Nama Dewa Budjana kembali menjadi sorotan menjelang konser Guns N’ Roses di Jakarta pada 21 November 2026. Gitaris GIGI tersebut dipercaya menjadi music director dalam penampilan 9 Dewa Gitar Indonesia yang akan membuka konser grup rock asal Amerika Serikat itu.
Pertunjukan ini akan mempertemukan sembilan musisi lintas generasi yang memiliki perjalanan panjang dalam musik Indonesia. Konsep tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali perkembangan musik rock Tanah Air melalui karya dan karakter permainan masing-masing gitaris.
Perjalanan Dewa Budjana Menekuni Musik
Dewa Budjana memiliki nama lengkap I Dewa Gede Budjana. Ia lahir pada 30 Agustus 1963 dan dikenal sebagai gitaris, pencipta lagu, sekaligus komposer yang telah berkarier selama puluhan tahun.
Ketertarikannya terhadap gitar tumbuh sejak kecil ketika tinggal di Klungkung, Bali. Perjalanan musiknya kemudian berlanjut ke Surabaya, tempat ia mulai aktif bermain musik bersama teman-teman sekolahnya.
Ketika duduk di bangku SMA, Budjana membentuk grup Squirrel bersama rekan-rekannya. Band tersebut mengusung musik jazz dan mengikuti berbagai kegiatan musik dan kompetisi.
Setelah lulus SMA, Budjana nekat melanjutkan perjalanan kariernya ke Jakarta. Ia mulai terlibat dalam berbagai proyek musik dan berkesempatan belajar dari sejumlah musisi berpengalaman, termasuk maestro jazz Jack Lesmana.
Pengalaman tersebut turut memperluas eksplorasi musikalnya. Permainan Budjana kemudian berkembang dengan memadukan unsur rock, jazz, dan pengaruh musik tradisional Bali.
Menjadi Bagian dari Perjalanan Panjang GIGI
Nama Dewa Budjana semakin dikenal luas setelah bergabung dengan GIGI, grup musik yang dibentuk pada 1994 bersama Armand Maulana, Thomas Ramdhan, Ronald Fristianto, dan Baron.
Bersama GIGI, Budjana ikut membangun karakter musik band melalui permainan gitar dan kontribusinya dalam penulisan lagu. Grup tersebut kemudian dikenal lewat sejumlah album, seperti Angan (1994), Dunia (1995), dan 3/4 (1996).
Perjalanan GIGI juga mengalami perubahan formasi. Baron meninggalkan grup pada 1995, tetapi Budjana tetap melanjutkan kariernya bersama band tersebut hingga menjadi salah satu personel yang identik dengan GIGI.
Di luar aktivitas bersama band, Budjana tetap mengembangkan karya solonya. Ia merilis sejumlah album instrumental yang memperlihatkan eksplorasi musik jazz fusion dan perpaduan dengan unsur budaya Indonesia.
Beberapa karyanya antara lain Nusa Damai (1997), Gitarku (2000), Samsara (2003), dan Dawai in Paradise (2011). Melalui karya-karya tersebut, Budjana juga memperluas jangkauan musiknya ke pendengar internasional.
Eksplorasi Musik hingga Kolaborasi Internasional
Salah satu ciri permainan Dewa Budjana adalah kemampuannya mengeksplorasi berbagai gaya musik. Ia tidak membatasi karya pada karakter rock yang dikenal melalui GIGI, tetapi juga mengembangkan komposisi instrumental dengan pendekatan jazz fusion.
Dalam perjalanan kariernya, Budjana berkolaborasi dengan sejumlah musisi internasional, seperti gitaris John Frusciante, gitaris Band Red Hot Chilli Peppers.
Ia juga merilis sejumlah album melalui MoonJune Records, label yang dikenal menerbitkan karya musik jazz dan progressive. Album Dawai in Paradise dan Joged Kahyangan menjadi bagian dari perjalanan rekamannya bersama label tersebut.
Memimpin Penampilan 9 Dewa Gitar Indonesia
Pengalaman panjang Dewa Budjana di berbagai proyek musik menjadi bekal ketika ia dipercaya menjadi music director untuk penampilan 9 Dewa Gitar Indonesia. Pertunjukan tersebut dijadwalkan berlangsung sebagai pembuka konser Guns N’ Roses di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 21 November 2026.
Selain Budjana, jajaran gitaris yang akan tampil terdiri atas Ian Antono, Eet Sjahranie, Edi Kemput, Toto Tewel, Pay Burman, Azis MS, John Paul Ivan, dan Rhoma Irama.
Mereka berasal dari latar belakang musik yang beragam. Ada yang dikenal melalui perjalanan bersama God Bless, Edane, Jamrud, BIP, dan Boomerang, sementara Rhoma Irama dikenal luas sebagai musisi dangdut yang juga memiliki pengaruh musik rock.
Budjana bertugas meramu aransemen dan memimpin keseluruhan penampilan agar karakter permainan setiap musisi dapat tersaji dalam satu pertunjukan. Formatnya dirancang untuk memberikan ruang bagi masing-masing gitaris sekaligus menghadirkan kolaborasi di atas panggung.
Kehadiran sembilan gitaris tersebut juga menjadi cara untuk memperlihatkan perjalanan musik rock Indonesia kepada penonton konser internasional. Para musisi yang memiliki latar belakang dan generasi berbeda akan bertemu dalam satu panggung sebelum penampilan utama Guns N’ Roses.


