Hujan akhirnya mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan setelah berbulan-bulan menghadapi kekeringan dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sejak Minggu (25/10/2026), hujan mulai turun di sejumlah daerah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Langit yang sebelumnya tampak kelabu akibat kabut asap perlahan mulai terlihat lebih cerah. Kondisi udara pun berangsur membaik setelah hujan membantu mengurangi asap yang menyelimuti permukiman warga.
Turunnya hujan menjadi kabar baik bagi masyarakat, terutama mereka yang selama ini harus membatasi aktivitas akibat buruknya kualitas udara. Meski demikian, upaya penanganan karhutla masih terus dilakukan untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
Kabut Asap Berkurang, Aktivitas Masyarakat Mulai Membaik
Sebelum hujan turun, kabut asap akibat karhutla telah mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan. Asap yang menyelimuti permukiman membuat warga kesulitan beraktivitas di luar ruangan, bahkan berdampak pada kegiatan belajar di sekolah.
Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kabut asap telah mengganggu pembelajaran selama sekitar dua bulan. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan sehingga pihak sekolah harus menyesuaikan jadwal pembelajaran.
Jam masuk sekolah yang semula pukul 07.30 WITA diundur menjadi pukul 09.00 WITA. Sementara itu, kegiatan di luar ruangan dipindahkan ke dalam kelas untuk mengurangi paparan asap.
Kondisi serupa dialami SDN 5 Bukit Tunggal di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang sempat menerapkan pembelajaran jarak jauh akibat kabut asap.
Setelah hujan turun selama dua hari berturut-turut, kondisi udara di Banjarbaru mulai membaik. Pihak sekolah pun mempertimbangkan untuk mengembalikan jadwal pembelajaran seperti semula apabila kabut asap terus berkurang.
Hujan juga disambut gembira oleh para relawan karhutla. Di Martapura, Kabupaten Banjar, sejumlah relawan melakukan sujud syukur setelah hujan akhirnya mengguyur wilayah tersebut pada Minggu (25/10/2026).
Operasi Modifikasi Cuaca Terus Dilakukan
Hujan yang mengguyur Kalimantan terjadi di tengah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi karhutla.
Pada Minggu (25/10/2026), TNI Angkatan Udara mengerahkan lima pesawat dari Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, untuk melakukan penyemaian awan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.
Operasi tersebut menggunakan bahan seperti natrium klorida (NaCl) dan es kering (dry ice) untuk meningkatkan peluang turunnya hujan.
Penyemaian dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Palangka Raya, Pulang Pisau, Katingan, Seruyan, dan Kotawaringin Timur. Pelaksanaan OMC diharapkan dapat membantu membasahi lahan yang mengering sekaligus mendukung upaya pemadaman kebakaran.
Meski hujan mulai turun di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, OMC tetap dilanjutkan karena potensi kebakaran masih perlu diwaspadai, terutama pada lahan yang mudah terbakar.
BRIN Siapkan Inovasi Singkong untuk Memadamkan Karhutla
Selain melanjutkan OMC, pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menyiapkan inovasi pemadaman karhutla menggunakan tepung singkong.
Kepala BRIN, Arif Satria, pada Selasa (27/10/2026) menyampaikan bahwa pihaknya siap menguji coba penggunaan tepung singkong yang dicampurkan dengan amonium polifosfat (APP).
Campuran tersebut dikembangkan untuk membantu proses pemadaman api. Namun, teknologi ini masih berada dalam tahap pengujian sehingga efektivitasnya dalam menangani karhutla di lapangan belum dapat dipastikan.
BRIN berencana melakukan uji coba bersama TNI Angkatan Udara sebagai bagian dari pengembangan metode pemadaman karhutla.
Sementara itu, pemantauan wilayah rawan kebakaran dan upaya pemadaman masih perlu dilanjutkan meskipun hujan telah mengguyur sejumlah daerah.
Bagi masyarakat Kalimantan, berkurangnya kabut asap tentu membawa kelegaan setelah berbulan-bulan menghadapi kondisi udara yang buruk. Harapannya, hujan terus turun sehingga kebakaran dapat semakin terkendali dan aktivitas warga kembali berjalan normal.


