kampus turun ke lereng merapi akprind dan sttkd hadirkan teknologi tepat guna bagi petani dan pembudidaya ikan di argomulyo cangkringan sleman - News | Good News From Indonesia 2026

Kampus Turun ke Lereng Merapi: AKPRIND dan STTKD Hadirkan Teknologi Tepat Guna bagi Petani dan Pembudidaya Ikan di Argomulyo, Sleman

Kampus Turun ke Lereng Merapi: AKPRIND dan STTKD Hadirkan Teknologi Tepat Guna bagi Petani dan Pembudidaya Ikan di Argomulyo, Sleman
images info

Argomulyo berada di ketinggian sekitar 400 hingga 449 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meski potensinya besar, budidaya masih konvensional, keters


Di lereng selatan Gunung Merapi, tanah vulkanik yang subur selalu berpacu dengan tantangan: kemarau yang menyulitkan penyiraman, tenaga tanam yang terbatas, limbah pertanian yang menumpuk, biaya pakan ikan yang mahal, dan listrik padam yang mengancam kolam. Petani dan pembudidaya ikan di Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, merasakan semuanya.

Universitas AKPRIND Indonesia dan Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Yogyakarta menjawabnya lewat Program Kosabangsa. Dua kampus ini menghadirkan teknologi tepat guna (TTG) hasil riset dosen untuk Kelompok Tani โ€œNgudi Makmurโ€ dan Kelompok Budidaya Ikan โ€œMina Mudal Mandiriโ€, dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai penopang utama

Kegiatan ini merupakan implementasi Program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat) tahun 2026 dengan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, serta Kementerian Pendidian Tinggi dan Saintek.ย 

Potensi Besar dan Perlu Sentuhan Teknologi Tepat Guna

Argomulyo berada di ketinggian sekitar 400 hingga 449 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meski potensinya besar, budidayanya masih konvensional. Selain itu, ketersediaan air masih memerlukan perhatian saat kemarau dan sisa tanaman sering dibakar atau dibuang.

baca juga

Pembudidaya ikan pun masih bergantung pada pakan pabrikan yang mahal, dengan sistem kolam tanah dan terpal yang sederhana.

Hasil panen umumnya dijual mentah tanpa merek dan kemasan. Salah satu solusinya adalah penggunaan teknologi tepat guna dalam pengelolaan area pertanian dan perikanan.

Untuk Petani: Tanam Otomatis, Limbah jadi Pupuk, Matahari jadi Air

Dalam pelaksanaan Kosabangsa ini, tim dosen AKPRIND dan STTKD menawarkan sejumlah teknologi tepat guna, yaitu Tabela, mesin KOHE, mesin pencacah limbah pertanian, dan PLTS.

Tabela, penanam padi otomatis

Mesin tanam benih langsung (Tabela) cara kerjanya adalah menanam padi secara otomatis dan berbaris rapi. Petani tidak perlu lagi menyiapkan persemaian dan mencabut bibit untuk dipindah tanam. Pekerjaan yang biasanya memakan banyak tenaga dan waktu menjadi lebih cepat, hemat benih, dan hasilnya lebih seragam.

baca juga

Mesin KOHE

Mesin KOHE bekerja dengan kotoran hewan. Alat tersebut dilengkapi dengan pendorong dan konveyor hasil modifikasi dari paten sederhana, mengolah kotoran ternak dan bahan organik menjadi pupuk organik dengan lebih cepat dan berkualitas.

Pupuk ini membantu petani mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, dengan target penurunan 20 hingga 30 persen.

Mesin pencacah limbah pertanian

Pada alat ini, jerami, sisa tanaman, dan rumput dicacah menjadi bahan baku kompos sehingga tidak lagi dibakar. Targetnya, minimal 70 persen limbah pertanian termanfaatkan dan waktu pencacahan berkurang 60 persen.

PLTS untuk penyiraman

Pompa air tenaga surya dipadukan dengan irigasi tetes (drip irrigation) untuk tanaman hortikultura seperti cabai dan sayuran.

baca juga

Matahari yang melimpah saat kemarau menggerakkan pompa tanpa bahan bakar dan tanpa tagihan listrik, lalu air dialirkan langsung ke akar tanaman. Dengan begini, efisiensi air ditargetkan naik 20 hingga 30 persen.

Untuk Pembudidaya Ikan: Bioflok, Olahan Lele, dan Listrik Cadangan

Bagi pembudidaya ikan, tim dosen AKPRIND dan STTKD menghadirkan bioflok, alat pengasap ikan lele, dan PLTS.

Bioflok

Sistem bioflok diterapkan pada kolam terpal agar budidaya lele lebih intensif. Padat tebar dapat ditingkatkan 20 hingga 30 persen, sementara kualitas air lebih terjaga dengan pergantian air yang lebih sedikit. Produktivitas panen ditargetkan naik 20 persen.

Alat pengasap ikan lele

Lele hasil panen tidak lagi hanya dijual segar. Dengan alat pengasap, pembudidaya dapat membuat lele asap bernilai tambah. Kelompok ini menargetkan minimal dua produk olahan baru dengan kenaikan nilai jual hingga 30 persen.

baca juga

PLTS sebagai โ€œpenyelamat saat listrik padamโ€

Panel surya mengisi baterai pada siang hari. Saat listrik jaringan padam, energi cadangan menjalankan aerator, pompa sirkulasi, dan perangkat pemantau kualitas air, sehingga pasokan oksigen kolam tidak terputus.

Tak Berhenti di Mesin

Kedua mitra juga didampingi dalam hilirisasi dan pemasaran: pengolahan hasil panen, pembuatan merek, label, dan kemasan, pemasaran lewat WhatsApp Business, Instagram, dan marketplace, serta pembukuan usaha sederhana.

Program ini melibatkan dosen teknik mesin, teknik elektro, teknik lingkungan, informatika, dan manajemen.

Teknologinya merupakan hilirisasi hasil riset dan kekayaan intelektual kampus, di antaranya paten mesin pengering berbasis biomassa serta hak cipta mesin pencacah rumput dan mesin penghancur kotoran hewan.

baca juga

Dikelola Warga, Dirawat Bersama

Anggota kelompok dilatih mengoperasikan dan merawat seluruh peralatan. Mahasiswa membantu pelatihan dan dokumentasi, sementara Pemerintah Kalurahan Argomulyo mendukung keberlanjutan program.

Kader teknologi dari kalangan warga disiapkan agar setelah pendampingan selesai, kelompok dapat mengelola sistem secara mandiri dan mereplikasinya ke kelompok lain di sekitar Merapi.

Dari lereng gunung yang sejuk dan ada kerawanan bencana dari Gunung Merapi, Argomulyo menunjukkan bahwa petani dan pembudidaya ikan bisa dikerjakan dengan bantuan teknologi tepat guna.

Dari sini, limbah bisa menjadi pupuk, energi matahari dapat menjaga lahan tetap basah, serta kolam tetap hidup, bahkan saat listrik padam.

baca juga

Melalui KOSABANGSA, kehadiran Universitas AKPRIND Indonesia dan STTKD di Argomulyo merupakan wujud kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat.

Hasil riset dosen tidak berhenti di laboratorium dan jurnal, tetapi dihilirisasi menjadi teknologi tepat guna yang membantu petani dan pembudidaya ikan meningkatkan produktivitas, menekan biaya, dan menambah nilai jual hasil usaha.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.