Di tepi Sungai Ciapus, Bogor, pohon bambu sering tarabaikan dan sering dilewati begitu saja. Banyak orang tidak ngeh kalau di balik gulungan daunnya, tinggal seekor laba-laba kuning mungil yang selama ini luput dari catatan sains Asia Tenggara. Kini, para peneliti Indonesia resmi memperkenalkannya sebagai spesies baru bernama Rathalos inagami.
Berdasarkan hasil penelitian yang terbit di Journal of Asia-Pacific Biodiversity pada 28 Maret 2026, temuan ini jadi catatan pertama Ghost Spider (laba-laba hantu) dari Asia Tenggara. Timnya terdiri atas Naufal Urfi Dhiya’ulhaq, Ahmad Restu Dwikelana, dan Purnama Hidayat dari IPB University.
Mengenal Ghost Spider Penghuni Bambu
Ghost spider termasuk keluarga Anyphaenidae. Menurut jurnal tersebut, keluarga ini punya 59 genus dan 654 spesies sah yang tersebar di banyak belahan dunia. Namun, kawasan Indomalaya seperti Asia Selatan dan Asia Tenggara hanya diwakili tiga genus, dan sama sekali belum pernah dideskripsikan dari Asia Tenggara.
Dari segi fisik, Rathalos inagami tergolong mungil. Panjang tubuh jantan sekitar 6,57 mm, sedangkan betina sekitar 5,77 mm. Warna badan dominan kuning dengan karapas (pelindung bagian kepala dan dada) berbentuk buah pir, rahang berwarna oranye, serta kaki kuning berujung gelap.
Cara bisa membedakannya dari organ reproduksi. Laba-laba jantan punya tonjolan di organ kawinnya yang berlobus empat, sedangkan dua kerabatnya di Tiongkok hanya berlobus dua. Pada betina, penutup saluran kelaminnya berbentuk segitiga, sekitar 1,4 kali lebih lebar daripada panjangnya, dan bentuk salurannya seperti huruf S.

Soal rumah, laba-laba ini punya cara sendiri. Peneliti mencatat bahwa ia menggulung daun bambu menjadi tempat berlindung. Anak-anaknya yang masih kecil ditemukan di dalam gulungan itu bersama induk betina.
Cara Ilmuwan Memastikan Spesies Baru
Kawan, pernahkah kalian kepo, gimana peneliti tahu laba-labanya belum dikasih nama oleh orang lain? Mereka membandingkan ciri tubuhnya, terutama organ reproduksi, dengan dua spesies Rathalos yang sudah dikenal dari Tiongkok, yaitu Rathalos treecko dan Rathalos xiushanensis. Jurnal ini juga mengacu pada daftar laba-laba dunia, World Spider Catalog.
Laba-laba yang mau diteliti pun tersimpan rapi. Menurut keterangan jurnal, spesimen jantan atau kumpulan yang akan diteliti, diambil dekat Sungai Ciapus pada 18 Agustus 2024. Spesimen lain dikumpulkan dari Bogor, Purworejo, dan Sleman sejak 2021, dan sebagian disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense serta Museum Serangga IPB.
Setelah cirinya cocok dengan syarat spesies baru, hasilnya diterbitkan di jurnal ilmiah agar bisa diperiksa pakar lain. Dalam abstraknya, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini merupakan “catatan pertama dari keluarga Anyphaenidae dan genus Rathalos dari Asia Tenggara”.
Nama inagami diambil dari naga dalam gim Monster Hunter, yang digambarkan hidup di hutan bambu seperti laba-laba ini. Penamaan ini boleh dilakukan, selama tetap mengikuti aturan tata nama internasional.
Keanekaragaman Hayati yang Belum Terungkap
Lalu, mengapa selalu ada spesies baru? Berdasarkan catatan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ada tiga sebabnya. Indonesia adalah negara megabiodiversitas, punya banyak habitat terpencil seperti gua, hutan bambu, dan pegunungan, serta jumlah taksonom laba-laba yang masih sedikit. Taksonom adalah ahli yang menggolongkan dan menamai makhluk hidup.
Lokasi temuan di Jawa berjarak sekitar 3.000 km dari kerabat terdekatnya di Hainan, Tiongkok. Purnama Hidayat dari IPB University menjelaskan bahwa jarak itu tidak berarti laba-laba ini langka.

“jarak distribusi yang cukup jauh ini kemungkinan mencerminkan kurangnya eksplorasi di kawasan Asia Tenggara”, seperti dikutip Lingkar Bumi.
Menemukan satu spesies juga butuh kerja panjang. Dalam siaran pers 23 Mei 2026, BRIN menyebut prosesnya meliputi ekspedisi ke wilayah terpencil, pengumpulan spesimen, analisis, hingga publikasi di jurnal internasional. Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa penemuan spesies baru tidak terjadi secara instan.
"Penemuan spesies baru tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan dedikasi para peneliti, kerja lapangan yang berat, serta dukungan riset yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan kapasitas sains taksonomi dan eksplorasi biodiversitas harus menjadi perhatian bersama," jelasnya.
Sejauh ini, semua spesimen ditemukan di bambu, sehingga peneliti menyebutnya bambusiphilic atau menyukai bambu. Kebiasaan itu dimiliki seluruh genus Rathalos, karena itu peneliti menyarankan pengambilan sampel terarah di hutan bambu Asia Tenggara dan Asia Timur.


