merawat ingatan menata sejarah tim 13 ekspedisi patriot ui bersama masyarakat adat di kawasan transmigrasi werianggi werabur - News | Good News From Indonesia 2026

Merawat Ingatan, Menata Sejarah: Tim 13 Ekspedisi Patriot UI bersama Masyarakat Adat di Kawasan Transmigrasi Werianggi-Werabur

Merawat Ingatan, Menata Sejarah: Tim 13 Ekspedisi Patriot UI bersama Masyarakat Adat di Kawasan Transmigrasi Werianggi-Werabur
images info

Wawancara mendalam dengan tokoh adat | Dokumentasi pribadi


Sejarah sebuah marga jarang tersimpan di dalam buku. Ia hidup di ingatan para tetua, dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan baru terasa berharga ketika ada yang bertanya.

Itulah yang dilakukan Tim 13 Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI) di Kawasan Transmigrasi (KT) Werianggi-Werabur sepanjang September hingga Oktober 2026: bertanya, mendengarkan, lalu mengajak masyarakat adat menata kembali cerita mereka sendiri.

Mengapa Sejarah Marga Perlu Dicatat?

Kampung Werianggi dan Kampung Tamoge merupakan kampung induk bagi satuan permukiman (SP) di KT Werianggi-Werabur. Di kedua kampung ini tinggal masyarakat adat asli dari tiga marga, yaitu Kurube, Werianggi, dan Tatiorim, yang dikenal dengan sebutan KUWETA.

Sementara itu, Kampung Werabur dihuni oleh empat marga yaitu Kandami, Torembi, Wettebosi, dan Wekaburi yang hidup dalam satu ikatan kebersamaan.

baca juga

Bagi masyarakat adat setempat, marga bukan sekadar nama keluarga. Marga menyimpan asal-usul, aturan hidup bersama, dan hubungan dengan tanah yang mereka tempati. Namun, pengetahuan itu belum seluruhnya terdokumentasi secara tertulis.

Seiring perubahan zaman dan berjalannya pembangunan di wilayah mereka, catatan yang jelas dan disepakati bersama menjadi semakin penting, baik untuk menjaga kerukunan di dalam ataupun antar marga, maupun agar generasi muda memiliki pegangan untuk mengenal asal-usulnya.

Atas dasar itu, Tim 13 menyiapkan serangkaian kegiatan dengan satu tujuan: menghimpun data sejarah dan marga yang akurat, lalu menyusunnya menjadi bahan profil adat, budaya, dan sejarah marga yang dapat dipakai masyarakat di kemudian hari.

Dimulai dari Mendengar Para Tetua

Tahap pertama adalah wawancara mendalam yang berlangsung pada 15 hingga 29 September 2026. Tim 13 menemui 12 narasumber dari kalangan tokoh adat tiga marga KUWETA, antara lain pengurus Dewan Adat Marga KUWETA (DAM KUWETA), kepala dan penasihat marga, hingga tua-tua adat. Para narasumber berbagi cerita tentang sejarah dan marga mereka.

baca juga

Cerita-cerita tersebut kemudian diolah tim menjadi satu kesimpulan untuk setiap topik. Kesimpulan itulah yang dibawa kembali kepada masyarakat untuk diperiksa bersama, sebab yang berhak menyatakan sebuah catatan sejarah sudah benar atau belum adalah pemiliknya sendiri.

Pos batas wilayah dan hak ulayat kegiatan validasi data sejarah KUWETA | Dokumentasi pribadi
info gambar

Pos batas wilayah dan hak ulayat kegiatan validasi data sejarah KUWETA | Dokumentasi pribadi


Memeriksa Sejarah Bersama di Werianggi

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, sejak pukul 15.30 hingga 20.30 WIT, 20 peserta berkumpul di Kampung Werianggi untuk mengikuti kegiatan validasi data sejarah marga KUWETA. Mereka terdiri atas tokoh adat dan perwakilan dari ketiga marga.

Kegiatan ini memakai metode gallery walk. Hasil olah data dipajang dalam bentuk poster pada empat pos, dan setiap pos membahas satu topik: sejarah wilayah, asal-usul marga, tata kelola marga, serta batas wilayah dan hak ulayat.

Peserta dibagi menjadi empat kelompok dan dibekali buku panduan (booklet), lalu berkeliling dari pos ke pos dengan didampingi seorang fasilitator di setiap pos. Mereka membaca isi poster, mengoreksi, dan menambahkan data.

baca juga

Masukan dapat ditulis pada kertas tempel (sticky notes) lalu ditempelkan langsung pada poster, atau disampaikan secara lisan kepada fasilitator untuk dicatat.

Setelah semua kelompok menyelesaikan putaran, seluruh masukan dibawa ke sesi forum. Di forum itu peserta membahas dan menyepakati bersama koreksi serta tambahan data yang terkumpul.

Kesan para peserta terdengar sederhana, tetapi jelas. โ€œTerima kasih kepada Tim 13 TEP UI telah mengingatkan kami untuk kami punya sejarah,โ€ ujar salah seorang peserta. Peserta lain menambahkan, โ€œTim 13 mengumpulkan kami, jadi dari yang awalnya sejarah ini kabur jadi bisa mulai terlihat jelas.โ€

Kesan serupa datang dari kalangan muda, โ€œKami anak-anak muda marga jadi tahu lebih banyak dari yang awalnya kurang tahu,โ€ kata seorang peserta muda.

baca juga

Forum kegiatan validasi data sejarah KUWETA | Dokumentasi pribadi
info gambar

Forum kegiatan validasi data sejarah KUWETA | Dokumentasi pribadi


Berdiskusi bersama Empat Marga di Werabur

Di Kampung Werabur, Tim 13 menyelenggarakan focus group discussion (FGD) tentang sejarah dan marga pada Kamis, 1 Oktober 2026. Keempat marga di kampung ini diwakili oleh para kepala marganya, yang hadir untuk berbagi pengetahuan dan menyampaikan pandangan masing-masing.

Diskusi berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Pertanyaan diajukan secara runtut dan dijawab bergiliran oleh para kepala marga, dengan kesempatan yang sama bagi setiap marga untuk menjelaskan.

Forum berjalan tertib tanpa perdebatan. Setelah seluruh pemaparan selesai, data dan masukan dihimpun, diselaraskan, lalu diputuskan bersama oleh keempat kepala marga. Cara bermusyawarah ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat setempat dalam menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

FGD di Kampung Werabur | Dokumentasi pribadi
info gambar

FGD di Kampung Werabur | Dokumentasi pribadi


Dari Catatan menjadi Bekal

Rangkaian wawancara, validasi, dan FGD ini menghasilkan data sejarah dan marga yang telah disepakati bersama oleh tokoh adat dan perwakilan marga di kawasan ini. Data tersebut akan menjadi bahan penyusunan profil adat, budaya, dan sejarah marga.

baca juga

Profil itu diharapkan dapat dipakai masyarakat di kemudian hari, misalnya sebagai rujukan bagi tokoh adat, bahan belajar bagi generasi muda, dan pegangan ketika berkoordinasi dengan pemerintah maupun pihak lain.

Tim 13 menyadari perannya hanya sebagai penyambung. Cerita, ingatan, dan keputusan tetap berada di tangan masyarakat adat. Yang kini bertambah adalah catatannya, sehingga sejarah yang selama ini dituturkan dari mulut ke mulut dapat dibaca pula oleh anak cucu mereka kelak.

Tim 13 mengucapkan terima kasih kepada seluruh tokoh adat, narasumber, dan peserta yang telah meluangkan waktu serta berbagi pengetahuan selama kegiatan berlangsung.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.