Budidaya udang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Penyakit, penurunan kualitas air, dan ketergantungan pada input tertentu dapat memengaruhi kelangsungan hidup udang sekaligus meningkatkan biaya produksi pembudidaya.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah pemanfaatan bakteri lokal dari wilayah pesisir dan tambak. Mikroba tersebut diseleksi untuk membantu menekan bakteri patogen, memperbaiki kualitas air, serta mendukung pertumbuhan udang.
Upaya ini melahirkan Probiotik Rica, yang dikembangkan dari hasil eksplorasi mikroba lokal selama lebih dari dua dekade. Peneliti Pusat Riset Budidaya Laut BRIN, Muliani, menjelaskan perjalanan pengembangan probiotik tersebut.
Pengembangan Probiotik Rica dimulai pada 2000 melalui isolasi bakteri dari lingkungan laut. Eksplorasi kemudian diperluas ke kawasan mangrove pada 2003 dan lingkungan tambak pada 2004.
Dari berbagai lokasi di Sulawesi Selatan, tim peneliti mengumpulkan sekitar 603 isolat bakteri laut. Sampel berasal dari air, sedimen, koral, spons, dan alga. Dari jumlah tersebut, 15 isolat diketahui mampu menghambat pertumbuhan Vibrio harveyi, salah satu bakteri patogen yang menjadi perhatian dalam budidaya udang.
Eksplorasi pada permukaan daun mangrove menghasilkan sekitar 1.145 isolat bakteri. Namun, hanya sembilan isolat yang menunjukkan kemampuan menghambat V. harveyi pada tahap penyaringan awal.
Pengambilan sampel kemudian dilakukan di tambak tradisional, semiintensif, intensif, serta tambak dengan kondisi tanah sulfat masam. Dari tahap ini, peneliti memperoleh sekitar 2.228 isolat dan mengidentifikasi 14 kandidat probiotik.
โBiodiversitas Indonesia sangat potensial untuk dijadikan sumber kandidat probiotik, baik untuk memperbaiki kualitas air maupun meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang yang kita pelihara,โ jelas Muliani dalam webinar From Coastal Microbes to Sustainable Aquaculture, Selasa (27/10), dikutip dari BRIN.
Menurut Muliani, bakteri lokal dipilih karena berpotensi memiliki karakteristik yang sesuai dengan kondisi lingkungan pesisir dan tambak setempat.
Kandidat probiotik tidak langsung diaplikasikan ke tambak. Setiap isolat harus melewati serangkaian pengujian untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.
Tahap pengujian meliputi isolasi, pemurnian, uji antagonisme terhadap bakteri patogen, pengujian biokimia, serta pengamatan kemampuan bertahan pada kondisi lingkungan dengan salinitas berbeda.
Peneliti juga menguji daya tahan bakteri selama penyimpanan dan efektivitasnya pada berbagai konsentrasi. Aspek keamanan menjadi bagian penting karena bakteri yang mampu menghambat patogen belum tentu aman bagi udang.
Pengujian patogenisitas, termasuk terhadap larva udang, dilakukan sebelum kandidat dikembangkan lebih lanjut.
Selain itu, tim memeriksa kemampuan probiotik dalam memperbaiki kualitas air. Parameter yang diamati antara lain nitrit, amonia, dan bahan organik total atau total organic matter (TOM).
โTidak cukup hanya mampu menghambat bakteri patogen. Kita juga harus memastikan bahwa isolat tersebut tidak bersifat patogen terhadap udang,โ ujarnya.
Pada 2007, Probiotik Rica mulai diaplikasikan di tambak percobaan. Produk tersebut kemudian diperkenalkan kepada pembudidaya melalui pelatihan dan pendampingan.
ย
Dimanfaatkan di Sejumlah Daerah
Penerapan Probiotik Rica pernah menjangkau sekitar 12 kabupaten, termasuk Tarakan, Indramayu, dan Brebes. Di Sulawesi Selatan, Bulukumba dan Pinrang menjadi beberapa wilayah yang masih menggunakan probiotik tersebut.
Pada 2018, salah satu komponen Probiotik Rica memperoleh paten. Bakteri yang dalam transkrip disebut Brevibacillus laterosporus itu kemudian dikembangkan sebagai Rica Super.
Setahun berikutnya, tim memperoleh paten terkait metode aplikasi probiotik di tambak. Rica Super, Rica Grow, dan Rica Nitro juga diajukan untuk memperoleh registrasi sebagai produk probiotik.
Namun, proses registrasi Rica Super menghadapi kendala pemenuhan data dan tertunda ketika pandemi Covid-19 terjadi. Peralihan peneliti ke BRIN pada 2021 turut memengaruhi perjalanan pengembangannya.
Meski demikian, Muliani menyebut Probiotik Rica masih digunakan sebagian pembudidaya. Penggunaannya juga mulai dikembangkan untuk kegiatan pembenihan kepiting.
ย
Hilirisasi Masih Membutuhkan Kolaborasi
Perjalanan Probiotik Rica menunjukkan bahwa hasil riset dapat dimanfaatkan di luar laboratorium. Namun, keberlanjutan produk memerlukan dukungan pengembangan, registrasi, produksi, dan kemitraan industri.
Salah satu kendalanya adalah bentuk produk yang masih cair. Pembudidaya perlu melakukan kultur atau perbanyakan sebelum mengaplikasikannya ke tambak. Proses ini membutuhkan waktu dan keterampilan yang belum tentu dimiliki semua pembudidaya.
Pengembangan menuju skala industri juga memerlukan pola kerja sama yang tepat. Menurut Muliani, kemitraan tidak cukup hanya berupa transaksi penjualan isolat, tetapi perlu mendukung pemanfaatan hasil riset secara berkelanjutan.
Ke depan, potensi mikroba pesisir Indonesia perlu diikuti dengan penguatan formulasi, proses registrasi, kemitraan industri, dan pendampingan pembudidaya. Sehingga, Probiotik Rica berpeluang terus dikembangkan sebagai teknologi yang membantu menjaga kesehatan tambak sekaligus mendukung produktivitas udang secara berkelanjutan.
โYang membuat kami berbahagia adalah riset ini tidak berhenti hanya di laboratorium atau sebagai tulisan ilmiah. Hasilnya sudah dimanfaatkan oleh masyarakat,โ ungkapnya.

