Coba jawab cepat, kalau mendengar kata batik motif apa yang langsung muncul di kepalamu? Parang? Kawung? Mega mendung? Tenang, kamu tidak sendirian. Motif-motif itu memang sudah lama menjadi "selebritas" di panggung batik Nusantara.
Namun, tahukah kamu bahwa di tanah Khatulistiwa tempat kita berpijak ada dua motif yang pesonanya tak kalah dan ceritanya sama dalamnya? Kenalkan sama Corak Insang dan Tidayu.
Waktunya pun pas. Oktober adalah bulan batik, dan beberapa hari lagi Kota Pontianak merayakan hari jadinya pada 23 Oktober, yang tahun ini memasuki usia ke-255. Karena itu, AIESEC in Untan mengajakmu berkenalan lebih dekat dengan dua warisan Kalimantan Barat ini. Siap? Yuk, kita mulai.
Corak Insang: Hanya Insangnya, Bukan Ikannya
Mari mulai dari namanya. Insang adalah bagian tubuh ikan yang membuatnya bisa bernapas. Motif ini lahir dari masyarakat Melayu Pontianak yang bermukim di sepanjang Sungai Kapuas, yang kehidupannya lekat dengan ikan
Uniknya, yang diabadikan bukan gambar ikan utuh, melainkan bagian paling vital dari ikan itu. Maknanya pun dalam yaitu rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghargaan pada hal paling mendasar yang membuat makhluk hidup bertahan.
Menurut kami, ini filosofi yang patut diacungi jempol. Leluhur kita memilih menghormati "napas kehidupan" ketimbang tampilan luar yang megah. Sederhana, tetapi menohok.
Lalu, seberapa tua motif ini? Ia lekat dengan masa Kesultanan Kadriyah Pontianak yang berdiri pada 1771, dan konon motif tertuanya sudah dikenal sejak sultan pertama. Awalnya, kain ini hanya dikenakan kerabat kesultanan, lalu perlahan dipakai masyarakat Melayu secara luas.
Ia bahkan pernah tampil di Belanda, ketika istri Sultan ke-VI Pontianak mengenakannya dalam acara kerajaan atas undangan Ratu Wilhelmina. Jauh sebelum ada tren outfit of the day, kain ini sudah lebih dulu tampil di hadapan para tamu kerajaan.
Satu catatan penting. Corak Insang sejatinya berawal sebagai kain tenun, dan pada 2017 tenun ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya takBenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Motifnya kemudian diterjemahkan pula ke dalam batik, sehingga kini hadir di berbagai medium.
Pemerintah Kota Pontianak bahkan mewajibkan pemakaiannya sebagai pakaian seragam di sekolah dan perkantoran pada hari-hari tertentu.
Inovasinya pun tak berhenti: pada Mei 2026, seorang desainer muda Kalimantan Barat memperkenalkan koleksi Corak Insang dengan teknik sulam. Warisan lama, tetapi gayanya terus segar.
Tidayu: Tiga Budaya, Satu Kain
Kalau Corak Insang bercerita tentang akar Melayu Pontianak, Tidayu bercerita tentang kebersamaan. Namanya singkatan dari Tionghoa, Dayak, dan Melayu, tiga kelompok etnis besar di Kalimantan Barat.
Batik Tidayu memadukan unsur ketiganya: kipas yang mewakili Tionghoa, tameng yang mewakili Dayak, dan bunga pucuk rebung yang mewakili Melayu. Anggap saja ini proyek kolaborasi lintas budaya, hanya saja hasilnya berupa selembar kain yang cantik.
Saat ini ada 6 motif Tidayu dengan ciri masing-masing yaitu Lembayung, Beuntai, Lampion, Rimba, Harmoni, dan Bangau. Semuanya mencerminkan keselarasan antaretnis dan budaya yang hidup di Singkawang.
SatuΒ fun fact lagi, proses membatik di Kalimantan Barat bisa memakan waktu satu bulan hingga dua tahun, bergantung pada tujuan pembuatan dan kerumitan warnanya.
Dua tahun itu setara empat semester kuliah,Β lho, untuk selembar kain. Jadi, setiap helai yang kamu lihat adalah hasil kesabaran yang luar biasa.
Kenapa Anak Muda Perlu Peduli?
Jujur saja, budaya tidak akan lestari hanya karena tersimpan rapi di museum atau buku pelajaran. Ia hidup ketika dipakai, dibicarakan, dan dibanggakan, dan di situlah peran kita sebagai anak muda. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjadi duta bagi kain-kain ini?
Upaya menjaga warisan budaya juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan.
Kabar baiknya, ikut melestarikan tidak harus rumit. Mulailah dari langkah kecil. Kenakan kainnya di berbagai acara, tidak perlu menunggu hari jadi kota. Padukan dengan busana kesukaanmu, istilah kerennya mix and match.
Beli langsung dari pengrajin atau UMKM lokal agar mereka terus berkarya. Lalu ceritakan kisahnya di media sosial, karena satu unggahan kecil bisa membuat satu motif dikenal lebih luas.
Jadi, yuk, mulai dari sekarang! Pakai Corak Insang ke acara kampus, unggah foto Tidayu favoritmu, dan ceritakan maknanya kepada teman-temanmu. Siapa tahu, kamulah yang akan membuat motif-motif ini naik daun. Batik Kalimantan Barat sudah siap tampil, tinggal menunggu kamu menjadi pendukung terdepannya!


