Sampah kota, limbah industri, dan sisa pembakaran batu bara biasanya dipandang sebagai beban yang harus ditangani. Namun, material tersebut dapat diolah menjadi sumber energi alternatif untuk membantu industri menekan penggunaan bahan bakar dan biaya operasional.
Peluang itu dikembangkan melalui teknologi Biomass Coal Fuel atau BCF. Teknologi ini menggabungkan biomassa dari limbah dengan material sisa batu bara untuk menghasilkan bahan bakar berbentuk briket dan pelet.
Selain mendukung efisiensi energi, BCF menawarkan cara untuk meningkatkan nilai guna limbah sekaligus mengurangi ketergantungan industri terhadap batu bara.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Anggoro Tri Mursito, menjelaskan bahwa pengembangan BCF dimulai pada 2015 melalui riset penanganan limbah pertambangan batu bara.
Pada 2016, riset dilanjutkan dengan pemanfaatan batu bara berperingkat rendah atau low grade coal. Tim kemudian mengembangkan formulasi dan melakukan pengujian teknologi.
Pemanfaatan limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3 mulai dikembangkan pada 2018. Tahapan berikutnya meliputi pengujian skala laboratorium dan pilot, persiapan produksi pada 2020, serta penjaminan produksi pada 2021.
Pada tahap tersebut, tim mengembangkan prototipe, menguji karakteristik bahan bakar, dan menyesuaikan spesifikasi BCF dengan kebutuhan peralatan industri.
BCF memasuki tahap komersialisasi pada 2022 dan telah dilisensikan untuk pemanfaatan industri.
โJadi cukup panjang riset kami dari mulai awal sampai akhir dan sampai sekarang ini sudah tahun kelima dilisensi teknologi ini,โ ujar Anggoro dikutip dari BRIN.
ย
Memanfaatkan Batu Bara Berkualitas Rendah
Pengembangan BCF memanfaatkan potensi batu bara berkualitas rendah dan berbagai material yang belum digunakan secara optimal.
Dalam paparannya, Anggoro menyebutkan sumber daya batu bara Indonesia mencapai sekitar 32 miliar ton. Lebih dari 81 persen di antaranya berkualitas rendah.
Proses pembakaran batu bara juga menghasilkan material yang tidak terbakar sempurna atau unburnt coal. Material tersebut dapat menjadi salah satu bahan dalam formulasi BCF.
Selain itu, sampah domestik, limbah taman kota, dan produk samping pengolahan air limbah industri atau bio-sludge dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku.
โJadi, ini semua harapannya menjadi bahan bakar, menjadi energi, sehingga ini biayanya dapat tereduksi atau berkurang, menjadi bahan bakar alternatif. Dan harapannya ke depan ini menjadi manufaktur yang hijau,โ jelas Anggoro.
ย
Diproses Menjadi Briket dan Pelet
Sampah kota terlebih dahulu dipilah untuk memisahkan material yang masih dapat didaur ulang dari bahan yang dapat diolah lebih lanjut.
Biomassa yang terpilih kemudian difermentasi menggunakan bakteri selama sekitar tiga hingga lima hari. Setelah itu, material dicacah dan dikeringkan.
Biomassa kemudian dicampur dengan unburnt coal dan bio-sludge dalam perbandingan tertentu. Bakteri yang digunakan memiliki fungsi membantu mengurangi kandungan sulfur sekaligus mengeringkan material.
โBakteri ini adalah bakteri pendesulfurisasi atau pengurang sulfur dan juga pengering,โ ungkap Anggoro.
BCF dikembangkan dalam bentuk briket dan pelet. Produk tersebut memiliki nilai kalor di atas 3.000 kilokalori dan kandungan sulfur kurang dari 1 persen berdasarkan pemaparan Anggoro.
BCF dapat digunakan sebagai bahan bakar tersendiri atau dicampurkan dengan batu bara, bergantung pada kebutuhan dan karakteristik peralatan industri.
ย
Tekan Konsumsi Batu Bara dan Biaya
Teknologi BCF telah diterapkan di sejumlah wilayah, antara lain Bandung Raya, Serang, dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan.
Kapasitas pengolahan di Bandung Raya dan Serang dilaporkan mencapai sekitar 10โ15 ton per hari. Sementara itu, kapasitas pengolahan di Pangkep mencapai 50โ60 ton per hari.
Di Pangkep, BCF dimanfaatkan PT Semen Tonasa sebagai bahan bakar kalsiner. Teknologi ini juga digunakan oleh sejumlah industri lain, baik dalam bentuk briket maupun melalui pencampuran langsung dengan batu bara.
Pemanfaatan BCF dilaporkan mampu menurunkan konsumsi batu bara rata-rata 10 persen, mengurangi emisi SOx dan NOx sekitar 5 persen, serta meningkatkan efisiensi termal hingga 10 persen.
Selama sekitar lima tahun, teknologi tersebut telah mengolah lebih dari 2.000 ton sampah kota dan taman serta 460 ton bio-sludge.
Dari sisi ekonomi, salah satu industri pengguna melaporkan penghematan biaya hingga Rp400 juta per bulan untuk satu boiler. Penghematan tersebut berasal dari pemanfaatan produk samping dan penggunaan BCF untuk meningkatkan efisiensi energi.
Lewat pengembangan kapasitas produksi dan penerapan yang lebih luas, BCF berpotensi mempertemukan kebutuhan pengelolaan limbah dengan kebutuhan energi industri. Teknologi ini juga dapat mendukung manufaktur yang lebih efisien dan berorientasi pada ekonomi sirkular.

