Setiap tanggal 8 Agustus, 11 negara di Asia Tenggara memperingati hari berdirinya ASEAN/ ASEAN day. Di tengah dinamika geopolitik global yang dipenuhi oleh ketegangan dan pembelahan, dinamika stabilitas di kawasan ASEAN cenderung aman dan stabil.
Kondisi harmoni bisa terjadi karena hadirnya komitmen yang dibangun secara historis oleh negara-negara pendiri ASEAN melaluiTreaty of Amity and Cooperation Southeast Asia (1976)/ TAC yang disahkan di Bali, Indonesia.
TAC adalah dokumen yang memiliki sifat legally binding pertama yang disepakati oleh negara-negara anggota ASEAN dan menjadi dokumen penting hingga sekarang untuk menjaga perdamaian di kawasan ini.
Norma-norma yang tercantum dalam TAC, di antaranya penghormatan terhadap kedaulatan, non-agresi, serta penyelesaian sengketa secara damai.
Sebagai salah satu negara pencetus ASEAN, Indonesia melalui Menteri Luar Negerinya, Sugiono, memberikan Pernyataan Pers Tahunan Menteri (PPTM) 2026 pada tanggal 14 Januari 2026. Dalam ruang lingkup diplomasi di Asia Tenggara, beliau mengungkapkan untuk kembali ke tujuan awal yakni menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.
“ASEAN dibentuk untuk memastikan perbedaan dikelola melalui dialog dan kerjasama, bukan melalui tekanan atau konfrontasi,” ungkap Menteri Luar Negeri Sugiono dalam PPTM 2026 di Kementerian Luar Negeri Indonesia.
Seiring dengan pergantian zaman, ada banyak tantangan muncul yang berkaitan dengan keamanan. Ancaman non-tradisional di era kontemporer, di antaranya datang dari krisis iklim, kejahatan di ruang digital, disinformasi, hingga konflik sumber daya lokal yang membutuhkan pendekatan perdamaian yang lebih inklusif.
Menurut situs resmi ASEAN, pada tahun 2038, total orang muda diproyeksikan akan lebih dari 220 juta jiwa. Pelibatan orang muda untuk isu Youth, Peace, and Security (YPS) menjadi krusial, supaya TAC dapat tetap relevan untuk masa kini dan masa depan dalam melestarikan budaya damai di kawasan.
Mendorong Peta Jalan Youth, Peace, Security dari Wacana Menuju Aksi Nyata
Dilansir dari situs ASEAN-IPR, H.E Khaled Khiari, UN’s Assistant Secretary-General for the Middle East, Asia, and the Pacific, Department of Political and Peacebuilding Affairs menegaskan:
“Sejak diadopsinya Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2250 tahun 2015, kita telah menyaksikan di berbagai belahan dunia bahwa dengan mendorong kaum muda untuk terlibat dalam politik dan upaya perdamaian, pemerintah dapat meningkatkan solidaritas antar-generasi serta memulihkan kepercayaan terhadap berbagai institusi. Kita juga melihat bahwa aksi tingkat regional dan nasional mengenai agenda YPS merupakan instrumen penting untuk menjamin partisipasi kaum muda serta melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan terkait masa depan mereka."
Di level regional, semangat ini mendapatkan tempat di 2 pilar penting ASEAN, yakni ASEAN Political-Security Community (APSC) dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC). Kontribusi pemuda dalam menjaga perdamaian di kawasan dapat diselaraskan melalui topik berikut:
Women, Peace, and Security (WPS): Sinergi agenda WPS dan YPS di ASEAN krusial untuk mendorong partisipasi inklusif serta menangani marginalisasi ganda perempuan muda. UN Women bersama UNDP di Filipina membuat program bersama yang mencakup serangkaian program pelatihan peningkatan kapasitas bagi para pemimpin muda dan perempuan dalam hal kepemimpinan, resolusi konflik, dan skill yang relevan lainnya untuk Bangsamoro di wilayah Mindanao.
Climate, Peace, and Security (CPS): Penyelarasan agenda YPS dan CPS memberdayakan pemuda untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, pengurangan risiko bencana, serta mendorong perdamaian yang inklusif dan berkelanjutan di ASEAN. Contohnya, Kementerian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Vietnam menerbitkan laporan yang berjudul Youth for Climate Action in Vietnam 2022 yang berisi pelibatan orang muda dalam isu perubahan iklim.
Preventing and Countering Violent Extremism (P/CVE): Inisiatif ini memperkuat peran pemuda sebagai aktor perdamaian dan pemimpin inovasi pencegahan konflik di kawasan. United Nations Office for Counter-Terrorism (UNOCT) bersama dengan ASEAN Secretariat membuat program Youth Engagement and Empowerment Programme tahun 2022 di Bangkok, Tailan, kedua organisasi tersebut memfasilitasi orang muda untuk membagikan pandangan, pengalaman, serta rekomendasi dengan menggunakan olahraga sebagai alat untuk sarana pencegahan dan penanggulangan ekstremisme kekerasan.
Mengintegrasikan Orang Muda ke Dalam Agenda Perdamaian
Dalam banyak diskusi strategis, keterlibatan orang muda sering dijadikan sebatas formalitas/tokenisme belaka. Selain itu adanya tantangan terkait tentang keberlanjutan aktivisme dan pelindungan aktivis muda di lapangan yang sangat membutuhkan perhatian serius.
Tercantum dalam laporan ASEAN-IPR yang bertajuk ASEAN-IPR Regional Study on Youth, Peace, and Security yang diterbitkan bulan Agustus 2025, ada beberapa masukan untuk ASEAN agar dapat mengintegrasikan orang muda ke dalam meja perundingan keamanan kawasan:
Membentuk kelompok kerja khusus YPS
Menyusun rencana aksi nasional untuk YPS
Melembagakan representasi pemuda melalui Utusan Pemuda ASEAN dan Panel YPS
Memperkuat keterkaitan YPS dengan agenda perdamaian dan keamanan regional di ASEAN
Melaksanakan inisiatif YPS
Membentuk ‘Group of Friends’ YPS ASEAN
Melibatkan orang muda ke dalam ASEAN Community Vision Post-2025 (ASEAN Vision 2045)
Menjaga Legasi, Membangun Masa Depan
TAC sudah memberikan landasan hukum dan aturan diplomatik yang jelas untuk negara anggota ASEAN beserta High Contracting Parties selama 50 tahun terakhir. Memperingati Hari ASEAN yang ke 59 dan merayakan 50 tahun pengesahan Treaty of Amity and Cooperation berarti menegaskan kembali komitmen masyarakat ASEAN untuk perdamaian yang abadi.
Dengan melibatkan dan mendukung kaum muda untuk berpartisipasi aktif membumikan nilai-nilai TAC melalui agenda YPS, ASEAN memastikan bahwa masa depan kawasan berada di tangan generasi yang siap merawat, menjaga, dan memajukan perdamaian di kawasan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


