Belakangan ini, Kawan GNFI mungkin kerap mendengar perbincangan mengenai profil kakek Prabowo Subianto, yakni Margono Djojohadikusumo, yang kembali diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional.
Usulan mengenai tokoh sejarah ini memunculkan beragam pertanyaan di benak kaum muda tentang siapa sebenarnya sosok leluhur dari pihak ayah presiden kedelapan tersebut.
Lantas, siapa sebenarnya Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo dan apa saja peran penting yang ia tinggalkan di masa awal kemerdekaan? Kawan GNFI bisa ikut mengeksplorasi profil lengkapnya berikut ini, mulai dari kiprah utamanya sebagai pendiri institusi perbankan, perannya di awal Nusantara berdiri, hingga merunut alasan di balik pengusulan gelar kehormatan tersebut.
Profil Kakek Prabowo: Raden Mas Margono Djojohadikusumo Tokoh Pendiri Bank BNI

Foto Margono Djojohadikusumo, Kakek Prabowo yang Mendirikan BNI | dinarpus.banyumaskab.go.id
Dikutip dari laman resmi Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo atau kerap disebut Margono Djojohadikusumo lahir di Purwokerto pada tanggal 16 Mei 1894. Dalam silsilah keluarga, beliau merupakan kakek Prabowo Subianto dari pihak ayah.
Margono adalah ayah kandung dari Profesor Soemitro Djojohadikoesoemo, seorang ekonom terkemuka Indonesia yang kemudian menjadi ayah dari presiden kedelapan. Kakek Prabowo ini juga memiliki dua putra lain, yaitu Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikoesoemo dan Taruna Soejono Djojohadikoesoemo, yang gugur dalam Peristiwa Pertempuran Lengkong.
Margono dikenal luas sebagai arsitek utama sekaligus Direktur Utama pertama Bank Negara Indonesia atau pendiri BNI. Melalui mandat langsung dari Soekarno dan Mohammad Hatta, beliau mendapat tugas merancang pembentukan bank sentral milik negara.
Upaya panjangnya membuahkan hasil ketika pemerintah secara resmi menerbitkan peraturan tentang pendirian perbankan tersebut pada 15 Juli 1946. Status hukum BNI baru kemudian berubah menjadi persero pada tahun 1970.
Selain Pendiri BNI, Apa Peran Margono Djojohadikusumo untuk Indonesia?
Peran kakek Prabowo ini tidak hanya berpusat di sektor perbankan. Pada masa-masa transisi awal kemerdekaan, Margono memegang peranan krusial dalam birokrasi, khususnya ketika Kabinet Presidensial dibentuk.
Beliau dipercaya menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) yang pertama. Lewat posisinya di lembaga penasihat inilah, ia secara aktif mengusulkan perlunya pembentukan bank sirkulasi nasional seperti amanat konstitusi dasar UUD 1945.
Dikutip dari situs resmi Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lamongan, tokoh sentral ini juga memiliki kepedulian yang kuat terhadap kemandirian ekonomi masyarakat bawah dengan merintis dan memajukan koperasi di Indonesia.
Di ranah politik dan hukum, namanya juga dicatat dalam sejarah sebagai sosok yang mengusulkan pengaktifan Hak Angket di badan legislatif DPR untuk mengawal dan menyelidiki berbagai kebijakan kenegaraan.
Berkat rekam jejaknya tersebut, namanya diabadikan sebagai salah satu gedung di Universitas Gadjah Mada, nama jalan di Jakarta, serta turut menginspirasi film layar lebar berjudul Merah Putih.
Makam Margono Djojohadikusumo, Tempat Peristirahatan Terakhir di Dawuhan

Menkop Budi Arie Ziarah Makam R.M. Margono Djojohadikusumo di Dawuhan, Banyumas, Jawa Tengah | Diskoperindag Lamongan
Setelah berkontribusi dalam meletakkan fondasi ekonomi negara, Margono tutup usia di Jakarta pada tanggal 25 Juli tahun 1978 di usia 84 tahun. Meskipun menghembuskan napas terakhirnya di hiruk-pikuk ibu kota, makam Kakek Prabowo tersebut berada jauh dari kawasan Jakarta.
Makam Margono Djojohadikusumo berada di kompleks pemakaman keluarga yang terletak di wilayah Dawuhan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Dikutip dari Facebook resmiPrabowo Subianto, beliau disemayamkan secara berdampingan dengan sang istri, R.A. Siti Katoemi Djojohadikusumo atau yang juga dikenal dengan nama Siti Katoemi Wirodihardjo.
Hingga saat ini, lokasi ini cukup sering dikunjungi oleh keluarga besar dan pejabat publik yang datang untuk berziarah, misalnya oleh Menteri Koperasi Budi Arie.
Mengapa Margono Djojohadikusumo Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional? Ternyata Ada Deklarasinya

Mengapa Margono Djojohadikusumo Diusulkan Menjadi Pahlawan Nasional? Ini Alasannya | Pemda Purbalingga
Kawan GNFI perlu mengetahui bahwa rencana menjadikan Margono Djojohadikusumo sebagai pahlawan nasional bukanlah wacana kemarin sore. Wacana ini telah disuarakan sejak lama dan bahkan didukung oleh perwakilan institusi daerah.
Salah satu wujud dukungannya terlihat dari deklarasi komitmen bersama yang secara eksplisit menyatakan dukungan penuh terhadap pengusulan RM. Margono Djojohadikusumo sebagai pahlawan nasional.
Momen ini ditandatangani oleh berbagai pihak, termasuk Wakil Bupati Purbalingga Dimas Prasetyahani, dalam acara Seminar Jejak Perjuangan RM Margono Djoyohadikusumo bagi Republik Indonesia di Aula Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto pada hari Selasa, 18 Maret 2025 lalu.
Dikutip dari portal resmi Pemerintah Kabupaten Purbalingga, isi deklarasi tersebut memuat tiga poin penting yang menjadi latar belakang usulan.
Poin pertama menyoroti bahwa beliau telah memberikan kontribusi monumental bagi bangsa, khususnya dalam meletakkan fondasi ekonomi lewat pendirian BNI, memajukan sektor pendidikan, dan menopang perjuangan kemerdekaan.
Selanjutnya, poin kedua menegaskan bahwa semangat beliau dalam merawat kemandirian ekonomi, mewujudkan keadilan sosial, serta integritasnya sebagai negarawan dinilai telah memenuhi kriteria untuk menjadikannya pahlawan nasional.
Sementara itu, poin ketiga menyepakati bahwa berdasarkan berbagai temuan bukti sejarah, pengakuan saksi ahli, dan kajian akademis gabungan, jasa-jasa Margono dipandang sangat layak diakui sebagai warisan luhur yang patut diteladani.
Bagi Kawan GNFI yang masih penasaran dan ingin memperluas nalar kritis seputar dinamika sejarah bangsa, jangan lupa perkaya sudut pandang kesejarahan dari berbagai literatur yang dipublikasi Good News From Indonesia, ya!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


