Pagi itu, 7 Agustus 2026, matahari sudah terik ketika kami tim KKNT Inovasi IPB berdiri di lahan di Desa Bojong. Satu di lahan milik warga, satu lagi di lahan desa.
Cangkul dan sekop berpindah dari tangan ke tangan, bibit-bibit pohon diangkut beramai-ramai, dan tanah yang selama bertahun-tahun rawan tergerus air hujan itu perlahan mulai diselimuti harapan baru.
Hari itu menjadi puncak dari sesuatu yang sudah kami rancang jauh-jauh hari: Program Penanaman Pohon (P3), sebuah upaya penghijauan berbasis agroforestri yang kami harap bisa menjawab persoalan lahan kritis yang membayangi Desa Bojong selama bertahun-tahun.
Bersama kami, ada kelompok tani hutan, petani lokal, dan pemerintah desa semua turun tangan bersama.
Berawal dari Keprihatinan yang Kami Lihat Sendiri
Sejak awal kami menginjakkan kaki di Desa Bojong, satu persoalan langsung terasa: lebih dari 200 hektare lahan di desa ini berada dalam kondisi kritis. Rinciannya, 190 hektare mengalami erosi ringan, 35 hektare erosi sedang, dan 10 hektare erosi berat akibat kikisan air hujan yang terus-menerus.
Ini bukan sekadar angka yang kami baca di laporan. Tanpa naungan pohon berkayu, air hujan yang jatuh ke tanah tidak tertahan dan langsung mengalir begitu saja, tanpa sempat meresap.
Tanah pun mengeras dan kering, kehilangan kemampuannya menyimpan air. Erosi yang meluas membuat kemampuan lahan menyerap karbon kian menurun, sementara ancaman longsor terus mengintai warga yang tinggal di sekitarnya.
Ditambah dampak perubahan iklim yang makin terasa dalam keseharian mereka, kami merasa rehabilitasi lahan ini tidak bisa ditunda lagi bukan hanya demi memulihkan fungsi ekologis, tapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Dari sanalah kami merancang program ini bukan sebagai proyek tanam-lepas biasa, melainkan sebagai sistem agroforestri yang memadukan pohon kayu keras, tanaman buah, dan tanaman kebun bernilai ekonomi dalam satu bentang lahan yang sama.
Sebelum Turun ke Lahan, Kami Duduk Bersama Warga Dulu
Sosialisasi P3 kepada Warga Desa Bojong
Kami sadar, program sebesar ini tidak bisa langsung dimulai dari cangkul. Pada 24 Juli 2026, kami lebih dulu mengadakan sosialisasi kepada kelompok tani setempat, memaparkan rencana dan manfaat program secara terbuka, sekaligus mendengar langsung masukan dari warga.
Sebelum itu pun, kami sudah lebih dulu turun untuk identifikasi dan pemetaan lahan kritis serta analisis tapak, memastikan setiap bibit yang ditanam benar-benar sesuai dengan kondisi tanah dan kebutuhan warga bukan asal tanam.
Dua minggu berselang, barulah aksi penanaman kami laksanakan serentak di dua lokasi: lahan milik warga dan lahan milik desa. Momen itu dihadiri RT dan RW Desa Bojong, Kepala Desa, pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), kepala unit terkait, hingga warga sekitar yang turut turun tangan menanam bersama kami.
Antusias Warga Desa dalam Penanaman di Lahan Kritis
Kopi, Alpukat, hingga Manglid dan Suren dalam Satu Lahan
Yang membuat kami cukup bangga dari program ini adalah pola tanam berlapis yang kami terapkan. Cara ini memadukan pohon kayu keras, tanaman buah, dan tanaman kebun bernilai ekonomi dalam satu hamparan lahan yang sama.
Di bagian pinggir lahan, kami menanam pohon kayu keras seperti manglid (Manglietia glauca) dan suren (Toona sureni) berjajar membentuk pagar hidup yang mengelilingi lahan, dengan jarak tanam 3–4 mete.
Selain jadi pembatas alami, deretan pohon ini kami harapkan mampu membentuk tutupan tajuk sekaligus memperkuat struktur tanah di sekelilingnya agar tidak mudah tergerus air hujan.
Masuk ke bagian dalam lahan, kami tanam 15 bibit alpukat (Persea americana) dengan jarak tanam 8x8 meter sebagai tanaman buah yang kami harap bisa memberi manfaat ekonomi jangka menengah bagi warga.
Di sela-selanya, kami selipkan 30 bibit kopi dengan jarak 4 meter dari pohon alpukat dan 2 meter antar tanaman kopi, menjadikannya lapisan tanaman kebun yang lebih rapat dan berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan begitu mulai berbuah.
Bagi kami, kombinasi berlapis inilah inti dari sistem agroforestri yang kami usung: pohon kayu keras di pinggir lahan menjaga kestabilan tanah dan tutupan lahan, sementara alpukat dan kopi di bagian dalam menghadirkan nilai ekonomi jangka menengah dan panjang bagi warga.
Dengan begitu, lahan kritis ini tidak hanya kami hijaukan kembali, tapi juga kami harap bisa produktif untuk masa depan warga Desa Bojong.
Harapan yang Kami Dengar Langsung dari Warga
Di sela kegiatan, salah satu warga yang hadir, Melik, sempat berbagi harapannya dengan kami. Ia berharap penanaman yang kami lakukan hari itu bisa menjadi salah satu upaya mengatasi lahan kritis kelak saat musim kemarau tiba, terutama lewat kehadiran pohon-pohon berkayu dan pola tanam berlapis yang kami terapkan dalam sistem agroforestri ini.
Mendengar itu, kami merasa harapan warga bukan tanpa alasan. Struktur tanam berlapis, dengan akar pohon kayu yang kuat mencengkeram tanah dan tanaman kebun yang menutupi permukaan lahan, kami yakini mampu menjaga kelembapan tanah lebih baik dibanding lahan terbuka biasa, sesuatu yang sangat berarti bagi warga yang selama ini bergantung pada kondisi lahan saat kemarau panjang.
Bagi Kami, Ini Baru Langkah Awal

Menanam bibit hari itu, bagi kami dan warga Desa Bojong, hanyalah permulaan. Ke depan, kami akan melanjutkan dengan serangkaian kegiatan pemeliharaan: menyulam bibit yang mati, menyiangi gulma, memupuk secara organik, hingga memantau pertumbuhan tanaman setiap bulan.
Kami menetapkan target yang cukup ambisius untuk diri kami sendiri: tingkat keberhasilan hidup tanaman minimal 85 persen, serta data monitoring pertumbuhan tanaman yang tersusun rapi secara berkala sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran baik untuk kami maupun program serupa di masa depan.
Merawat Bumi, Menumbuhkan Harapan
Lewat program penghijauan berbasis agroforestri ini, kami dari tim KKNT Inovasi IPB bersama warga Desa Bojong berharap bisa merehabilitasi lahan kritis yang selama ini menjadi beban ekologis desa, sekaligus meningkatkan serapan karbon sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.
Lebih jauh, kami berharap program ini mampu memperbaiki kualitas tanah dan tata air, serta mendongkrak produktivitas lahan yang pada gilirannya turut mendorong peningkatan pendapatan masyarakat dari hasil agroforestri di masa mendatang.
Dari dua petak lahan yang kami tanami pada 7 Agustus itu, kisah tentang desa yang berjuang memulihkan tanahnya sendiri baru saja dimulai dan kami bersyukur, warga Desa Bojong tidak menjalaninya sendirian.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


