KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Transformasi digital mulai menyentuh pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa. Di Desa Mangli, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, inovasi teknologi bernama SIMARINA (Sistem Informasi Skrining Risiko Kehamilan & Status Gizi Anak) dikembangkan untuk membantu kader Posyandu melakukan deteksi dini risiko kesehatan ibu hamil dan balita secara lebih cepat, tepat, dan berkelanjutan.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang menyasar Kader Posyandu Melati Desa Mangli. Program ini hadir sebagai respons terhadap masih digunakannya pencatatan kesehatan ibu dan anak secara manual yang selama ini berpotensi menyebabkan data sulit ditelusuri, keterlambatan pelaporan, hingga keterlambatan dalam mengenali risiko kesehatan.
Desa Mangli memiliki karakteristik wilayah pedesaan dan agraris dengan jumlah penduduk sekitar 3.670 jiwa. Berdasarkan data Posyandu tahun 2025, sekitar 35 persen penduduk berada pada kelompok usia subur. Selain itu, terdapat sekitar 48 ibu hamil aktif setiap tahun dan 245 balita. Besarnya jumlah sasaran tersebut membuat pemantauan kesehatan ibu dan anak membutuhkan sistem yang mampu memberikan informasi secara cepat dan berkelanjutan.
Selama ini, kegiatan deteksi dini dilakukan melalui penimbangan balita, pemeriksaan dan pencatatan dalam buku KIA serta pelaporan secara manual kepada bidan desa. Sistem tersebut tetap memiliki peran penting, tetapi belum sepenuhnya mampu menyediakan pengolahan data risiko secara terintegrasi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi 10 kader Posyandu Melati yang sebagian besar berusia 30–50 tahun dan telah memiliki pengalaman menjadi kader selama 5–15 tahun. Dengan latar belakang pendidikan SMP dan SMA/SMK sederajat, para kader memiliki komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, namun kemampuan penggunaan teknologi digital masih perlu diperkuat.
Baca Selengkapnya

