ai tak hanya menerjemahkan bahasa signwave rancangan itb bisa bantu siswa tuli berkomunikasi dua arah - News | Good News From Indonesia 2026

AI Tak Hanya Menerjemahkan Bahasa, SignWave Rancangan ITB Bisa Bantu Siswa Tuli Berkomunikasi Dua Arah

AI Tak Hanya Menerjemahkan Bahasa, SignWave Rancangan ITB Bisa Bantu Siswa Tuli Berkomunikasi Dua Arah
images info

Kamera pada perangkat SignWave menangkap gerakan bahasa isyarat siswa sebelum diproses dan diubah menjadi suara agar bisa langsung dipahami guru.


Hifzhi Dinullah tahu betul bagaimana sulitnya teman Tuli untuk mengikuti pelajaran di kelas. Mereka hanya mengandalkan gerak bibir dosen untuk mengikuti materi. Sedangkan ketika akan bertanya, mereka harus menulis di kertas.

"Proses membaca bibir dan menulis manual di kertas sangat menyulitkan siswa serta memakan waktu," kata Hifzhi, dikutip dari laman resmi ITB, Selasa (23/6/2026).

Dari pengamatan itu, bersama dua temannya, William Gerald Briandelo dan Fairuz Apiulla Rahagi, Hifzhi membangun SignWave. SignWave adalah alat bantu komunikasi dua arah berbasis AI. Alat ini ditujukan untuk membantu siswa Tuli berkomunikasi dengan guru di sekolah reguler.

baca juga

Bukan Cuma Menerjemahkan, tapi Bisa Mendengarkan

Keunggulan SignWave dibandingkan alat bantu lain adalah kemampuannya menerjemahkan komunikasi dua arah.

Saat siswa Tuli menggunakan bahasa isyarat, kamera SignWave akan menangkap gerakannya. Sistem kemudian menerjemahkan menjadi suara yang bisa didengar guru.

Sebaliknya, ketika guru berbicara, mikrofon SignWave menangkap suara tersebut dan mengubahnya menjadi teks di layar. Siswa kemudian bisa membacanya.

Jadi, siswa bisa menyampaikan sesuatu dengan bahasa isyarat, sementara guru tetap bisa berbicara seperti biasa. Keduanya kemudian dipertemukan lewat satu perangkat yang terdiri dari kamera, mikrofon, layar, dan komputer mini.

baca juga

Seberapa Cepat dan Seberapa Akurat?

Berdasarkan data yang dirilis ITB, sistem isyarat-ke-suara punya akurasi minimal 80%, dengan jeda maksimal 10 detik sebelum suara keluar.

Sistem suara-ke-teks sedikit lebih cepat, jeda maksimal 5 detik, akurasi juga 80%. Keduanya sanggup nyala terus minimal 135 menit sehingga pas untuk satu jam pelajaran plus istirahat.

Saat ini, kosakata bahasa isyarat yang sudah tersimpan di sistem baru 86 kata. Akan tetapi, penggunanya bisa menambah sendiri kosakata baru sesuai kebutuhan.

Cara kerja SignWave
info gambar

Cara kerja SignWave


Tim bahkan sudah mengujinya untuk istilah-istilah yang bukan percakapan sehari-hari, seperti aljabar matematika, sampai transistor NPN, salah satu komponen dasar di dunia elektro.

Yang menarik, alat ini pemrosesannya jalan langsung di perangkat, bukan lewat server internet. Artinya, sekolah di daerah 3T—Tertinggal, Terdepan, Terluar—yang selama ini minim akses Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah inklusif, tetap bisa pakai alat ini tanpa harus memerlukan jaringan bagus.

baca juga

SignWave Bukan Inovasi Tunggal, Sebelumnya Sudah Ada dan Terus Dikembangkan

Kawan, berbagai inovasi untuk membantu teman Tuli berkomunikasi sudah dikembangkan sejak beberapa tahun belakangan.

BRIN, misalnya, sejak 2023 mengembangkan penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) lewat analisis video. Edy Maryadi, Perekayasa Ahli Muda dari Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN, bilang riset ini lahir dari masalah yang konkret.

"Pengembangan sistem ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antara teman tuli dan teman dengar," kata Edy.

Sistemnya pakai model AI bernama Convolutional Neural Network (CNN). Ini adalah teknologi yang biasa dipakai buat membaca pola dalam gambar atau video, semacam cara kerja yang dipakai HP untuk mengenali wajah saat buka kunci layar.

Target pengembangannya bertahap. Tahun 2023 fokus mengenali huruf dan angka, 2024 merambah ke ejaan, 2025 ditargetkan sudah bisa mengenali kata dan frasa utuh. Sekarang publik bisa coba demonya di biproject.brin.go.id.

Lalu ada Tulibot, bikinan mahasiswa PENS Surabaya. Teknologi ini berbentuk kombinasi sarung tangan pintar dan kacamata pintar, Tulibot sempat menyabet First Runner-Up di Microsoft Imagine Cup Asia Regional Competition 2020, medali emas di ajang Korea Selatan 2019, masuk Top 10 dari 98 negara di Google Solution Challenge 2020, sampai Juara 2 di ASEAN Social Enterprises Development Program 2.0 di Singapura.

Jika dilihat dari inovasi-inovasi tersebut, mulai SignWave, BISINDO, sampai Tulibot, dapat disimpulkan bahwa makin banyak anak muda Indonesia yang kini menggunakan AI untuk dikembangkan menjadi alat bantu di dunia pendidikan. Bukan hanya sebagai pengguna, tapi juga pengembang.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.