Terletak di desa, bukan berarti sekolah selalu minim prestasi, ‘kan? Buktinya, ada madrasah di Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, yang koleksi prestasinya bikin sekolah-sekolah kota keder. Namanya MTsN 1 Pati. Lokasinya sekitar 17 kilometer dari pusat kota.
Sampai April 2022, tim riset madrasah ini sudah bawa pulang empat medali dari kejuaraan internasional—emas, perak, dua perunggu—plus special award. Tim robotiknya juga tidak kalah nyeleneh prestasinya, kantongi satu emas, dua perunggu, level dunia pula.
Dan puncaknya, madrasah ini resmi jadi sekolah berprestasi peringkat kelima se-Indonesia versi Puspresnas, dengan total 566 prestasi yang tercatat.
Dulunya Pecahan dari Sekolah Guru Agama
Nah, bagaimana ceritanya?
MTsN 1 Pati merupakan perubahan bentuk dari PGA Darul Mala, lembaga pencetak guru agama Islam yang berdiri di Winong sejak 1955. Sekolah ini adem ayem sampai akhirnya pemerintah pusat, lewat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, mengeluarkan surat edaran pada 24 Mei 1977. Isinya, kurikulum kelas I-III PGA harus ikut kurikulum Madrasah Tsanawiyah.
Kebijakan ini membuat PGA Darul Mala harus dipecah jadi dua biar sesuai kategori. Satu tetap jadi PGA Darul Mala, yang pada 1980 berubah nama jadi MA PPKP Darul Mala lewat SK Menteri Agama nomor LK/8.C/053/Pgm.MA/1980. Satunya lagi jadi Madrasah Tsanawiyah Darul Ma'la.
Nah, di era 1970-an, ketimpangan madrasah terasa di Jawa Tengah. Waktu itu, wilayah selatan sudah mulai banyak madrasah yang berdiri, sedangkan utara masih kekurangan. Pemerintah pun berencana geser-geser status madrasah dari selatan ke utara.
Para tokoh pendidik di Madrasah Tsanawiyah Darul Ma'la tentu tidak menyia-nyiakan momen ini. Mereka mengajukan permohonan penegerian, dan gayung bersambut. Lewat SK Nomor 27 Tahun 1980 tertanggal 31 Mei 1980, status MTs Negeri Sragen direlokasi ke MTs Darul Ma'la, yang kemudian jadi MTs Negeri Winong Pati.
Baru pada 2016, nama itu berubah lagi jadi MTsN 1 Pati, yang kita kenal sekarang.
Warga Desa yang Rela Utang Demi Anaknya Sekolah
Kawan, ternyata ada kepercayaan masyarakat Desa Pekalongan yang patut diapresiasi.
Konon, menurut catatan pihak madrasah dalam laman resminya, warga desa ini punya prinsip boleh hidup pas-pasan, tapi urusan sekolah anak nggak boleh kalah. "Kalau perlu, utang pun mereka lakukan," begitu tertulis dalam profil madrasah.
Menurut sumber yang sama, hampir mustahil menemukan pemuda-pemudi Desa Pekalongan yang tidak lanjut kuliah. Saking kuatnya budaya ini, pada 1992 berdiri organisasi bernama Forum Komunikasi Mahasiswa dan Pelajar Pekalongan (FKMPP), diketuai pertama kali oleh Drs. KH Abdul Kafi, M.Ag.
Akar budaya ini bisa ditarik sampai 1930, ketika berdiri madrasah Matholi'ul Falah—belakangan berubah nama jadi Tarbiyatul Banin—didirikan KH Munji dan KH Mahfudz Salam, yang tak lain adalah ayah dari ulama besar KH Sahal Mahfudz asal Kajen. Guru-guru dari Kajen, sebut saja KH Sanaji dan KH Ahmad Fahrurrozi, dulu didatangkan untuk mengajar di desa ini. Warisan semangat belajar itu, katanya, menular sampai ke generasi sekarang.
Status "Madrasah Riset" yang Bikin Grafik Prestasi Meroket
Pada 2020, ketika MTsN 1 Pati dikukuhkan sebagai Madrasah Penyelenggara Riset lewat SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 6757 Tahun 2020. Sejak saat itu, prestasi di bidang riset mulai bersemi.
Coba lihat datanya. Pada 2020, total prestasi cuma 61. Setahun kemudian, 2021, melonjak jadi 1.739. Lalu 2022, tembus 1.742.
April 2021, madrasah ini dapat gelar lagi. MTsN 1 Pati dikukuhkan menjadi satu-satunya Madrasah Unggulan Bidang Akademik di Kabupaten Pati, lewat SK Nomor 1834 Tahun 2021. Tak cukup sampai di situ, madrasah ini juga jadi Madrasah Adiwiyata pertama di Kabupaten Pati berdasarkan SK Pemkab Pati Nomor 660.1/4393 Tahun 2021—predikat untuk sekolah dengan lingkungan bersih, asri, dan nyaman.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


