Bagaimana caranya membuat anak-anak memahami bahwa pelajaran bahasa dan matematika di kelas ternyata berhubungan langsung dengan persoalan dunia? Jawaban itu dicoba diwujudkan AIESEC in Unila melalui program Global Volunteer: Global Classroom, yang berlangsung pada 1โ29 Agustus 2026 di Tunas Mekar Indonesia School, Lampung.
Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi dasar anak-anak dan remaja, sekaligus menumbuhkan kesadaran mereka tentang pendidikan kewarganegaraan serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Dengan kata lain, ruang kelas tidak hanya menjadi tempat belajar membaca dan berhitung, tetapi juga tempat memahami dunia yang lebih luas.
Ada tiga kebutuhan utama yang ingin dijawab program ini. Pertama, kemampuan membaca, menafsirkan, dan menyusun teks tertulis. Kedua, kemampuan berhitung dasar dan memahami konsep angka dalam kehidupan sehari-hari, seperti harga dan persentase.
Ketiga, pemahaman nilai-nilai kewarganegaraan yang dihubungkan dengan tema SDGs yang relevan melalui mata pelajaran yang sudah dipelajari siswa setiap hari.
Pendekatan ini penting karena anak-anak sering kali melihat mata pelajaran sebagai hal yang terpisah dari kehidupan nyata. Melalui program ini, pelajaran bahasa Inggris dan matematika dijadikan pintu masuk untuk mengenalkan isu-isu global, sehingga siswa dapat melihat bahwa angka, kata, dan cerita memiliki makna di luar buku pelajaran.
Selama 2 pekan pembelajaran langsung, yakni 10โ13 Agustus dan 17โ20 Agustus 2026, relawan global mendampingi guru dalam kelas bahasa Inggris dan/atau matematika, Senin hingga Kamis.
Relawan membantu penyampaian materi, mendampingi siswa saat mengerjakan aktivitas, serta membantu guru mencapai tujuan pembelajaran di setiap sesi. Setiap kunjungan kelas dihadiri sekitar 30 siswa.
Tema SDGs yang diangkat dipilih bersama para guru, kemudian diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran. Kolaborasi ini memastikan bahwa kegiatan tetap sejalan dengan rencana belajar sekolah dan memberi hubungan yang bermakna antarmata pelajaran.
Program ini menargetkan sejumlah luaran: bertambahnya jumlah penerima manfaat yang menunjukkan peningkatan kemampuan literasi dan numerasi; meningkatnya kemampuan membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya; terlaksananya pelajaran di bidang literasi, matematika, dan bahasa; serta membaiknya pemahaman pendidikan kewarganegaraan melalui integrasi tema SDGs.
Tujuan lainnya adalah meningkatkan kemampuan anak-anak menghubungkan pelajaran akademik dengan isu kehidupan nyata dan tantangan global. Di sisi lain, relawan global berkontribusi langsung dalam memperkuat pengetahuan dasar komunitas, terutama di bidang numerasi dan bahasa.
Keistimewaan program ini terletak pada suasana pembelajarannya yang interkultural. Kehadiran relawan dari luar negeri memberi anak-anak kesempatan berlatih bahasa Inggris secara langsung, sekaligus memperluas sudut pandang mereka tentang dunia.
Kegiatan ini mendukung perolehan pengetahuan dan pengembangan perspektif para penerima manfaat dalam waktu bersamaan.
Program ditutup dengan tahap evaluasi. Pada 24 Agustus 2026, tim proyek menggabungkan hasil survei dan masukan lain untuk meninjau perkembangan siswa dan capaian program secara keseluruhan. Pada 26 Agustus 2026, pertemuan akhir dengan perwakilan sekolah digelar untuk membahas hasil, menerima umpan balik, dan menyerahkan sertifikat atau tanda apresiasi.
Pelaksanaan program ini melibatkan TMI, relawan global, serta tim proyek AIESEC in Unila. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan selama empat pekan, mulai dari persiapan hingga evaluasi.
Melalui Global Classroom, AIESEC in Unila menegaskan keyakinannya bahwa pendidikan yang baik bukan hanya soal menguasai materi, tetapi juga membangun rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap dunia. Anak-anak yang belajar menghubungkan pelajaran dengan isu nyata hari ini adalah warga dunia yang lebih siap esok hari.


