Menjaga pesisir bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran dan kepedulian untuk merawatnya dalam jangka panjang. Semangat tersebut menjadi salah satu alasan Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University 2026 menghadirkan program SEMARAK (Semai Mangrove untuk Kelestarian) di Desa Cemara, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 20–22 Juli 2026 ini berfokus pada pembangunan rumah semai mangrove sebagai tempat pembibitan dan pemeliharaan mangrove sebelum nantinya ditanam di kawasan pesisir. Program tersebut melibatkan 15 peserta, yang terdiri atas mahasiswa KKNT IPB dan masyarakat Desa Cemara.
Bagi Kawan, kawasan pesisir mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik hamparan perairannya terdapat ekosistem yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah mangrove yang dapat membantu melindungi kawasan pesisir, menjadi habitat bagi berbagai organisme, serta mendukung keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir.
Karena itu, upaya menjaga keberadaan mangrove membutuhkan proses yang berkelanjutan. Tidak cukup hanya dengan melakukan penanaman, tetapi juga diperlukan tahapan pembibitan dan pemeliharaan agar bibit dapat tumbuh dengan baik. Dari kebutuhan tersebut, rumah semai menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian rehabilitasi mangrove.
Membangun Rumah Semai dengan Semangat Gotong Royong
Pelaksanaan SEMARAK diawali dengan persiapan lokasi yang akan digunakan sebagai rumah semai. Lokasi dibersihkan dan ditata agar dapat digunakan untuk menempatkan bibit mangrove. Dalam prosesnya, mahasiswa KKNT bersama masyarakat bekerja secara langsung di lapangan.

Dokumentasi pribadi
Pembangunan rumah semai memanfaatkan material yang tersedia di sekitar lokasi, terutama bambu sebagai struktur utama dan jaring paranet sebagai pelindung area pembibitan.
Para peserta bersama-sama mengukur dan memasang tiang, membuat rangka, memasang jaring pelindung, hingga menata area tempat bibit mangrove.
Proses tersebut menjadi gambaran sederhana mengenai bagaimana sebuah program lingkungan dapat tumbuh melalui kolaborasi. Mahasiswa membawa pengetahuan dan gagasan yang diperoleh selama berada di lingkungan akademik, sementara masyarakat memiliki pengalaman serta pemahaman mengenai kondisi lingkungan tempat mereka tinggal.
Pertemuan kedua hal tersebut kemudian menghasilkan sebuah fasilitas yang diharapkan dapat terus dimanfaatkan setelah kegiatan KKNT berakhir.
1.500 Bibit Mangrove untuk Masa Depan Pesisir

Dokumentasi pribadi
Selain membangun rumah semai, SEMARAK juga menghasilkan 1.500 bibit mangrove yang ditempatkan di fasilitas pembibitan tersebut. Bibit-bibit ini akan melalui proses pemeliharaan sebelum digunakan dalam kegiatan penanaman di kawasan pesisir.
Keberadaan rumah semai memberikan ruang bagi bibit untuk mendapatkan perawatan selama masa pertumbuhan awal. Pada tahap ini, pemantauan kondisi bibit menjadi penting agar tanaman dapat tumbuh secara optimal sebelum dipindahkan ke lokasi penanaman.
Lebih dari sekadar angka, 1.500 bibit tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk memperkuat keberadaan vegetasi mangrove di Desa Cemara. Setiap bibit yang tumbuh dapat menjadi bagian dari ekosistem pesisir yang lebih luas di kemudian hari.
Dari Mahasiswa untuk Keberlanjutan Desa

Dokumentasi pribadi
Keterlibatan 15 peserta dalam program SEMARAK menunjukkan bahwa kegiatan pelestarian lingkungan dapat menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa dan masyarakat. Gotong royong tidak hanya terlihat ketika membangun rumah semai, tetapi juga dalam proses mempersiapkan dan menata bibit mangrove.
Bagi mahasiswa KKNT IPB 2026, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dalam persoalan lingkungan yang ditemui secara langsung. Sementara bagi masyarakat, rumah semai dapat menjadi salah satu fasilitas yang mendukung keberlanjutan kegiatan pembibitan mangrove di Desa Cemara.
Harapannya, keberadaan rumah semai tidak berhenti sebagai hasil dari program KKNT. Fasilitas tersebut dapat terus dirawat dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mempersiapkan bibit mangrove pada kegiatan rehabilitasi pesisir berikutnya.
Menanam Harapan, Menjaga Pesisir
SEMARAK mungkin dimulai dari sebuah rumah semai sederhana. Namun, dari tempat tersebut terdapat proses yang lebih besar: mempersiapkan bibit, merawatnya, menanamnya, dan menjaga agar mangrove dapat terus tumbuh.
Selama tiga hari pelaksanaan, program ini berhasil menghadirkan satu rumah semai mangrove, menyediakan 1.500 bibit mangrove, dan melibatkan 15 peserta dalam proses pembangunannya.
Bagi Kawan GNFI, kisah SEMARAK menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah yang sederhana. Sebuah rumah semai yang dibangun bersama, ribuan bibit yang dirawat, serta keterlibatan masyarakat dapat menjadi fondasi bagi upaya menjaga pesisir dalam jangka panjang.
Sebab, kelestarian pesisir bukan pekerjaan satu hari. Ia membutuhkan kepedulian, kolaborasi, dan keberlanjutan. Dari Desa Cemara, semangat tersebut mulai disemai melalui SEMARAK.
Semai mangrove hari ini, tumbuhkan pesisir lestari untuk generasi nanti.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


