Pembangkit Listrik tenaga Air (PLTA) Singkarak adalah salah satu pembangkit listrik ramah lingkungan bertenaga air yang berada di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. PLTA ini memiliki terowongan air bawah tanah yang sangat panjang, sekitar 19 km. Disebut bahwa terowongan tersebut menjadi terowongan bawah air terpanjang di Indonesia.
PLTA ini memanfaatkan air dari Danau Singkarak untuk memutar turbin. Air ini dialirkan lewat terowongan super panjang tadi untuk membantu menggerakkan turbin.
Sebagai informasi, Danau Singkarak yang berada di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok, Sumatra Barat, merupakan danau terbesar kedua di Sumatra setelah Danau Toba di Sumatra Utara. Danau dengan luas mencapai 107,8 km ini terbentuk akibat proes tektonik, yakni pergerakan dan pergeseran lempeng bumi di Sesar Sumatra. Hal ini kemudian menciptakan cekungan besar dan membentuk danau.
Terowongan PLTA Singkarak
Terowongan air tersebut dibangun di tahun 1992 dan dioperasikan enam tahun kemudian, tepatnya pada 1998. Terowongan ini menembus Gunung Marapi dan dibuat untuk mengalirkan air danau ke PLTA Singkarak.
Sebagian air dari Danau Singkarak dialirkan di terowongan air bawah tanah yang super panjang tersebut. Terowongan ini melewati Bukit Barisan ke Batang Anai dan dipakai untuk menggerakkan generator PLTA Singkarak.
Total kapasitas terpasang yang dihasilkan PLTA ini adalah 4 x 43,75 megawatt atau 175 megawatt (MW). Namun, di musim kemarau, debitnya menyusut menjadi sekitar 70 MW karena terbatasnya air di danau. Setelah memutar turbin, air Danau Singkarak akan dialirkan ke Samudra Hindia di pantai barat.
Uniknya, terowongan serupa seperti di PLTA Singkarak sebetulnya bukanlah yang pertama. Di Sumatra sendiri, ada PLTA Batang Agam yang punya terowongan bawah air sepanjang kurang lebih 1.200 meter. Tak hanya itu, ada pula PLTA Maninjau dengan terowongannya sepanjang 6.000 meter.
Dibandingkan dengan dua pendahulunya, proyek PLTA Singkarak menjadi yang paling besar di Sumatra Barat. Listrik yang dihasilkan pun jauh lebih besar dibandingkan dua PLTA lainnya yang masing-masing menghasilkan 10,5 MW dan 68 MW.
Pembangunan terowongan ini juga menantang karena jenis batuannya berbeda-beda. Terdapat batu bawah tanah yang keras, lunak, dan mudah ambrol, sehingga harus menggunakan teknik tertentu agar tidak ada hal-hal buruk yang terjadi selama proses pembangunannya.
Proyek PLTS Terapung Danau Singkarak
Kawan GGNI, Danau Singkarak yang sangat luas itu juga dimanfaatkan untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung. Disadur dari ANTARA, PLTS ini direncanakan memiliki kapasitas 50 Megawatt Alternating Current (MWAc) atau setara dengan 76 MWp.
Sesuai dengan namanya, PLTS Terapung Danau Singkarak memanfaatkan sinar matahari yang terik di kawasan tersebut. Panel surya dipasang di atas air danau dan menjadi penyuplai energi listrik di Sumatra Barat dan sekitarnya.
Namun, rencana ini sebetulnya juga mengalami penolakan dari masyarakat. Banyak masyarakat yang khawatir proyek ini akan memperparah kondisi Danau Singkarak dan mengancam ekosistem danau.
Oleh karena itu, pemerintah peru memastikan bahwa pembangunan dan pemanfaatan PLTS nantinya tidak mengganggu lingkungan dan tetap memberikan dampak serta kontribusi yang baik untuk masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


