang. Guru pendampingnya, Labora Francisca, menuturkan Dinda tetap datang ke sekolah demi persiapan. Di arena lomba, Dinda membuat kue bertema Tahun Baru Imlek dengan hiasan naga.
Dinda sendiri mengaku senang bisa mengikuti kompetisi ini. Ia menilai hasil itu lahir dari latihan yang rutin.
โPencapaian ini tidak terlepas dari proses latihan yang konsisten,โ ujarnya.
Pendidikan Inklusif Membuka Jalan Karier Kuliner
Keikutsertaan para murid merupakan upaya Kemendikdasmen melalui Puspreka untuk membuka kesempatan yang setara bagi setiap murid berprestasi di tingkat internasional. Kementerian menilai setiap anak punya potensi bila mendapat dukungan yang sesuai.
Pemerintah juga menyiapkan tindak lanjut. Partisipasi delegasi akan dipublikasikan dan data prestasi para murid dimasukkan ke Sistem Informasi Manajemen Talenta Murid (SIMT). Data itu diharapkan menjadi rekam jejak talenta yang mendukung pendidikan, keterampilan, dan peluang karier mereka di bidang kuliner.
Labora berharap pengalaman ini membuka peluang lebih luas bagi Dinda, termasuk beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Bagi Labora, capaian Dinda juga mendorong dukungan bagi keterampilan murid berkebutuhan khusus.
Mira pun menitipkan pesan untuk teman-teman di seluruh Indonesia agar tidak mudah menyerah dalam mengejar prestasi.
โTetap semangat, jangan patah semangat, dan terus belajar untuk menampilkan yang terbaik,โ pesannya.
Ajakan itu lahir dari pengalaman pertamanya bertanding di luar negeri bersama rekan setimnya, dengan karya yang dinilai lewat standar poin.


