Tak jarang kita temui keadaan, ketika guru melempar sebuah pertanyaan dalam bahasa Inggris, di kepala kita jawabannya sudah tersusun rapi, kosa katanya ada. Namun sayangnya kita tidak cukup percaya diri untuk menjawabnya. Bukan karena bingung, melainkan karena takut salah. KawanΒ pernah merasakan hal yang sama?
Situasi ini memang tak jarang dialami oleh murid-murid di ruang kelas. Mereka sebenarnya bisa mengerjakan soal tertulis dengan baik, tetapi seketika membisu saat diminta berbicara. Entah karena takut ditertawakan, takut salah ucap, atau takut terdengar aneh.
Tantangan inilah yang ingin dijawab melalui kolaborasi AIESEC in UNS bersama dengan First Rise English Education melalui dua rangkaian kegiatan di Karanganyar dan Sragen.
Rangkaian pertama diselenggarakan pada 29 September 2026, di MTsN 1 Karanganyar dalam program PK Fullday Sains English School Program. Sementara, agenda kedua berlangsung pada 30 September hingga 1 Oktober 2026 di SMP IT Az Zahra Sragen dengan tema βSuper Language.β
Rangkaian dua kegiatan tersebut bertujuan untuk mengajak murid-murid di sana mengalami pengalaman baru dalam memahami budaya lintas budaya, berlatih berbicara bahasa Inggris secara langsung dengan orang asing, sekaligus mendorong kesadaran murid-murid mengenai betapa pentingnya bahasa tersebut.
Yang membuat kelas ini berbeda dari pelajaran bahasa Inggris lainnya adalah adanya kehadiran pembicara dari luar negeri. Tharushi Dodangoda dan Thamari Rathnayake dari University of Kelaniya, Sri Lanka, hadir untuk berbagi pengalaman mereka dengan para murid.
Bagi murid yang jarang berinteraksi dengan penutur asing, kehadiran Tharushi Dodangoda dan Tharushi Rathnayake tentu mengubah keadaan.
Bahasa Inggris tidak lagi sekadar materi formal yang diajarkan guru. Ia menjadi alat untuk benar-benar berkomunikasi dengan seseorang yang tidak bisa berbicara dalam bahasa Indonesia.
Kedua pembicara tersebut juga punya cara pandang yang saling melengkapi mengenai pentingnya bahasa Inggris dalam kehidupan kita.
βBy learning English, you can discover many beautiful things in every country you visit,β kata Thamari Dodangoda. Menurutnya, bahasa Inggris mampu membuka pintu untuk menemukan hal-hal indah di setiap negara yang nantinya akan kita kunjungi.
Tharushi Rathnayake pun turut menekankan dari sisi yang lebih mendasar. βEnglish is an essential basic skill we must have today, by speaking it, you will connect with people all around the world,β ujarnya.
Kedua pendapat tersebut sama-sama percaya bahwa dalam penggunaan bahasa Inggris, kita tidak perlu lagi terlalu memperdulikan pelafalan yang sempurna atau grammar yang ideal. Karena seorang penutur asing yang sedang berbicara dengan murid-murid pun tidak sedang menilai tata bahasa mereka.
Ia sedang berusaha dimengerti di tengah perbedaan bahasa keduanya, sama seperti para murid tersebut.
Itu sebabnya ruang untuk berlatih berbahasa Inggris yang santai menjadi penting. Karena bagaimanapun, keberanian berbicara tidak tumbuh dari seberapa rajin kita menghafal, tetapi dari pengalaman berbicara yang terus diulang sampai kita terbiasa.
Bagi AIESEC in UNS, kegiatan semacam ini sejalan dengan semangat AIESEC dalam menghadirkan pengalaman lintas budaya kepada lebih banyak anak muda. Dengan kolaborasi bersama First Rise English Education, pengalaman itu diharapkan bisa dirasakan langsung oleh para pemuda di sekolah.
Β
Β
Penulis: Nakeisha Azzahra


