cagar alam pananjung pangandaran habitat rafflesia patma di pesisir selatan jawa barat - News | Good News From Indonesia 2026

Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Habitat Rafflesia Patma di Pesisir Selatan Jawa Barat

Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Habitat Rafflesia Patma di Pesisir Selatan Jawa Barat
images info

Dok. S Heaby Field (Google Maps)


Di kawasan semenanjung pesisir selatan Kabupaten Pangandaran, bentangan hutan tropis dan perairan karang membentuk Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Pananjung Pangandaran.

Berlokasi di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, kawasan seluas 419,3 hektare ini berdampingan langsung dengan area Taman Wisata Alam (TWA) Pangandaran. Topografinya bervariasi mulai dari dataran landai hingga perbukitan kapur dengan ketinggian rata-rata 100 meter di atas permukaan laut.

Keindahan kawasan ini terlihat dari rapatnya vegetasi hutan sekunder tua dan hutan primer yang berbatasan langsung dengan hamparan pasir pantai. Kawan dapat mengamati satwa liar yang bergerak bebas di balik naungan pohon-pohon besar sehingga kondisi alam di semenanjung ini tetap terasa sejuk sepanjang hari.

 

Sekilas Mengenai Cagar Alam Pananjung Pangandaran

Sejarah penetapan kawasan konservasi ini bermula pada tahun 1922 saat Residen Priangan Y. Eycken mengusulkan area perladangan warga untuk diubah menjadi taman buru. Pemerintah kolonial kemudian menetapkan area seluas 457 hektare ini sebagai Suaka Margasatwa berdasarkan surat keputusan tanggal 7 Desember 1934.

Status kawasan ini berubah menjadi Cagar Alam pada 20 April 1961 setelah ditemukannya bunga langka Rafflesia patma. Seiring berkembangnya kebutuhan rekreasi warga, pemerintah membagi area seluas 37,70 hektare menjadi Taman Wisata Alam pada tahun 1978.

Selanjutnya, kawasan perairan pantai seluas 470 hektare ditunjuk sebagai Cagar Alam Laut berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan pada 8 Maret 1990 untuk melindungi ekosistem terumbu karang.

 

Daya Tarik Utama Cagar Alam Pananjung Pangandaran

Daya tarik utama cagar alam ini berpusat pada kekayaan keanekaragaman hayati dan formasi gua karst alami. Kawasan hutan menjadi rumah bagi flora seperti pohon laban, kisegel, marong, nyamplung, hingga ketapang.

Kawasan ini juga menjadi habitat bagi satwa liar seperti kera abu-abu, lutung, rusa, kancil, landak, trenggiling, serta beragam jenis burung seperti kangkareng dan ayam hutan.

Kawan dapat menelusuri beberapa gua karst dan situs bersejarah di dalam kawasan. Terdapat Gua Lanang yang memiliki koridor panjang, Gua Panggung di tepi pantai selatan, Gua Parat, serta Gua Jepang yang dibangun oleh pekerja paksa pada tahun 1941 hingga 1945 sebagai benteng pertahanan maritim.

Selain itu, terdapat situs Batu Kalde atau Sapi Gumarang yang menyimpan arca batu serta reruntuhan prasasti peninggalan era Kerajaan Pananjung.

Area Cagar Alam Laut menyimpan formasi karang batu seperti Acropora sp. dan Fungia sp. yang dihuni berbagai jenis ikan hias. Kawan juga bisa mengunjungi Padang Penggembalaan Cikamal seluas 20 hektare yang menjadi area terbuka tempat berkumpulnya kawanan rusa dan banteng.

 

Akses Menuju Cagar Alam Pananjung Pangandaran

Perjalanan menuju kawasan semenanjung Pananjung terbilang mudah karena rute jalan utama dari pusat Kota Pangandaran sudah teraspal mulus. Kawan dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat hingga sampai ke pelataran parkir gerbang masuk Taman Wisata Alam.

Akses melintasi kawasan konservasi dapat ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri rute setapak yang membelah hutan. Pengunjung juga dapat menyewa perahu motor milik nelayan lokal dari Pantai Barat atau Pantai Timur untuk menjangkau area Pasir Putih dan Cagar Alam Laut dari rute perairan.

Jam Operasional dan Perlengkapan Kunjungan

Kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Pangandaran beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Kunjungan pada pagi hari sangat disarankan agar Kawan dapat menjelajahi rute hutan dan area gua sebelum cuaca memasuki tengah hari.

Pengunjung perlu menyiapkan perbekalan air minum dan makanan ringan secara mandiri karena pengelola tidak menyediakan warung di dalam area cagar alam. Kawan juga disarankan membawa senter penerang untuk memasuki lorong gua karst, mengenakan sepatu khusus lintas alam, serta memakai tabir surya agar perjalanan tetap nyaman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.