Kisah dua saudara dan nenek Puti Wolo adalah salah satu cerita rakyat yang berkembang di daerah Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Legenda ini berkisah tentang kecerdikan dua kakak beradik yang berhasil lepas dari ancaman nenek menyeramkan bernama Puti Wolo.
Berikut kisah lengkap dari cerita rakyat Manggarai, Nusa Tenggara Timur tersebut.
Kisah Dua Saudara dan Nenek Puti Wolo, Cerita Rakyat dari Manggarai Nusa Tenggara Timur
Dinukil dari buku Cerita Rakyat Manggarai, alkisah pada zaman dahulu hiduplah sebuah keluarga kecil di pinggir hutan. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, dan kedua putranya.
Keluarga ini memiliki sebuah kebun yang ada di pinggir hutan. Hasil kebun inilah yang mereka olah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pada suatu hari, dua saudara ini diminta oleh kedua orang tua mereka berjaga di kebun. Sebab musim panen akan segera tiba tidak lama lagi.
Jika tidak dijaga, bisa saja hasil panen mereka sudah habis duluan dimakan oleh para monyet yang datang dari hutan. Oleh sebab itu, kedua saudara ini diminta untuk pergi berjaga malam itu juga.
Kedua saudara ini tentu menyanggupi permintaan orang tua mereka. Akhirnya kakak beradik ini pun bersiap untuk pergi ke kebun.
Sebelum berangkat, ibu mereka menyerahkan setabung kacang kecipir sebagai bekal perjalanan. Ketika semua persiapan sudah tersedia, berangkatlah kedua kakak beradik ini berangkat menuju kebun.
Sesampainya di sana, sang adik kemudian menghidupkan api di gubuk mereka. Sementara itu, sang kakak kemudian pergi berkeliling untuk meninjau kebun.
Saat tengah malam tiba, kedua bersaudara ini merasa kelaparan. Akhirnya mereka pun memetik beberapa sayuran yang sudah masak di kebun tersebut.
Setelah itu, mereka memasak sayur-sayuran itu bersama kacang kecipir yang dibekali oleh sang ibu sebelumnya. Mereka pun memasak masakan tersebut dengan semangat.
Tidak lama setelah itu, muncul seorang nenek dengan paras menyeramkan mendekati mereka. Nenek tersebut dikenal dengan nama Puti Wolo.
Nenek ini dikenal sebagai pemakan manusia. Saat kedatangannya itu, sang nenek juga tengah membawa mayat manusia yang dia dapatkan sebelumnya.
Melihat hal tersebut, kedua saudara ini langsung bersembunyi di dalam gubuk. Namun Puti Wolo lebih duluan tahu keberadaan kedua anak tersebut.
Puti Wolo pun duduk di perapian yang mereka buat sebelumnya. Dia pun membakar jasad manusia yang didapatkan sebelumnya.
Setelah itu, Puti Wolo memanggil kedua anak itu untuk mendekat. Dia pun mengajak kedua anak itu untuk makan bersama.
Dua saudara ini tentu tidak mungkin memakan makanan yang dimasak oleh Puti Wolo. Untungnya sang kakak bisa menjalankan akal pikirannya dengan cepat.
Dia berkata jika mereka akan makan tulang-tulangnya saja. Oleh sebab itu, mereka akan menunggu Puti Wolo memakan semua daging terlebih dahulu.
Puti Wolo pun memakan semua daging tersebut dengan lahap. Nenek menyeramkan tersebut akhirnya kekenyangan setelah menghabiskan semuanya.
Kedua saudara ini kemudian mengambil sisa tulang-tulangnya. Mereka pun berpura-pura memakan tulang-tulang itu.
Padahal kedua saudara ini sebenarnya memakan kacang kecipir yang sudah masak sebelumnya. Sang nenek yang melihat hal tersebut merasa takjub karena mengira kedua anak itu memakan tulang tersebut dengan lahap.
Perlahan-lahan, mata Puti Wolo mulai tertutup. Ternyata nenek menyeramkan tersebut kekenyangan setelah menghabiskan semua daging yang ada.
Akhirnya Puti Wolo jatuh tertidur juga. Sang kakak melihat kesempatan bagi mereka untuk melarikan diri.
Namun sebelum itu, kedua kakak beradik ini mengikat Puti Wolo di tiang gubuk mereka. Setelah itu barulah mereka pergi melarikan diri kembali ke rumah.
Pagi hari matahari mulai bersinar kembali. Puti Wolo pun terbangun dari tidur lelapnya.
Dia terkejut karena kedua anak yang semalam dia jumpai sudah menghilang. Bahkan dia tidak bisa pergi karena terikat kencang ke tiang gubuk tersebut.
Perlahan tubuh Puti Wolo mulai terbakar karena terkena sinar matahari. Akhirnya nenek menyeramkan tersebut menemui ajalnya di sana saat itu juga.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


