kantor polisi jadi bangunan sekolah kilas balik gedung tua smp negeri 1 purwokerto - News | Good News From Indonesia 2026

Kantor Polisi Jadi Bangunan Sekolah: Kilas Balik Gedung Tua SMP Negeri 1 Purwokerto

Kantor Polisi Jadi Bangunan Sekolah: Kilas Balik Gedung Tua SMP Negeri 1 Purwokerto
images info

Gedung SMP Negeri 1 Purwokerto


Pada 22 Februari 2019, Bupati Banyumas, Achmad Husein membubuhkan tanda tangan pada Surat Keputusan Nomor 430/129 Tahun 2019. SK itu berisi penetapan gedung tua di Jalan Jenderal Sudirman No. 181, Purwokerto, sebagai bangunan bersejarah.

Bangunan itu kini menjadi gedung SMP Negeri 1 Purwokerto, yang artinya, sekolah tersebut saat ini berstatus Bangunan Cagar Budaya Kabupaten Banyumas.

Tak heran, sebab gedungnya memang telah berusia satu abad. Selama masa itu, fungsinya terus berubah, mulai dari markas polisi kolonial, sekolah khusus keturunan Eropa, tempat pendidikan di masa pendudukan Jepang, hingga akhirnya menjadi sekolah negeri pertama di Purwokerto yang masih berdiri kokoh sampai sekarang.

baca juga

Awalnya Bukan Sekolah, tapi Markas Polisi

Ya, sebelum kegiatan belajar mengajar untuk pribumi dilaksanakan di gedung ini, bangunan tersebut lebih dulu menjadi tempat aparat kolonial bekerja.

Berdasarkan dokumen Keputusan Bupati Banyumas Nomor 430/129 Tahun 2019, gedung ini dibangun pada periode setelah tahun 1920 dan rampung sebelum tahun 1940. Fungsi awalnya adalah Kantor Kepolisian Kolonial Belanda, yang dalam catatan resmi disebut Commissariaat van Politie Poerwokerto.

Commissariaat van Politie Poerwokerto cikal bakal SMPN 1 Purwokerto
info gambar

Commissariaat van Politie Poerwokerto cikal bakal SMPN 1 Purwokerto


Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur tropis Hindia Belanda, sebuah gaya bangunan kolonial yang sengaja disesuaikan dengan iklim panas dan lembap Indonesia.

Cirinya mudah dikenali, yakni kombinasi plafon tinggi agar udara panas naik dan ruangan tetap sejuk, jendela-jendela besar untuk memaksimalkan cahaya alami, serta sistem ventilasi silang yang membuat pertukaran udara lebih maksimal.

Desain semacam ini umum ditemukan pada bangunan pemerintahan era kolonial, dan hingga kini masih menjadi salah satu ciri khas arsitektur heritage di berbagai kota di Jawa.

baca juga

Berpindah Fungsi Seiring Pergantian Kekuasaan

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, gedung SMP Negeri 1 Purwokerto terus mengalami perubahan fungsi mengikuti siapa yang berkuasa di tanah air. Perubahan itu tercatat rapi dalam dokumen penetapan cagar budaya.

Pada 1942, gedung ini digunakan sebagai Europese Lagere School (ELS), sekolah dasar berbahasa Belanda yang diperuntukkan khusus bagi anak-anak keturunan Eropa.

Setelah kekuasaan kolonial Belanda diserahkan ke Jepang, sekolah berbahasa Belanda dilarang. ELS pun beralih fungsi menjadi SMP Putri.

Lalu, Pasca-Proklamasi 1945, gedung dipakai untuk Sekolah Menengah Oemoem Pertama (SMOP), cikal bakal istilah SMP yang kita kenal sekarang.

Pada 1947–1949, saat Belanda kembali menguasai wilayah ini pada masa Agresi Militer, gedung sempat digunakan untuk pendidikan SMOP Vederal.

Di antara masa itu, tanggal 1 Oktober 1948 diperingati sebagai tonggak kelahiran sekolah, saat bangunan ini resmi dijadikan sekolah menengah umum pertama di kota Purwokerto.

Barulah pada 1950, seiring peralihan kekuasaan Belanda kepada Republik Indonesia, gedung ini resmi digunakan sebagai Sekolah Menengah Umum Pertama (SMP) Negeri—cikal bakal SMP Negeri 1 Purwokerto yang kita kenal hari ini. Sekolah ini tercatat sebagai sekolah negeri pertama yang berdiri di kota Purwokerto.

Menariknya, meski fungsinya berkali-kali berganti selama tiga dekade, bentuk fisik bangunan nyaris tak berubah. Hingga sekarang, gedung ini masih mempertahankan tata letak asli berbentuk huruf U, ciri arsitektur yang sudah ada sejak zaman menjadi kantor polisi kolonial. Makanya, bangunan tersebut kini dijadikan sebagai cagar budaya.

baca juga

Warisan yang Terus Dijaga

Penetapan sebagai cagar budaya membawa konsekuensi tersendiri. Setiap perubahan fisik pada bangunan kini tidak bisa dilakukan sembarangan karena harus mempertimbangkan pelestarian nilai sejarah dan arsitekturnya.

Status itu juga turut memperkuat komitmen SMP Negeri 1 Purwokerto untuk melahirkan putra putri terbaik. Kepala SMP Negeri 1 Purwokerto, Agus Widodo, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa sekolah ini tidak ingin sekadar mengejar prestasi akademik di atas kertas.

"Kami percaya bahwa pendidikan bukan sekedar angka di atas kertas," ujarnya, dikutip dari video profil resmi sekolah.

Ia menambahkan bahwa sekolah berkomitmen menyeimbangkan prestasi akademik dengan pembentukan karakter, wawasan global, dan budaya. Tak hanya itu, SMP Negeri 1 Purwokerto juga menyediakan ruang kreativitas yang luas bagi siswa, didukung fasilitas representatif dan tenaga pengajar yang berdedikasi.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.