Karena minimnya kunjungan dan ketertarikan anak-anak Desa Dukuh terhadap perpustakaan, mahasiswa Tim II KKN Reguler Universitas Diponegoro melakukan revitalisasi ruangan dan gelar kelas literasi bahasa inggris di perpustakaan desa selama periode Juli—Agustus.
Menurut informasi dari perangkat desa, perpustakaan Desa Dukuh belum lama dipindah tempatkan ke gedung yang baru dan dialihfungsikan menjadi bagian balai desa. Memang, perpustakaan desa yang baru nampaknya belum siap dalam menerima pengunjung, entah dari jumlah koleksi buku yang kurang relevan dengan anak-anak, layout ruangan yang masih tampak polos, hingga ketiadaan petugas yang mengurusi perpustakaan.
Anak-anak SD Dukuh 1 dan Dukuh 2 mengaku sangat jarang mendapatkan pembelajaran Bahasa Inggris yang menyenangkan, itulah mengapa mata pelajaran tersebut menjadi salah satu pelajaran yang paling tidak mereka senangi.
Ketika ditilik lebih dalam, jangankan perpustakaan desa, perpustakaan sekolah pun sangat jarang mereka kunjungi. Selain karena adiksi handphone, perpustakaan belum nampak menarik bagi mereka.
Berangkat dari keresahan akan daya literasi anak-anak Desa Dukuh dan ketidaksiapan perpustakaan untuk menjadi ruang belajar, mahasiswa Tim II KKN Reguler Undip dari Prodi Bahasa Asing Terapan menggalakan kegiatan literasi Bahasa Inggris setiap hari Sabtu bagi siswa SD Dukuh 1 dan 2.
Mereka melakukan berbagai hal, mulai dari pemberian kosakata di awal kegiatan setiap pertemuannya, pembelajaran dengan menggabungkan beberapa permainan, menonton film, hingga memanfaatkan buku-buku perpustakaan untuk dibaca dan review bersama.
Revitalisasi ruangan perpustakaan pada Selasa (11/08) | Farellio January
Bersamaan dengan berjalannya kelas literasi Bahasa Inggris, perpustakaan direvitalisasi oleh mahasiswa Prodi Arsitektur dengan mengubah layout ruangan dan menambahkan hiasan sesuai kebutuhan perpustakaan.
Tujuannya sederhana, untuk mengenalkan kepada anak-anak bahwa Bahasa Inggris bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan, sekaligus membiasakan mereka untuk berlatih reading, listening, hingga speaking. Selain itu, revitalisasi perpustakaan bisa membantu pengurus perpustakaan untuk mengundang daya tarik anak-anak hadir kembali ke perpustakaan desa.
“Terima kasih kakak KKN sudah membimbing kami selama di sini,” tulis Alysha (bukan nama asli) di papan kreativitas pada Sabtu (08/08).
Tak hanya siswa SD yang menjadi sasaran program kerja, guru Bahasa Inggris di SD Dukuh 1 dan Dukuh 2 pun diberikan modul Fun English Learning yang berisikan beberapa permainan edukatif.
“Saya malah butuh banget kayak gini, soalnya masih bingung ngajar yang seru tuh, gimana,” tutur Rasya (bukan nama asli), guru Bahasa Inggris SD Dukuh 1 ketika penyerahan modul Fun English Learning pada Jumat (14/08).
Meskipun pada akhirnya perpustakaan kembali menjadi tanggung jawab petugas dan para guru, setidaknya mahasiswa Tim II KKN Reguler Undip telah menciptakan wadah dan kenangan bagi para guru, petugas perpustakaan, dan siswa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


