Ario Bayu adalah aktor dan model berkebangsaan Indonesia yang sudah dikenal dalam industri perfilman nasional. Pria kelahiran Jakarta pada 41 tahun yang lalu ini telah membintangi sejumlah film dan serial sejak 2000-an hingga sekarang.
Nama Ario melejit sejak ia bermain sebagai pemeran pendukung di film horor Bangsal 13 pada 2004. Semenjak itu, ia mulai lekat dengan dunia seni peran dan mendapat porsi lebih besar memerankan tokoh utama, di antaranya ia memerankan Presiden RI pertam Sukarno dalam film Soekarno (2013) dan Sultan Agung dalam Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018).
Kontribusinya dalam perfilman tanah air membuat Ario didaulat sebagai Ketua Komite Festival Film Indonesia (FFI) yang sebelumnya dipimpin oleh sesama aktor, reza Rahadian. Dari perannya sebagai pemimpin sebuah komite tentu diharapkan ia mampu memiliki pengetahuan serta kebijakan dalam membina keberlangsungan industri film Indonesia kini dan nanti.
Genre Horor
Film Indonesia sejak dulu hingga kini lekat dengan genre horor. Meskipun sekarang genre-genre lain seperti drama, romansa, sampai biopik tetap bermunculan, genre horor secara konsisten masih menunjukkan eksitensinya untuk naik di layar lebar.
Ario sendiri adalah aktor yang naik pamornya setelah membintangi film horor. Berdasarkan pengalamannya itulah ia melihat film horor terus mengalami perkembangan dengan banyak cara seperti memadupadankan genre tersebut dengan genre lain.
โFilm horor yang kalau kita lihat juga hari ini genre horor masih dikonsumsi porsinya lebih banyak daripada gen-gen lain. Bahkan evolusinya atau perkembangannya itu lebih ke kayak horor komedi, horor action, horor drama, tapi tema utamanya tetap dibaluti horor,โ ucap Ario kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Keberlangsungan genre film horor Indonesia seolah memiliki napas yang panjang. Ario meyakini pandangan masyarakat dalam hal-hal berbau supernatural lah yang membuat genre film ini bisa terus ada dan tetap menemukan pasarnya.
โAku merasa bahwa mungkin konsumen Indonesia atau masyarakat Indonesia mungkin adalah masyarakat yang masih senang dengan hal-hal berbau supernatural atau mistis atau penuh dengan hal-hal metafisikal. Jadi makanya genre horor masih banyak peminatnya,โ ungkap Ario.
Penghargaan FFI
Mendapat suatu penghargaan tentu menjadi pencapaian tersendiri bagi siapa saja terlebih untuk aktor dan aktris di industri perfilman. Dari FFI sendiri memiliki penganugerahan untuk aktor dan aktris terbaik yang disebut Piala Citra di mana itu dipandang sebagai pencapaian prestisius di perfilman nasional.
Ario Bayu selaku Ketua FFI tentu memiliki dua pandangan berbeda dalam menanggapi penghargaan tersebut, mengingat ia Ketua FFI yang juga seorang aktor. Jika memakai โtopiโ aktor, ia merasa diberi penghargaan Piala Citra adalah suatu kebanggaan bagi aktor dan aktris yang niscaya membuat popularitasnya di industri perfilman menjadi naik.
โMendapatkan nominasi dan rekognisi itu pasti indah rasanya bahwa kami diapresiasi atas karya dan kerja keras,โ ucap Ario.
Pandangan Ario sebagai Ketua FFI lebih luas dalam menyikapi adanya penghargaan Piala Citra di industri perfilman Indonesia. Ia mengingatkan bahwa perfilman nasional belum sebesar negara-negara maju sehingga menjaga dan merawat ekosistem lebih diprioritaskan supaya penghargaan yang diadakan akan lebih bernilai di mata khalayak.
โDari kacamata ketua umum industri kita kita ini belum sebesar Amerika dan Prancis. Jadi maturity dari industri itu juga menjadi faktor penting dalam memilih dan memilah film-film yang pantas untuk dimenangkan atau mendapat posisi di malam anugerah. Sebenarnya ekosistem menurut aku penting,โ katanya lagi.

