Terhampar subur di 4 dusun utamanya Krajan, Gembung, Pamutih, dan Dukuh Desa Pekiringan Ageng, Kecamatan Kajen, menyimpan lanskap pertanian yang menjanjikan. Namun, gemah ripah ini bukan tanpa celah.
Di balik hamparan sawahnya, para petani kerap didera dilema klasik: lonjakan biaya produksi akibat penggunaan bahan kimia yang tak berkesudahan, serta resiliensi tanaman yang justru kian menurun terhadap serangan hama dan penyakit.
Ketergantungan menahun pada pestisida sintetik ini secara perlahan, tetapi pasti tak hanya merogoh kocek lebih dalam. Namun, juga berisiko merusak keseimbangan ekosistem dan mematikan musuh alami hama di lahan pertanian.
Merespons dinamika tersebut, sekelompok agen perubahan dari Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi IPB University (KKNT Inovasi IPB) hadir membawa angin segar. Tim yang digawangi oleh Ilham Dhani Suherman, Wahyu Agung, Muhammad Latif Azhar Ansar, Ajeng Rahayu Risdiansyah, Nazwa Choerunnisa, Irbah Nur 'Aisyah, Devany Zainanda Sumitro, dan Bunga Argya Sasikirana ini bersepakat untuk mengedukasi warga tentang potensi luar biasa dari
Alih-alih bersandar pada produk pabrikan yang menguras modal, tim KKNT mengajak warga untuk menengok kembali pada kekayaan alam di sekitar desa yang kerap terabaikan. Berbagai tumbuhan yang mudah ditemui secara gratis, seperti daun mimba, pepaya, sirsak, sereh wangi, hingga tembakau, rupanya dapat diekstrak dan disulap menjadi tameng alami bagi tanaman.
"Pestisida nabati ini bertindak ganda; tidak hanya mengusir atau menekan populasi hama perusak, tetapi juga sangat ramah terhadap lingkungan dan aman bagi kesehatan petani itu sendiri," papar salah satu perwakilan tim KKNT.
Senyawa aktif dalam bahan-bahan alami tersebut bekerja secara spesifik untuk mengganggu sistem pencernaan, reproduksi, atau sekadar menjadi repellent (penolak) bagi serangga hama, tanpa meninggalkan residu beracun yang persisten di tanah maupun pada hasil panen.
Guna mewujudkan transisi ini, pada tanggal 20 Juli dan 1 Agustus, tim KKNT turun langsung ke masing masing dusun menggelar demonstrasi dan pelatihan pembuatan Pesnab secara maraton di Dusun Krajan, Gembung, Pamutih, dan Dukuh.
Sambutan masyarakat pun sangat luar biasa, tercermin dari antusiasme perwakilan petani yang hadir memadati area pelatihan. Sesi ini dikemas dengan sangat interaktif; alih-alih dijejali teori yang kaku, para petani diajak untuk meracik bahan langsung bersama mahasiswa.
Dalam pembuatan pestisida nabati ini, prosesnya mengalir secara sederhana layaknya meracik bumbu dapur. Bahan-bahan dedaunan atau rimpang yang telah dipilih ditumbuk atau dihaluskan terlebih dahulu agar senyawa aktifnya mudah keluar.
Ekstrak kasar ini kemudian direndam ke dalam air selama 24 hingga 48 jam. Seringkali ditambahkan dengan sedikit deterjen ringan atau sabun cuci piring yang berfungsi ganda sebagai pelekat alami agar cairan Pesnab tidak mudah luntur oleh embun atau hujan ringan saat disemprotkan.
Setelah masa perendaman selesai, cairan tersebut disaring dengan cermat, dan pestisida nabati pun siap untuk dicairkan lebih lanjut dan diaplikasikan langsung ke area pertanaman.
Proses pembuatannya yang sederhana dengan memanfaatkan peralatan dapur yang tersedia menjadikan inovasi Pesnab ini mudah diterapkan secara mandiri oleh petani di ladang masing-masing.
Penggunaannya pun cukup praktis. Petani hanya perlu menyemprotkan larutan Pesnab secara merata pada permukaan daun, terutama bagian bawah daun yang sering menjadi tempat persembunyian hama.
Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari agar larutan tidak cepat menguap akibat paparan sinar matahari.
Pengaplikasian secara rutin, khususnya ketika hama mulai terlihat, dapat membantu menekan kerusakan tanaman secara efektif tanpa harus menunggu populasi hama berkembang semakin luas.
Melalui transfer teknologi yang sederhana dan mudah diterapkan, tim mahasiswa KKNT berharap masyarakat Desa Pekiringan Ageng dapat secara mandiri memproduksi pestisida nabati untuk melindungi tanaman mereka.
Inovasi ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam menekan biaya produksi pertanian, menjaga keanekaragaman hayati tanah, serta membangun fondasi yang kuat menuju kemandirian dan keberlanjutan sektor pertanian di Kecamatan Kajen.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


