Kawan GNFI, pernahkah membayangkan sebuah pagi di mana laut biru Raja Ampat menjadi latar belakang sebuah pesta yang menyatukan mahasiswa, masyarakat, aparat, dan seniman dari dua benua berbeda?
Itulah yang terjadi di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Distrik Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, Tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada Periode II 2026 Unit Sorai Waisai menggelar Festival Sorai Waisai sebagai puncak dari sebulan penuh pengabdian mereka.
Selama 50 hari, 29 mahasiswa dari berbagai fakultas di UGM telah menjalankan puluhan program kerja di tiga unit lokasi, yaitu Waisai Kota, Waigeo Barat, dan Salawati Utara. Mereka mengobati, mendidik, memetakan, melatih kader, dan membangun desa dengan tema besar "Sustainable Livelihoods Berbasis Blue Governance".
Festival Sorai Waisai adalah cara mereka menutup kegiatan ini dengan hal yang berbeda, bukan dengan upacara formal yang kaku, melainkan dengan perayaan yang hidup dan penuh makna bersama masyarakat yang telah menerima mereka seperti keluarga.
Sorai Fun Run dalam festival ini menjadi jantung acara, di mana 320 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu PKK, aparat TNI-Polri, pelajar hingga lansia berlari bersama sejauh 3 KM di sepanjang tepi pantai.
Setiap peserta mendapat kupon undian yang berhadiah perabotan, sembako, penanak nasi, hingga kipas angin. Mini games tambahan menutup sesi dengan tawa dan sorak-sorai yang memenuhi udara pagi Raja Ampat. 320 peserta yang mengikuti acara ini adalah gambaran nyata dari kepecercayaan dan kebersamaan yang telah dibangun oleh tim KKN selama sebulan.
Kawan, festival ini juga menyimpan momen lain yang tak kalah bermakna. Koordinator Mahasiswa Ihza Muhammad Wijaya menyampaikan laporan pelaksanaan KKN secara resmi kepada Asisten I SETDA Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Dr. Yosep H. W. Mirino, M.Ec.Dev.
Hadir pula Kepala Distrik Waisai, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, perwakilan Kodim 1805 Raja Ampat, Polres, Yonif 863/BB, serta Ketua Geopark Youth Forum dan perwakilan Dinas Pariwisata. Deretan nama dan institusi ini menjadi bukti atas kolaborasi yang berhasil dibangun oleh tim KKN selama masa tugasnya.
"Melalui Festival Sorai Waisai 2026 yang mengusung tema 'Sustaining Heritage, Shaping Tomorrow', kami ingin menunjukkan bahwa masa depan dibangun dari kolaborasi. Bersama masyarakat, kami merayakan budaya, menguatkan peran generasi muda sebagai agen pelestari lingkungan, serta mendukung UMKM lokal agar warisan Waisai terus hidup. Harapannya festival ini menjadi penutup yang berkesan sekaligus ungkapan terima kasih kami kepada seluruh masyarakat Waisai yang telah menerima, mendukung, dan membersamai setiap langkah pengabdian kami,” ungkap Nurmala, PIC Festival Sorai Waisai 2026.

Pemenang Duta Lingkungan Raja Ampat
Hal yang tak kalah menarik dari rangkaian festival ini adalah acara final dan nominasi duta lingkungan Raja Ampat, yaitu puncak dari program Youth Ranger Geopark yang digagas oleh mahasiswi Fakultas Hukum UGM, Rizqi Amanah.
Enam kandidat terbaik bersaing di hadapan tiga juri dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, dan Geopark Youth Forum. Kompetisi ini adalah upaya untuk melahirkan generasi muda yang dapat melanjutkan semangat untuk menjaga Raja Ampat.

Penampilan Tari Yospan
Sebagai penutup, diadakan juga panggung seni yang menampilkan berbagai pertunjukan, seperti Tari Yospan yang dibawakan oleh Gerakan Organisasi Wanita (GOW) Raja Ampat, Suling Tambur dari Serbia, dan Modern Dance yang memadukan penari Serbia dengan mahasiswa KKN-PPM UGM.
Festival Sorai Waisai menjadi pengingat bahwa KKN yang bermakna adalah program yang mampu merajut hubungan yang tulus antara mahasiswa dan masyarakat. Kawan GNFI, Raja Ampat kembali membuktikan dirinya bukan hanya surga bagi penyelam, tetapi juga surga bagi mereka yang datang dengan niat tulus untuk mengabdi dan belajar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


