Dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional 2026, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengadakan kegiatan SAPA Santri: Sosialisasi dan Advokasi Pangan Aman dengan tema "Pangan Aman, Perut Senang, Santri Tenang!" pada Senin, 28 Juli 2026, di Pondok Pesantren Nurul Iman Al Hasanah.
Kegiatan ini digagas karena melihat kondisi santri yang sehari-hari tinggal jauh dari orang tua dan harus memutuskan sendiri apa yang mereka makan, mulai dari jajanan di kantin sampai bekal yang mereka bawa. Padahal, tidak semua yang dijual belum tentu aman dikonsumsi. Dari situ, tim KKN-T merasa penting untuk mengenalkan santri pada pengetahuan dasar keamanan pangan sejak usia sekolah, supaya mereka bisa lebih waspada dan tahu cara memilih makanan yang benar-benar aman.
Mengenal Musuh yang Tak Terlihat: Bahaya di Balik Makanan

Sesi diawali dengan mengajak para santri menyelami sisi yang jarang mereka pikirkan dari makanan kesukaan mereka: bahaya yang mungkin tersembunyi di dalamnya. Dengan bahasa yang sederhana dan penuh analogi yang dekat dengan keseharian anak-anak, tim KKN-T mengenalkan tiga jenis bahaya pangan — bahaya biologi seperti bakteri dan mikroba yang tak kasat mata namun bisa membuat perut sakit, bahaya kimia seperti residu pestisida atau bahan tambahan pangan yang tidak semestinya ada, serta bahaya fisik seperti serpihan benda asing yang bisa saja tanpa sengaja tercampur dalam makanan. Materi disampaikan dengan contoh-contoh yang dekat dengan keseharian santri, supaya lebih gampang dipahami dan tidak terasa seperti pelajaran biasa.
5 Kunci Keamanan Pangan di Sekolah

Selain itu, santri juga dikenalkan pada 5 Kunci Keamanan Pangan di Sekolah, Dimulai dari mengenali pangan yang aman, yaitu bagaimana cara membedakan makanan yang layak dikonsumsi dari tampilan, bau, atau kondisi kemasannya. Kemudian, santri diajak memahami cara membeli pangan yang aman, misalnya tidak asal membeli jajanan yang tidak jelas asal-usulnya atau yang dijual tanpa kemasan yang layak.
Setelah itu, masuk ke kebiasaan membaca label dengan seksama sebelum mengonsumsi produk kemasan, supaya tahu persis apa yang mereka makan. Selanjutnya, ditekankan pentingnya menjaga kebersihan, baik kebersihan tangan, alat makan, maupun tempat menyimpan makanan, karena kebersihan jadi salah satu faktor utama yang menentukan aman atau tidaknya suatu pangan.
Terakhir, santri diajarkan untuk mencatat apa yang ditemui, seperti mencatat jika ada makanan yang terlihat mencurigakan atau mengalami keluhan setelah makan sesuatu, sehingga bisa jadi bahan pembelajaran dan kewaspadaan ke depannya.
Kelima poin ini sengaja disampaikan dengan bahasa yang ringan dan contoh-contoh yang dekat dengan keseharian santri, karena tujuannya bukan sekadar dihafal, melainkan supaya benar-benar melekat dan bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di pondok, baik saat memilih jajanan, menyiapkan makanan bersama, maupun menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka.
Praktik Baca Label, Belajar Jadi Konsumen yang Lebih Teliti

Bagian yang paling ramai antusiasnya adalah sesi edukasi cara memilih pangan olahan yang baik lewat metode Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin edar, Kedaluwarsa). Santri tidak hanya mendengarkan penjelasan, tapi langsung diajak praktik membaca label pada kemasan produk yang dibagikan.
Mereka bergantian mengecek apakah kemasan masih dalam kondisi baik, membaca komposisi pada label, mencari nomor izin edar BPOM, dan mengecek tanggal kedaluwarsa. Sederhana, tapi jadi pengalaman baru buat sebagian besar santri yang selama ini mungkin belum pernah benar-benar memperhatikan hal-hal tersebut sebelum membeli atau makan sesuatu.
Kenapa Ini Penting Diajarkan Sejak Dini

Kebiasaan memilih makanan dengan cermat itu bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul saat dewasa — biasanya terbentuk dari kebiasaan kecil yang diajarkan sejak masih anak-anak. Buat santri yang sehari-hari mengurus dirinya sendiri di pondok, pengetahuan ini jadi lebih penting lagi, karena mereka yang harus memutuskan sendiri mana makanan yang aman dan mana yang sebaiknya dihindari, tanpa selalu ada orang tua yang mengingatkan.
Lewat kegiatan SAPA Santri ini, Tim KKN-T Keamanan Pangan IPB berharap santri di Pondok Pesantren Nurul Iman Al Hasanah bisa mulai terbiasa lebih teliti sebelum jajan atau makan, dan pengetahuan ini bisa terus terbawa sampai mereka dewasa nanti. Sebuah langkah kecil untuk mendukung tumbuh kembang anak Indonesia yang lebih sehat, sejalan dengan semangat Hari Anak Nasional 2026.
"Pangan aman, perut senang, santri tenang!"
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


