dari kepedulian ke aksi nyata kawula17 goes to school x aiesec in unila dorong generasi muda lebih peka terhadap krisis lingkungan - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Kepedulian ke Aksi Nyata, Kawula17 Goes to School x AIESEC in Unila Dorong Generasi Muda Lebih Peka terhadap Krisis Lingkungan

Dari Kepedulian ke Aksi Nyata, Kawula17 Goes to School x AIESEC in Unila Dorong Generasi Muda Lebih Peka terhadap Krisis Lingkungan
images info

The participants discussed a case study (Sumber: Dokumentasi Pribadi)


Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada rasa prihatin. Ia perlu diikuti dengan pemahaman tentang persoalan yang terjadi serta kesadaran mengenai peran yang dapat diambil masyarakat untuk mengatasinya.

Dengan semangat itu, Kawula17 Goes to School bersama AIESEC in Unila mengajak 120 pelajar SMA/SMK sederajat di Bandar Lampung menelaah persoalan lingkungan dan mengembangkan gagasan melalui diskusi kolaboratif di Dinas Pendidikan Provinsi Lampung.

Kegiatan ini memberi ruang bagi peserta untuk melihat isu lingkungan dari berbagai sudut pandang. Bersama komunitas yang bergerak di bidang sosial dan lingkungan, para pelajar diperkenalkan pada persoalan ekologis di sekitar mereka, sekaligus pada pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mendorong perubahan.

Suasana ruang diskusi yang terbuka membuat peserta leluasa bertanya, menanggapi, dan berbagi pengalaman dari lingkungan masing-masing.

Pada sesi awal, Muhammad Faruq Asshiddiq, Koordinator Turun Tangan Lampung, membawakan materi mengenai peningkatan kesadaran dan tindakan nyata. Ia mengajak peserta memahami bahwa perubahan tidak selalu bermula dari langkah besar, melainkan dari kesediaan untuk peduli dan bertindak.

Sesi berikutnya diisi Mustakim, Ketua Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Lampung, yang mengulas krisis lingkungan hidup di Provinsi Lampung dan dampaknya terhadap ruang hidup masyarakat.

Paparan tersebut memberi gambaran konkret bahwa persoalan lingkungan berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari warga.

Setelah sesi materi, peserta bekerja dalam kelompok untuk memilih isu yang ingin mereka kaji. Dengan menggunakan metode 5W+1H dan 5 Whys, mereka menelusuri penyebab persoalan, memetakan pemangku kepentingan, serta mengumpulkan perspektif melalui wawancara dan observasi.

Proses ini mendorong peserta untuk tidak terburu-buru menyimpulkan masalah sebelum benar-benar memahami konteksnya. Dari sana, mereka belajar bahwa setiap persoalan memiliki lapisan sebab dan pihak-pihak yang terdampak maupun berperan, sehingga solusi yang baik membutuhkan pemahaman yang utuh.

baca juga

Hasil diskusi kemudian dikembangkan menjadi gagasan dan pernyataan sikap yang disampaikan melalui sesi Ideas Presentation. Setiap kelompok mendapat waktu tiga menit untuk mempresentasikan hasil pemikirannya dalam format kreatif, mulai dari teater, puisi, hingga pidato.

Melalui sesi ini, peserta berlatih menyusun gagasan secara kolaboratif dan menyampaikan pandangan berdasarkan persoalan yang telah mereka telaah, bukan sekadar opini yang tidak berdasar.

Pengalaman ini juga mempertemukan pelajar dari latar belakang sekolah yang berbeda. Pertukaran perspektif menjadi bagian penting dari proses belajar, karena persoalan lingkungan tidak selalu dapat dipahami melalui satu sudut pandang saja.

Dibutuhkan keterbukaan untuk mendengarkan, kemampuan mengidentifikasi akar masalah, dan kemauan bekerja bersama untuk merumuskan respons yang relevan. Interaksi lintas sekolah ini turut membangun rasa saling menghargai di antara peserta yang sebelumnya belum saling mengenal.

Kawula17 Goes to School merupakan program di bawah Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas (PP17), yayasan independen, nirlaba, dan nonpartisan yang mendorong partisipasi warga dalam kehidupan demokrasi.

Melalui kolaborasi bersama Kawula17.id dan AIESEC in Unila, program ini mengajak generasi muda memahami persoalan publik dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar dapat menyampaikan aspirasi secara konstruktif.

Pelaksanaan program di Bandar Lampung turut melibatkan Turun Tangan Lampung, WALHI Lampung, Bank Sampah Golden, dan Ruang Pangan. Kehadiran para mitra memperkaya ruang belajar dengan perspektif dari komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu sosial dan lingkungan, mulai dari advokasi, pengelolaan sampah, hingga ketahanan pangan. Keberagaman latar belakang mitra membantu peserta melihat bahwa upaya menjaga lingkungan dapat ditempuh melalui banyak jalur.

baca juga

Melalui kegiatan ini, kepedulian lingkungan menjadi titik awal bagi pelajar untuk mempelajari persoalan secara lebih mendalam, bertukar perspektif, dan merumuskan gagasan. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung tumbuhnya generasi muda yang tidak hanya peka terhadap masalah di sekitarnya, tetapi juga mampu berpartisipasi dalam percakapan publik dan upaya mencari solusi bersama.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.