indonesia sangat kaya punya 2564 spesies tumbuhan yang berpotensi jadi pangan - News | Good News From Indonesia 2026

Indonesia Sangat Kaya, Punya 2.564 Spesies Tumbuhan yang Berpotensi Jadi Pangan

Indonesia Sangat Kaya, Punya 2.564 Spesies Tumbuhan yang Berpotensi Jadi Pangan
images info

Hanjeli


Indonesia punya beragam spesies tumbuhan. Sebagian di antaranya telah lama dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pangan, tetapi banyak pula yang belum dikembangkan secara optimal. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Wawan Sujarwo, mengungkapkan sedikitnya 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat di Indonesia berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 77 spesies merupakan sumber karbohidrat lokal. Kekayaan itu mencakup berbagai jenis umbi-umbian, kacang-kacangan, buah, sayuran, rempah-rempah, hingga tanaman pangan tradisional yang telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Potensi tersebut dapat menjadi salah satu dasar untuk memperluas pilihan pangan masyarakat. Diversifikasi pangan juga dinilai penting untuk menghadapi perubahan iklim, gangguan pasokan, serta gejolak harga dan pasar.

Pangan Lokal untuk Ketahanan Ekosistem

Menurut Wawan, pangan lokal memiliki hubungan erat dengan kondisi lingkungan tempat tanaman tersebut tumbuh. Karena itu, pembahasan ketahanan pangan tidak cukup jika hanya berfokus pada jumlah produksi.

“Pengembangan pangan lokal sesungguhnya merupakan strategi ekologis, ekonomis, sekaligus sosial. Pangan lokal mampu memperkuat ekonomi masyarakat, melestarikan pengetahuan tradisional, mengurangi jejak karbon akibat distribusi pangan yang panjang, serta menjaga keberagaman genetik tanaman yang sangat penting untuk adaptasi di masa depan. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan,” ungkap Wawan dalam Jamming Session #10 bertema “Pangan Lokal: Resolusi Ketahanan Pangan Berkeadilan dan Berkelanjutan”, Kamis (6/8).

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki pengetahuan ekologi tradisional yang berkembang bersama masyarakat dan lingkungan setempat. Pengetahuan tersebut dapat menjadi modal dalam mengembangkan pangan lokal, terutama jika dipadukan dengan data ilmiah dan kajian etnobotani.

Wawan menilai ketahanan pangan nasional selama ini kerap dipahami sebagai persoalan meningkatkan produksi. Dari perspektif ekologi, persoalannya memiliki dasar yang lebih luas karena produksi pangan bergantung pada kondisi ekosistem.

“Tidak ada pangan tanpa tanah yang sehat, tidak ada pertanian tanpa air yang tersedia, tidak ada penyerbukan tanpa keanekaragaman hayati, dan tidak ada hasil panen yang stabil tanpa iklim yang mendukung. Dengan kata lain, fungsi ekologi merupakan pondasi utama seluruh sistem pangan,” ujarnya.

Tanah dan Penyerbuk Menentukan Produksi

Kondisi tanah menjadi salah satu faktor penting dalam keberlanjutan produksi pangan. Wawan mengacu pada data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang menunjukkan lebih dari 95 persen produksi pangan dunia bergantung pada tanah yang sehat.

Persoalannya, sekitar sepertiga lahan pertanian global telah mengalami degradasi akibat erosi, penurunan kesuburan tanah, serta praktik pemanfaatan lahan yang tidak berkelanjutan.

Keanekaragaman hayati juga berperan melalui jasa penyerbukan. Sekitar 75 persen tanaman pangan dunia bergantung, baik seluruhnya maupun sebagian, pada penyerbukan oleh serangga dan satwa liar.

Penurunan populasi penyerbuk akibat hilangnya habitat dapat berpengaruh terhadap produktivitas pertanian. Karena itu, menjaga habitat dan keanekaragaman hayati memiliki kaitan langsung dengan kemampuan suatu wilayah menghasilkan pangan.

Indonesia memiliki modal ekologis yang besar karena berstatus sebagai negara megabiodiversitas. Kekayaan plasma nutfah, keragaman ekosistem, serta ribuan tumbuhan pangan lokal dapat menjadi sumber untuk mengembangkan sistem pangan yang lebih beragam dan adaptif.

Tidak Harus Mengurangi Produksi

Anggapan bahwa konservasi dapat mengurangi produksi pangan juga ditanggapi Wawan. Menurutnya, ekosistem yang sehat justru dapat mendukung produktivitas secara berkelanjutan.

Tanah dengan kandungan bahan organik yang baik, misalnya, memiliki kemampuan menyimpan air dan unsur hara. Hutan yang terjaga membantu mempertahankan siklus hidrologi dan mengurangi risiko kekeringan. Sementara itu, keanekaragaman hayati dapat menyediakan musuh alami bagi hama sehingga ketergantungan terhadap pestisida dapat ditekan.

Pendekatan seperti agroekologi, agroforestri, pengelolaan bentang alam terpadu, dan pertanian regeneratif dapat digunakan untuk menghubungkan kebutuhan produksi dengan perlindungan lingkungan.

“Ketahanan pangan dan konservasi bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua sisi pembangunan berkelanjutan yang saling menguatkan,” jelas Wawan.

Menurutnya, paradigma pembangunan pangan perlu bergeser dari mengejar produksi maksimum menuju produktivitas yang berkelanjutan. Sistem pangan perlu dirancang agar mampu menghasilkan pangan saat ini sekaligus mempertahankan kemampuan produksi untuk generasi berikutnya.

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.