sawah kalurahan karangsewu jadi kelas experiential learning bagi siswa sd muhammadiyah 2 wonopeti lewat program gema kkn t ipb university - News | Good News From Indonesia 2026

Sawah Kalurahan Karangsewu Jadi Kelas Experiential Learning bagi Siswa SD Muhammadiyah 2 Wonopeti Lewat Program GEMA KKN-T IPB University

Sawah Kalurahan Karangsewu Jadi Kelas Experiential Learning bagi Siswa SD Muhammadiyah 2 Wonopeti Lewat Program GEMA KKN-T IPB University
images info

Kegiatan Eksplorasi dan Belajar di Sawah Kegiatan - KKN'T IPB Rancajaya


Selama ini, konsep fotosintesis dan struktur tumbuhan kerap diperkenalkan kepada siswa melalui buku, diagram, dan gambar. Bagi sebagian anak, cara belajar seperti ini membuat konsep yang sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari terasa abstrak.

Daun yang mereka lihat setiap hari bisa berubah menjadi sekadar gambar dengan panah dan istilah ketika dipelajari di dalam kelas. Kesenjangan antara konsep dan pengalaman nyata inilah yang coba dijembatani melalui GEMA (Gerakan Edukasi Menjelajah Alam), sebuah program outdoor learning yang digagas mahasiswa KKN-T IPB University di Kalurahan Karangsewu.

Alih-alih menambah durasi ceramah, GEMA mengajak siswa keluar dari ruang kelas dan menjadikan lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses belajar. Sawah yang berada cukup dekat dari sekolah pun berubah menjadi ruang belajar untuk memahami fotosintesis dan struktur tumbuhan.

Dokumentasi Tim Mahasiswa KKN-T IPB University Kalurahan Karangsewu dengan Guru dan Siswa Muhammadiyah 2 Wonopeti

Pendekatan tersebut sejalan dengan pemikiran Jean Piaget mengenai perkembangan kognitif anak. Pada tahap operasional konkret, anak belajar memahami konsep dengan lebih baik ketika berhadapan dengan objek atau pengalaman yang dapat diamati secara langsung. Karena itu, konsep tumbuhan yang semula disampaikan melalui kata dan gambar dicoba dihadirkan dalam bentuk pengalaman nyata.

Pada Kamis, 23 Juli 2026, pendekatan ini diuji langsung di lapangan. Sebanyak 46 dari 47 siswa kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti rangkaian program dari pagi hingga siang dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai laboratorium belajar.

Program GEMA berlangsung dari pagi hingga siang hari dan dirancang dengan alur yang runtut agar pembelajaran berjalan efektif sekaligus menyenangkan. Kegiatan dimulai dengan pre-test. Siswa menjawab sejumlah pertanyaan mengenai struktur daun, proses fotosintesis, dan potensi lokal tanaman pertanian di Karangsewu. Tes awal ini digunakan untuk melihat pemahaman siswa sebelum mengikuti rangkaian pembelajaran. Agar pendampingan lebih optimal, 46 peserta dibagi menjadi tiga kelompok besar yang masing-masing didampingi oleh satu mahasiswa KKN.

baca juga

Siswa Belajar Struktur Tumbuhan dan Fotosintesis dengan TIM KKN-T IPB

Ketika pre-test rampung, kegiatan berlanjut ke sesi pemberian materi di dalam kelas. Di sinilah tim kelas menjelaskan konsep dasar fotosintesis dan struktur tumbuhan, dilengkapi dengan pemutaran video animasi edukatif yang membuat konsep abstrak menjadi lebih mudah dipahami oleh anak-anak usia sekolah dasar.

Setelah bekal materi cukup, seluruh siswa diajak beranjak bersama-sama menuju sawah.Di lahan tersebut, siswa tidak lagi sekadar melihat ilustrasi tumbuhan. Mereka dapat memegang, mengamati, dan mengidentifikasi bagian-bagian tanaman yang tumbuh di sekitar mereka. Dengan pendampingan mahasiswa KKN-T IPB, siswa mengenali tulang daun, akar, batang, hingga bunga, sekaligus menghubungkannya dengan konsep fotosintesis yang baru saja dipelajari di kelas.

Kegiatan Belajar Struktur Tanaman dan Fotosintesis di Sawah

Perpindahan ruang belajar ini membuat konsep yang sebelumnya abstrak menjadi lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari. Pertanyaan-pertanyaan spontan pun bermunculan ketika siswa menemukan contoh tumbuhan secara langsung. Sawah yang selama ini berada di sekitar mereka tidak lagi sekadar menjadi bagian dari pemandangan, tetapi menjadi objek yang bisa diamati dan dipelajari.

Usai eksplorasi, siswa kembali ke ruang kelas untuk berdiskusi dan mendapatkan pendampingan. Mereka diajak menghubungkan temuan di sawah dengan materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pada tahap ini, siswa juga diberi ruang untuk mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa pendamping.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan permainan tanya jawab interaktif. Suasana kelas kembali riuh ketika siswa berebut menjawab pertanyaan mengenai materi yang telah dipelajari sepanjang hari. Setelah itu, siswa mengerjakan post-test untuk melihat perubahan pemahaman dibandingkan dengan hasil pre-test.

Grafik Perbandingan Rerata Nilai Pre-test dan Post-test Peserta GEMA

Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan skor. Dari 44 siswa yang mengerjakan pre-test dan post-test secara lengkap, rerata skor meningkat dari 73,8 menjadi 82,8. Artinya, terdapat kenaikan sebesar 9 poin atau sekitar 12,2 persen dibandingkan skor awal.

Angka tersebut menunjukkan adanya perubahan positif dalam pemahaman siswa setelah mengikuti rangkaian pembelajaran GEMA. Namun, peningkatan tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa eksplorasi sawah menjadi satu-satunya penyebab perubahan skor, karena kegiatan GEMA juga mencakup pemberian materi di kelas, video edukatif, diskusi, pendampingan, dan permainan. Meski begitu, hasil pre-test dan post-test memberikan sinyal positif mengenai potensi pembelajaran yang memadukan penjelasan konsep dengan pengalaman langsung.

Kekuatan GEMA memang tidak hanya terletak pada kegiatan di sawah. Materi yang relatif abstrak dikemas melalui kombinasi penjelasan, video edukatif, permainan, dan tepuk-tepuk penyemangat. Pendekatan tersebut membuat pembelajaran tidak berhenti pada transfer informasi satu arah. Siswa diberi kesempatan untuk melihat, menyentuh, mengamati, bertanya, dan menghubungkan kembali pengalaman mereka dengan materi yang dipelajari.

Prinsip semacam ini sejalan dengan experiential learning, yaitu pembelajaran yang menempatkan pengalaman sebagai bagian penting dalam proses memahami suatu konsep. Dalam GEMA, pengalaman di lapangan menjadi jembatan antara materi yang dipelajari di kelas dan lingkungan yang sehari-hari ditemui siswa. Konsep fotosintesis dan struktur tumbuhan pun tidak berhenti sebagai pengetahuan teoritis, tetapi dicoba dipahami melalui objek nyata di sekitar mereka.

Lebih jauh, GEMA tidak hanya dirancang untuk memperkenalkan konsep sains. Program ini juga membawa potensi pertanian lokal ke dalam pengalaman belajar siswa. Karangsewu tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya kegiatan, tetapi menjadi bagian dari materi yang dipelajari. Dengan demikian, pembelajaran sains sekaligus dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan lingkungan dan pertanian yang berada di sekitar siswa.

Bagi sekolah, pendekatan seperti ini juga membuka kemungkinan bahwa pembelajaran tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Lingkungan sekitar dapat menjadi sumber belajar yang sederhana dan mudah dijangkau. Seperti disampaikan Bu Aisyah, Kepala SD Muhammadiyah 2 Wonopeti:

“Kami berterima kasih program kayak gini masuk ke sekolah kami. Anak-anak jadi belajar bukan cuma dari buku, tapi juga dari sawah yang ada di depan mata mereka sendiri."

Pada akhirnya, GEMA menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu membutuhkan teknologi yang canggih. Lingkungan yang sudah tersedia pun dapat menjadi ruang belajar ketika dimanfaatkan secara kreatif dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.

baca juga

Kolaborasi mahasiswa KKN-T IPB University, pihak sekolah, dan guru pendamping memperlihatkan bagaimana program pengabdian masyarakat dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan siswa. Bukan berarti buku dan pembelajaran di kelas kehilangan peran, tetapi keduanya dapat diperkuat ketika siswa diberi kesempatan untuk melihat sendiri bagaimana konsep yang dipelajari hadir di lingkungan mereka.

Ke depan, pendekatan seperti GEMA dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang dikembangkan, terutama di sekolah-sekolah yang berada di lingkungan agraris. Sebab, ketika anak-anak diajak melihat sains di tempat mereka berpijak, belajar tidak lagi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Sebab pada akhirnya, sawah bukan hanya tempat sumber pangan kita, tetapi juga ruang tumbuhnya rasa ingin tahu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

EC
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.