aiesec in universitas brawijaya soroti perjalanan farid memahami arti pulang lewat pengalaman exchange - News | Good News From Indonesia 2026

AIESEC in Universitas Brawijaya Soroti Perjalanan Farid Memahami Arti Pulang lewat Pengalaman Exchange

AIESEC in Universitas Brawijaya Soroti Perjalanan Farid Memahami Arti Pulang lewat Pengalaman Exchange
images info

Farid berinteraksi dengan masyarakat lokal di lingkungan baru dan mengenalkan mengenai Indonesia. (Sumber: Internal Data of AIESEC in UB)


Bagi banyak orang, rumah adalah tempat untuk kembali setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, makna rumah sering kali baru benar-benar dipahami ketika seseorang harus meninggalkannya.

Pengalaman itulah yang dirasakan oleh Farid saat menjalani satu tahun akademik di Amerika Serikat melalui Program Pertukaran dan Studi Pemuda Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES) yang didukung oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Keputusan Farid untuk mengikuti program pertukaran tersebut berangkat dari rasa penasaran yang besar terhadap dunia. Ia ingin melihat kehidupan di luar Indonesia secara langsung, bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, dan memahami perspektif yang mungkin tidak pernah ia temui jika tetap berada di lingkungan yang sama.

Di saat yang bersamaan, ia juga membawa satu keyakinan bahwa masih banyak masyarakat internasional yang belum mengenal Indonesia secara mendalam. Baginya, exchange bukan hanya tentang belajar dari dunia, tetapi juga tentang memperkenalkan Indonesia kepada dunia.

Tinggal selama satu tahun di negara yang berbeda tentu menghadirkan berbagai tantangan. Salah satu yang paling terasa bagi Farid adalah perbedaan budaya. Sebagai seseorang yang tumbuh dengan nilai-nilai ketimuran, ia harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat Amerika yang memiliki cara berinteraksi berbeda.

baca juga

Hal-hal sederhana seperti cara menyapa orang yang lebih tua atau membangun percakapan sehari-hari ternyata memiliki norma yang tidak sama. Untuk menghadapi situasi tersebut, Farid memilih untuk banyak mengamati lingkungan sekitarnya terlebih dahulu sebelum menentukan cara bertindak yang tepat.

Selain budaya, tantangan lain datang dari perbedaan bahasa dan makanan yang harus dihadapi setiap hari. Meski tidak selalu mudah, pengalaman tersebut justru membentuk kemampuan adaptasi yang lebih kuat.

Seiring berjalannya waktu, Farid menyadari bahwa dirinya mampu bertahan dan berkembang di lingkungan yang sebelumnya terasa asing. Ia belajar menjadi lebih mandiri, lebih percaya diri, dan lebih mengenal dirinya sendiri.

Namun, pelajaran terbesar yang ia dapatkan selama menjalani exchange justru muncul dari hal yang paling sederhana: kerinduan terhadap rumah. Perbedaan waktu antara Indonesia dan Amerika Serikat membuatnya sering melewatkan berbagai momen bersama keluarga.

Ada banyak cerita, perayaan, dan kebersamaan yang tidak bisa ia ikuti secara langsung. Dari situlah ia mulai menyadari bahwa hal-hal yang selama ini dianggap biasa ternyata memiliki nilai yang sangat berarti.

Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya tentang arti rumah. Menurut Farid, rumah bukan sekadar lokasi geografis atau bangunan tempat seseorang tinggal. Rumah adalah tempat yang menghadirkan rasa nyaman, penerimaan, dan ketenangan.

Karena itu, rumah tidak selalu terbatas pada satu tempat. Rumah dapat ditemukan melalui orang-orang, hubungan, dan pengalaman yang membuat seseorang merasa menjadi dirinya sendiri.

Farid mengabadikan momen bersama exchange participants lain nya yang dianggap “rumah”. (Sumber: Internal Data of AIESEC in UB)
info gambar

Farid mengabadikan momen bersama exchange participants lain nya yang dianggap “rumah”. (Sumber: Internal Data of AIESEC in UB)


Ketika diminta merangkum pengalamannya dalam satu pelajaran hidup, Farid mengatakan bahwa satu tahun yang ia jalani terasa seperti menjalani kehidupan selama bertahun-tahun. Baginya, keberanian untuk mencoba adalah awal dari setiap perubahan.

Seseorang mungkin tidak selalu mendapatkan hasil yang diharapkan, tetapi selalu memperoleh pelajaran yang akan membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Seperti yang ia ungkapkan, "ketika kita berani mencoba, hanya ada dua kemungkinan: berhasil atau belajar."

Semangat yang sama juga menjadi nilai yang terus dihadirkan AIESEC in Universitas Brawijaya melalui berbagai kesempatan pengembangan diri, salah satunya Outgoing Global Volunteer. Program ini membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat dalam proyek sosial lintas negara, hidup berdampingan dengan budaya yang berbeda, sekaligus belajar memahami dunia melalui pengalaman secara langsung.

baca juga

Lebih dari sekadar menjadi relawan di luar negeri, setiap perjalanan merupakan kesempatan untuk mengenal diri sendiri, membangun empati, dan memperluas cara pandang terhadap kehidupan.

Pada akhirnya, perjalanan ke luar negeri bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi tentang bagaimana perjalanan itu mengubah cara seseorang memandang rumah, keluarga, dan dirinya sendiri.

Kisah Farid menunjukkan bahwa terkadang kita memang perlu pergi jauh untuk benar-benar memahami arti pulang. Sebab semakin luas dunia yang kita lihat, semakin besar pula kesempatan untuk kembali dengan perspektif baru dan menjadi versi diri yang lebih baik.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.